Mengenal Apa Itu Gangguan Disleksia

Mengenal Secara Mendalam Apa Itu Gangguan Disleksia

Posted on

DisleksiaDisleksia – Anda pernah menonton film India berjudul ‘Tare Zameen Par’? Dalam film tersebut mengungkapkan mengenai kesulitan belajar seorang anak yang tak mampu membaca dan mengeja. Menurut Ihsan (anak dalam film tersebut) huruf-huruf abjad yang terpampang dalam text book seperti menari-nari dan berputar-putar. Anda yang tidak memiliki gangguan ini, merasa lucu mendengar jawaban tersebut. Atau bahkan untuk kalangan awam, berpikir bahwa anak itu bodoh! Dengan usia yang anak normal sudah mampu untuk membaca, sedangkan anak ini mengeja saja salah melulu.

Bukan! Dia bukan anak yang bodoh. Hanya saja ia memiliki gangguan dalam mengeja sehingga kemampuan untuk membaca nol. Ia juga akan mengalami kesulitan dalam mengingat huruf. Disitulah timbul gangguan yang dinamakan Disleksia.

Ada dua jenis gangguan disleksia :

  1. Developmental Dislexia

Gangguan disleksia yang terkena sejak lahir akibat faktor genetis. Sehingga tidak bisa disembuhkan. Gangguan ini menghambat kemampuannya untuk membaca, berhitung, menulis, dan aspek verbal lainnya. Meski tak ada obat yang mampu menolongnya, anda bisa meminimalisir hambatan tersebut dengan pendekatan-pendekatan khusus.

2. Acquired Dyslexia

Gangguan yang mulai menyerang manusia menjelang usia dewasa. Mereka akan mengalami cidera otak bagian kiri, sehingga menyebabkan gangguan disleksia. Tandanya adalah ketika dewasa tersebut memproses informasi, ia harus membutuhkan waktu yang lebih lama dari manusia pada umunya. Selain itu mereka juga akan mengalami kesulitan pengorganisasian. Misalnya ia mengingat untuk memakai sepatu, namun lupa memakai kaos kaki

Penyebab dan Gejala Serta Penanganan Gangguan Disleksia

Penyebab utamanya adalah ada ketidaknormalan atau gangguan termasuk cidera didalam sistem syaraf pusat otak (gangguan neurobiologis) yang implikasinya pada kesulitan berbicara, membaca, menulis, dan berhitung. Kemungkinan terbesar (menurut penelitian terakhir sebanyak 70%) orang anak menderita gangguan ini karena faktor genetic atau bawaan. Sehingga jika dalam garis keturunannya ada yang menderita gangguan ini, kemungkinan besar anak cucunya atau saudara lainya juga akan mengidap gangguan yang sama. Sedangkan sisanya 30% berdasarkan factor lain seperti ada luka di dalam otaknya (brain injury), atau ada zat biokimia dalam sel syaraf otak yang mengganggu perkembangan.

Individu yang mengidap gangguan ini kebanyakan menimbulkan gejala yang tidak pasti. Misalkan ia susah untuk membedakan kata ‘paku’ dan ‘palu’. Atau bisa saja ia menulis angka 4 dengan huruf ‘h’. Kesulitannya mengidentifikasi huruf dan angka membuatnya lamban.

Apalagi dalam hal mendikte, anak harus berpikir berulang kali untuk memahami informasi yang baru ditangkapnya. Lalu ia harus menuangkan informasi tersebut dalam catatan. Akibat kurangnya memori verbal menjadikanya tak bisa memahami atau mengolah informasi yang ditangkap.

Gejala umum akan lebih mudah dilihat ketika anak memasuki usia cukup besar atau sudah masuk dalam bangku sekolah. Dimana mengharuskan untuk membaca dan menulis. Misalnya :

  • Kurang mampu mengerti dan mengolah kata seperti mencampur adukan kata-kata atau frasa
  • Memerlukan waktu yang cukup lama ketika belajar bunyi abjad
  • Kurang memiliki kepercayaan diri saat membaca buku
  • Lemah dalam menghafalkan urutan (seperti abjad atau hari), nama, dan objek
  • Sulit mengidentifikasi huruf dan angka seperti terbalik antara angka 4 dan h
  • Lama memproses informasi baru sehingga pemahaman hal baru sangat kurang
  • Lama mengolah informasi ke dalam tulisan seperti saat di dikte
  • Kepekaan fonologi jongkok
  • Kemampuan berhitung dan berbahasa yang sangat kurang
  • Lamban dalam memahami rima atau pengulangan bunyi dan irama atau ritme lagu
  • Suka mendengar cerita, namun enggan untuk membaca sendiri karena harus berhadapan dengan huruf dan kata
  • Tulisan tangan yang jelek, tidak teratur seperti huruf kadang diatas kadang dibawah, dan susah dibaca

Seorang anak yang menderita gangguan disleksia memiliki kemampuan yang luar biasa dibidang lain. Siapa sangka ilmuan penemu lampu, Thomas Alfa Edison, pelukis dunia yang terkenal dengan lukisan Monalisa, Leonardo da Vinci, serta actor dunia terkenal seperti Tom Cruise ternyata juga memiliki gangguan disleksia. Namun prestasi besar yang dibuatnya membuat orang-orang mengabaikan gangguannya dalam membaca.

Anda bisa mengetes dengan berbagai permainan yang merangsang kemampuan kognitif. Misal dengan bermain puzzle, menggambar, mewarnai, dan berimajinasi. Mintalah bantuan dari guru kelas yang mendampinginya serta memantau terus perkembangannya. Siapa tahu anak anda adalah ‘the next’

Untuk mendiagnosis gangguan ini, Dokter maupun Psikolog membutuhkan informasi lengkap seperti :

  • Perkembangan Individu yang meliputi riwayat pendidikan serta kesehatan
  • Kondisi Individu saat di rumah, sekolah, dan pergaulannya dengan orang lain
  • Pengisian kuosioner oleh anggota keluarga dan guru pendamping
  • Tes Pemeriksaan yang meliputi membaca, berhitung, kemampuan mengingat, dan kemampuan verbal
  • Tes Kesehatan seperti penglihatan, pendengaran, dan neurologi untuk mengecek kenormalan fungsi auditori dan visual. Kemungkinan terbesar jika terjadi ketidaknormalan, maka ada factor lain yang menjadi penyebab gangguan tertentu
  • Tes Psikologi untuk mengetahui kondisi kejiwaan pada anak. Misal adanya kecemasan, depressi, tekanan atau disorder lain yang menghambat pertumbuhan anak.

Dengan adanya diagnosis, maka Dokter akan memberikan penanganan pas sesuai dengan kondisi anak. Sehingga penderita bisa menjadi lebih baik keadaannya. Gangguan ini memang tak ada obatnya. Karena pada dasarnya, suatu gangguan merupakan ketidaknormalan fungsi tubuh secara genetis. Hanya saja ada penanganan khusus untuk mengurangi atau mengatasinya untuk dilakukan terapi disleksia.

Salah satu penanganan untuk anak Disleksia adalah dengan pemberian perhatian khusus secara intensif. Sehingga porsi belajar untuk mengingat huruf atau abjad memerlukan waktu lama dan panjang. Usahakan kondisi anak yang selalu stabil dalam keadaan yang menyenangkan. Jadi anda dapat mengajari anak di outdoor dengan permainan. Sehingga anak akan mengingat huruf tersebut lewat pengalaman bermainnya.

Menurut penelitian, pemberian edukasi secara intensif lebih baik di kala usia anak masih dibawah 8 tahun. Dan orientasi lebih pada pemantapan membaca dan menulis. Mulailah pengenalan abjad, menghafal, lalu diajarkan untuk mengeja. Selain itu dilatih secara kontinyu untuk menulis huruf. Lebih didalami untuk beberapa huruf yang memiliki karakteristik yang hampir mirip. Seperti huruf b dan d, huruf a dan e, huruf m dan n, huruf m dan w, dan lain sebagainya.

Untuk mengasah kemampuan verbal, anda dapat memulai dengan membacakan cerita yang disukainya. Misal untuk anak perempuan lebih memfavoritkan cerita dongeng, khayalan, fantasi, seperti puteri kerajaan, Barbie, dan princessa. Sedangkan untuk anak laki-laki lebih menjurus ke yang adventure, seperti kisah perjalanan di suatu Negara yang sangat menakjubkan, atau cerita luar angkasa. Itulah beberapa ulasan mengenai gangguan disleksia. Semoga membantu.

Akibat dari Gangguan ini

Disleksia : Ketidakmampuan Individu dalam Membaca Dengan BaikDisleksia merupakan salah satu gangguan psikologis yang masuk ke dalam segmen gangguan belajar. Disleksia, atau yang dalam DSM-IV dikenal dengan nama reading disorder merupakan ketidakmampuan atau kesulitan seseorang dalam membaca, menulis, dan juga melafalkan suatu kata dengan baik. Gangguan ini umum muncul ketika seorang anak mulai masuk di usia sekolah. untuk dapat melihat dan memastikan seseorang mengalami disleksia atau tidak, ada beberapa kriteria yang harus terpenuhi, antara lain adalah :

  1. Kemampuan membaca yang kurang

Kemampuan membaca yang kurang bisa terlihat dari tes-tes membaca yang diberikan baik secara formal maupun informal. Beberapa sub tes formal, seperti Stamford-Binet mampu melihat apakah seorang anak mengalami disleksia atau tidak.

Cara lainnya, anda juga bisa memberikan cerita sederhana kepada si anak, dan meminta si anak membacanya. Apabila terdapat kesulitan dan banyak kesalahan membaca yang tidak sesuai dengan usia kronologis anak, maka kemungkinan si anak bisa saja mengalami disleksia.

  1. Mempengaruhi nilai secara akademis

Mereka yang mengalami disleksia, akan mengalami masalah akademis yang cukup signifikan. Disleksia dapat di diagnosa sebagai gangguan belajar ketika masalah kemampuan membaca seorang anak membuat nilai-nilai akademis si anak turun drastis. Karena hampir semua pelajaran membutuhkan membaca, maka kemungkinan si anak memiliki nilai akademis yang buruk hampir di seluruh mata pelajaran.

  1. Disleksia akan semakin parah ketika terjadi gangguan sensoris

Ada kemungkinan seseorang mengalami disleksia disertai dengan gangguan sensoris, misalnya kelainan saraf. Ketika hal ini terjadi, maka gangguan belajar yang dialami akan menjadi semakin parah dan sangat terlihat.

Secara umum, disleksia biasanya muncul pada mereka yang secara fisik terlihat normal, seperti mata yang tidak minus maupun inteligensi yang berada di kisaran rata-rata. Seseorang tidak bisa dikatakan mengalami gangguan belajar disleksia ini apabila memiliki kondisi psikologis yang lebih dominan, misalnya ADHD, Autisme, ataupun Retardasi mental. Asumsinya adalah, seorang anak yang mengalami gangguan psikologis seperti ADHD, Autisme, ataupun Retardasi mental sudah memiliki kemampuan yang kurang di bidang akademis, dan pastinya akan mempengaruhi kemampuan masing-masing anak, termasuk di bidang membaca.

Gangguan membaca atau disleksia ini biasanya akan disimpulkan ketika si anak memiliki skor IQ yang normal, artinya sang anak memiliki nilai IQ yang rata-rata dan tidak memiliki masalah seperti mata minus yang menghambat seseorang membaca dengan baik dan benar.

Disleksia secara bertahap bisa “disembuhkan” dengan latihan terus menerus. Ketika seorang anak sudah dapat dibiasakan untuk berlatih membaca, maka secara perlahan tapi pasti, gangguan belajar ini akan hilang, atau paling tidak lebih baik dari sebelumnya.

Mengenal Gangguan ini Pada Anak

Mengenal Gangguan Disleksia Pada AnakMengenal Gangguan ini pada Anak– Banyak dari orang yang mungkin belum mengerti tentang apa itu disleksia. Bahkan beberapa kalangan pendidik sekolah formal pun tak sedikit yang belum mengetahui dan memahami apa itu gangguan disleksia.

Secara umum disleksia merupakan sebuah gangguan pada penglihatan maupun pendengaran yang di sebabkan oleh kelainan pada syaraf otak, sehingga anak mengalami kesulitan dalam hal membaca. Atau dapat pula diartikan sebagai ketidakmampuan belajar neurologis yang diakibatkan oleh ketidakmampuan fungsi otak untuk menerjemahkan informasi (visual dan Auditorial) yang tengah diterima oleh mata dan juga telinga ke dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh anak tersebut.

Anak-anak yang mengalami disleksia bukan berarti ia buta ataupun tuli. Mereka sama seperti pada anak umumnya memiliki kemampuan untuk mendengar, namun mereka tak mampu untuk menuliskannya ke dalam bentuk tulisan di atas kertas. Mereka mungkin memahami beberapa kata-kata yang telah didengarnya, akan tetapi mereka memiliki kesulitan dalam hal penulisan ulang dan juga memiliki kebingungan dengan susunan huruf-huruf tersebut. Atau pun setiap kali mereka sedang membaca sering kali melewatkan beberapa huruf, frasa, suku kata dan lain sebagainya. Mereka membaca seperti huruf-huruf yang melompat terbalik-balik.

Disleksia ini disebabkan oleh beberapa faktor genetis. Tak harus langsung dari orang tua kemungkinan, namun bisa jadi di turunkan oleh kakek maupun nenek, atau bahkan buyut mereka. Sekitar hampir 5% sampai 10% anak-anak di seluruh dunia mengalami gangguan disleksia ini.

Anak-anak yang mengalami disleksia tak selalu bodoh dalam hal belajar. Karena di beberapa kasus bahkan ada anak yang mengalami disleksia, namun memiliki IQ di atas rata-rata atau tinggi daripada anak yang tidak memiliki gangguan disleksia.

Pada dasarnya mereka yang menyandang disleksia merupakan orang yang memiliki ketajaman secara visual, instusi tinggi dan seorang pemikir yang multi dimensional. Apa yang dialami mereka mungkin adalah kecacatan dari segi sistem saraf. Bukan kecacatan secara kemampuan intelektual. Hal ini lah yang sering mengakibatkan kesalahpahaman bahwa anak-anak yang mengalami disleksia tak mampu membaca maupun menulis atau bahkan sering di anggap bodoh.