Makna Pengakuan Dalam Sebuah Hubungan

Makna Pengakuan Dalam Sebuah Hubungan

Posted on

Makna Pengakuan Dalam Sebuah HubunganMakna pengakuan dalam sebuah hubungan – Ada yang bilang cinta tak membutuhkan pengakuan, namun cukup dengan bersatunya perasaan. Hal ini didasari oleh kenyataan yang memperlihatkan bahwa, tanpa adanya pengakuan pun, toh antar dua insan telah saling memiliki ikatan perasaan. Berbeda halnya dengan sebuah pengakuan yang cendrung hanya sebatas seremonial agar di akui, di ketahui bahwa mereka saling mencintai. Ini juga tidak salah..

Ada hal yang menarik mengenai sebuah pengakuan dalam hubungan percintaan ini, yang mana salah satu yang menarik adalah intensitas perbedaan dalam penyikapan, antar dua pasangan. Terkadang pasangan yang satu enggan untuk mengutamakan pengakuan dan condong cukup dengan bersatunya dua perasaan tanpa adanya publikasi pengakuan. Di sisi lain, ternyata pasangannya justru ingin hubungannya di publikasikan agar mendapatkan pengakuan.

Jika salah satu di antara keduanya tidak saling setuju dan ngotot untuk bersikukuh mempertahankan argument, tak jarang hal tersebut dapat menimbulkan pertentangan dan kesalahpahaman. Seperti layaknya kesalahpahaman metode memakan coklat. Kamu suka yang langsung, aku suka yang dingin. Yassalam sungguh merepotkan.

Ngambek sana, ngambek sini adalah hal yang lumrah terjadi dalam menjalani hubungan. Selama masih dapat meredam egoisme satu pihak, tentu hubungan yang di bina akan mampu terhindarkan dari tragedi perpisahan. Bahkan sekaliber hubungan pernikahan pun, godaan tak jua surut hanya dikarenakan perbedaan dalam pengakuan ini. Entah perbedaan dalam pengasuhan anak, tempat tinggal, metode mendidik anak, hingga temuan-temuan foto masa lalu yang “membahagiakan” salah satu pasangan misalnya ketemu foto mantan.

Dari kubu suami, tidak senang jika aktivitas quality time di upload di dunia maya, sedangkan sang istri berhasrat untuk mengabadikan momen ini dalam akun path, atau instagramnya. Atau misalnya suami, sangat senang mengabadikan momen perjalanan berlibur, atau makan siangnya dalam akun snapgram-nya, sedangkan sang istri enggan untuk ikut-ikutan di dalamnya.

Salah satu ngotot, dan salah satu tersulut otot, maka jadilah saling ngambek hingga beberapa hari kedepan. Enak? Tentunya tidak kan. Mau manggil dengan panggilan sayang pun “gengsi” yang dirasakan.

Untuk mereka yang tidak ekspresif, terkadang cara menyampaikan protes pun hanya cukup dengan diam, datar, tanpa reaksi.

Sedangkan bagi merkea yang ekspresif, alamat ngomel tujuh hari tujuh malam pun tak bakal kelar, sebelum didatangkan pawang “syaitan”. Terlalu ekstrim ya? Pawang “syaitan” yasudah gunakanlah minuman Teh yang katanya ampuh meredakan haus walaupun di kondisi, dan apapun makananya.

Minum saja itu, tentu akan semakin dhasyat penjualan mereka. Atau jika sedikit hemat, bawa santai aja….

Makna pengakuan dalam sebuah hubungan

Melihat fenomena yang terjadi, penulis tidak menyalahkan salah satu pendapat yang mana, yang benar atau yang mana yang salah. Namun jika ditelisik secara mendalam,  sebenarnya urgensi cinta yang disemai adalah yang paling penting daripada itu semua. Baik itu ada atau tidaknya pengakuan di belakangnya. Selama tidak menyusahkan, dan membahayakan mengapa tidak mengikuti apa yang dimau oleh pasangan.

Kalau mau melihat kebelakang, tentang adanya wali saat pernikahan tentu kita sadar, bahwa ternyata hubungan cinta atau apapun bentuknya juga membutuhkan pengakuan bukan?

Resepsi pernikahan pun oleh sebagian adat, menjadi bukti pengakuan lain, selain pengakuan cinta yaitu pengakuan tentang status kekayaan.

Pasangan sedang diincer orang lain, jika tidak sigap berusaha menghalaunya dengan saling menjaga perasaan beserta jurus pamungkas pengakuan pun akan sulit untuk dipertahankan.

Jika satu atau duakali, memperlihatkan bukti pada khalayak ramai sebenarya tidak mengapa. Yang menjadi masalah jika kontent yang di perlihatkan adalah hal-hal yang menjurus pada privasi.

Jika yang bersiaga untuk melihat celah adalah kaum wanita, mungkin dengan bahasa dan sikap saja mereka akan memahami status yang sedang “diincernya”. Tak butuhlah pengakuan. Namun jika yang bersiap melihat celah adalah pria, tentu strategi lain yang harus dilakukan. Karena kecendrungan kaum pria adalah, merkea baru akan sadar, jika pasangan yang diincarnya telah memiliki pasangan lain jika diinfokan secara langsung, atau bukti yang menguatkan segalanya. Direct pengakuan.

Karena pria sebagian besarnya adalah memiliki sisi pantang menyerah dalam mengejar cinta yang di kehendakinya, sebelum orang yang dicintainya tersebut mengungkapkan secara terang-terangan jika ia telah memiliki pasangan. Baik secara lisan ataupun bukti pengakuan itu sendiri.

Rumitnya perbedaan penyikapan inilah yang terkadang harus di perhatikan oleh setiap insan yang menjalin hubungan. Fakta pengakuan adalah hal yang sama pentingnya dengan keterikatan perasaan.

Dengarkanlah pasangan kalian, yang sedang resah, khawaitr, atas perasaannya selama ini. Karena insting setiap orang yang saling mencintai kuat dirasa. Jika Anda enggan untuk saling mendengarkan keresahan dan kekhawatiran maka jangan menyesal jika suatu saat, ia enggan untuk berkeluh kesah dan meminta apa yang diharapkannya kepada Anda. Karena jika hal tersebut terjadi, berarti ia telah menemukan “tempat” baru untuk berkeluh kesah dan menyampaikan harapan. Sebab makna pengakuan juga tak sekedar cukup berkaitan dengan hal sepele belaka.

Untuk itulah yuk mari bijak dalam memahami makna pengakuan dalam sebuah hubungan, agar cita-cita dan visi bersama dahulu dapat tercapai sesuai harapan. By: Muhamad Fadhol Tamimy