Menyikapi Jerat Hitam Putih Media dari Dalam RumahJerat Hitam Putih Media. Media adalah agen sosialisasi, tempat seseorang belajar akan nilai dan norma yang ada di masyarakat. Bagi anak, media menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya. Di antara berbagai media, TV dan internet adalah media sosialisasi yang bisa jadi sangat berpengaruh, mengingat anak dan remaja mengaksesnya secara rutin. Bahkan sekarang sudah menjadi suatu kebutuhan layaknya sandang, pangan, dan papan.

Sebagaimana anak-anak, mereka bisa belajar dari mana saja, salah satunya media TV dan internet. Teori yang menjelaskan bagaimana efeknya dalam perilaku belajar yaitu Social Learning Theory (Teori Belajar Sosial) atau Observational Learning, merupakan pendekatan yang melihat media sebagai agen powerful yang mengarahkan perilaku manusia. Singkatnya, teori ini melihat bahwa orang dapat meniru tindakan yang diamatinya dari media. Media memberikan role model untuk bertingkah laku.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sarah Coyne dari University of Central Lanchashire, anak yang terlalu banyak melihat program yang penuh dengan tokoh-tokoh yang saling menghujat, mencela, dan, menyebarkan gosip, memungkinkan mereka menggunakan bentuk agresi tersebut dalam perilaku mereka (dalam Orange & O’Flynn, 2007). Terbayang betapa sinetron remaja kita berisi muatan yang tidak mendidik. Tokoh-tokoh yang suka menghina orang lain, menyebar gosip, dan berbagai kejahatan lainnya, tersaji di sinetron remaja. Bahkan perilaku bullying dilakukan dalam lingkungan sekolah. Jika orangtua tidak peka, tidak menyeleksi tontonan yang pantas, bisa jadi hal negatif tersebut menjadi lebih lumrah di pikiran anak. Dimana mengolok-olok orangtua itu wajar, mengejek orang bertubuh gemuk atau pendek itu boleh, berpakaian seronok itu keren, atau merokok adalah perilaku yang ‘cool’ dan dewasa.

Bukan hanya tayangan televisi, namun juga game. Contohnya Grand Theft Auto (GTA), game popular bahkan di kalangan anak SD! Konten game ini berisi perilaku menyakiti orang lain, justru dengan bertindak menyakiti, player mendapat nilai. Hati nurani dibuat untuk melihat kekerasan adalah suatu hal buruk, benar-benar ditumpulkan di game-game kekerasan. Betapa media kita telah dicengkeram oleh bisnis oknum tertentu yang hanya mencari keuntungan semata.

Krisis moral dan aksi kriminalitas yang menimpa bahkan dilakukan anak-anak bisa menjadi peringatan kepada kita akan tiba masanya bencana besar. Jika orangtua membiarkan anak jauh dari pengasuhan terbaik, asyik diasuh oleh pergaulannya, dan dimanjakan oleh internet. Teknologi tanpa bimbingan bagai sebilah pisau tajam, kapan saja bisa menjadikan mereka ‘predator kecil’ bagi orang yang bisa mereka kuasai, yaitu adik atau teman sebaya di sekitar mereka sendiri.

‘Hitam’-nya media memberikan sederet dampak buruk yang kadang tidak bisa dibendung oleh orangtua. Pakar efek media Elizabeth Perse (2008) mengemukakan bahwa media tak ubahnya seperangkat keterampilan yang diperlukan untuk membedakan realitas dari fantasi dalam isi media itu sendiri. Keterampilan ini sangat dibutuhkan untuk menghalangi terjadinya efek negatif media. Dan keterampilan ini bisa dibangun oleh para orangtua dari dalam rumah.

Keterampilan literasi media mencakup beberapa pengetahuan. Pertama, pengetahuan tentang adanya beragam jenis program di media, seperti perbedaan antara berita, iklan, komedi, dan drama. Orangtua dapat menumbuhkan pemahaman akan hal tersebut di benak anak ketika iklan muncul di TV, misalnya mengatakan, “Wah, iklan lagi!”. Anak akan belajar bahwa iklan terpisah dari program utama yang sedang ditontonnya.

Kedua, pengetahuan tentang bagaimana program-program itu dikonstruksi. Dalam hal ini, orangtua dapat membincangkan tentang naskah, proses editing, dan special effects. Misalnya, membicarakan betapa hebatnya special effects yang diterapkan di film populer. Sebelumnya orangtua harus mencari tahu dan menilai suatu film sebelum menyajikan dan membuka diskusi bersama anak.

Ketiga, pengetahuan tentang iklan. Ungkapkan berapa yang harus dibayar produsen agar iklannya dapat ditayangkan di stasiun TV, laman internet, misalnya (orangtua menyinggung aspek ekonomi). Atau mengobrol seru soal kampanye politik saat melihat berita di televisi (orangtua memberikan pemahaman politik pada anak). Bahkan orangtua bisa membincangkan proses kreatif dari sebuah iklan, peluang kerja didalamnya. Sekaligus memperkenalkan pada anak bahwa ada pekerjaan yang menjanjikan selain menjadi seorang dokter dan guru.

Keempat, pemahaman bahwa media adalah institusi bisnis yang mencari keuntungan. Di sini, orangtua bisa bercerita bagaimana iklan mendatangkan keuntungan bagi media, tentang harga iklan yang amat mahal (apalagi kalau media itu jangkauannya luas dan banyak dikonsumsi orang), rating, dan sebagainya.

Kelima, pemahaman bahwa fokus media adalah hiburan. Orangtua dapat mengangkat topik obrolan, misalnya, mengapa banyak isi televisi berupa hiburan ketimbang isi yang serius. Atau, mengapa berita di TV harus dihiasi oleh musik.

Pengetahuan-pengetahuan di atas mengarahkan orangtua untuk lebih sadar dan kritis dalam memfasilitasi media bagi anak. Diharapkan bukan saja orangtua yang sadar kritis terhadap media, namun anak juga melek akan media. Jika kesadaran ini dibangun sejak dini, seiring pertumbuhan anak, keterampilan literasi media anak akan ikut berkembang. Mereka akan bisa menilai mana isi media yang bagus dan yang tidak, termasuk menangkap pesan nyata maupun tersirat dari isi media. Hal ini sangat penting, karena anak-anak sekarang sulit melepaskan diri dari jerat media.

Pendampingan orangtua dalam perjalanan anak mengenal media dari rumah, dalam suasana hangat dan ringan namun mencerdaskan membawa manfaat lain bagi anak. Bukan hanya memperoleh kemampuan literasi media lebih unggul dibanding anak lainnya, tapi juga memperkaya kosakata mereka, seperti kata “rating”, “documenter”, “editing”, “special effects”, dan sebagainya. Dengan begitu, diharapkan anak-anak pun siap mengarungi ‘hitam-putih’ media dengan perbekalan yang cukup dari dalam rumah.

Kontribusi Pembaca

Oleh Binti Mufidatul

(Mahasiswi Psikologi Universitas Mulawarman sekaligus Sekretaris Departemen Syiar Media Pusdima Unmul)