Hati-hati Dengan 5 Ucapan ini Karena Dapat Memperburuk Perkembangan Psikologis Anak

Hati-hati Dengan 5 Ucapan ini Karena Dapat Memperburuk Perkembangan Psikologis Anak

Posted on

Hati-hati Dengan 5 Ucapan ini Karena Dapat Memperburuk Perkembangan Psikologis AnakPerkembangan Psikologis Anak – Anda adalah orang tua yang masih memiliki balita ? Atau ibu yang memiliki putri yang masih usia anak – anak ?

Pernahkan anda berkata sesuatu yang melukai hati buah hati anda ? Seperti apakah contoh kata – kata yang anda lontarkan ?

Awas, hati – hati. Hal ini bisa berdampak buruk bagi perkembangan psikologis anak.

Anak layaknya seperti cerminan diri kita. Beberapa sikapnya sebagian mirip dengan watak kita sebagai orang tuanya. Kadang ketika ia sedikit ‘nakal’ atau ‘keras kepala’, kita sebagai orang tua sebagian banyak yang menjadi kesal. Lalu kemudian spontanlah sebagian dari kita mengatakan kalimat yang sama sekali tidak ingin didengar oleh telinga buah hati kita.

Walaupun hal tersebut tidak baik bagi perkembanganya, namun sayang mulut telah terlanjur untuk mengutarakan hal-hal buruk pada si anak.

Perlu untuk anda ketahui, beberapa perkataan dan kalimat yang tidak mengenakan tersebut ternyata sangat berpengaruh bagi perkembanganya. Terutama bagi perkembangan psikologi anak. Dampaknya yang ditimbulkan cukup besar, bahkan hal tersebut akan dirasakan sang anak sampai ia tumbuh dewasa nanti. Seperti apa sajakah perkataan itu yang buruk tersebut ?

  1. Kenapa sih anak ibu seperti ini ?

Mungkin saat anda kesal, perkataan seperti ini tanpa sengaja akan terlontar didepan anak-anak. Sebenarnya, anda sebagai orang tua tidak bermaksud untuk mengutarakan hal tersebut. Namun bagi diri anak, hal ini di anggap dengan persepsi lain. Ketika anda mengatakan hal tersebut, maka anak merasa bahwasanya sang ibu telah menyesal sudah melahirkan dirinya ke dunia. Lantas anak pun akhirnya merasa bahwa dirinya tidak berguna. Kehadirannya justru menyusahkan orang tua saja.

  1. Membandingkan dengan anak orang lain

Hal ini pun memang sebenarnya adalah masalah yang sepele, bagi orang dewasa. Namun membandingkan diri anak dengan orang lain hanya akan membuat diri anak menjadi down dan tidak percaya diri. Dengan perkataan tersebut maka, hal ini akan dirasakannya sebagai sebuah pembanding yang membuatnya merasa tidak memiliki kelebihan, dan akhirnya anak jadi minder. Perlu anda ketahui, bahwa setiap anak memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Inilah yang harusnya dapat dimaklumi dan di pahami sebagai orang tua.

  1. Kamu bodoh. / Kamu tolol

Saat anak diajari sesuatu, kadang ia harus lama menangkap maksud dari anda. Bahkan anak susah sekali untuk paham dari pengajaran yang anda berikan. Lantas anda mengatakan bahwa anak bodoh atau tolol. Anak yang mendengar ini akan merasa bahwa dirinya memang tidak bisa apa – apa. Sehingga ia melabeli diri, bahwa dirinya adalah anak yang tolol, anak yang bodoh. Hal ini akan membuat anak semakin tidak PD

  1. Kamu nakal

Saat anak diminta tidur, ia malah bermain dengan temannya. Tanpa memperhatikan perintah orang tua. Lantas, anda menyebutnya sebagai ‘nakal’ karena tidak mau mengikuti perintah anda. Perlu anda tahu, memberi label anak nakal bagi anak adalah hal yang memalukan. Seperti ia adalah anak yang menyusahkan dan hanya bisa berbuat keonaran bagi orang tuanya. Setelah anak mendapat label ini, bukan semakin baik tapi malah menjadi lebih buruk.

  1. Memarahinya didepan umum

Pernahkah anda memarahi anak didepan umum ? Saat di sekolah, di rumah makan, di mall, atau ditempat umum manapun ? Bagaimana reaksi anak ? Apakah menurut ? Perlu anda perhatikan, bahwa memarahi anak didepan umum justru melukai harga dirinya. Anak tentu merasa malu. Hendak menangis, hendak menahan marah, dan sebagainya. Jika dibiasakan, ini akan menjadi buruk bagi perkembangan psikologis anak

Itulah beberapa perkataan yang bisa merusak harga diri anak. Usahakan jangan dilakukan dan dikatakan pada anak langsung. Anda akan melukai harga dirinya. Pasti anda ingin tampak baik didepan orang lain, tampak tidak ada masalah didepan orang. Sama dengan anak. Ia juga ingin tampak baik didepan umum dan tidak ingin dipermalukan.

Agar kita dapat menjadi orang tua yang lebih bijak, perlu untuk memahami perkembanganya. Salah satu hal yang bijak adalah saat kita memahami usia perekembangan anak dari sudut pandang psikologi. Anda dapat mendapatkan buku Psikologi Perkembangan dengan memesan di toko psikoma. Semoga Bermanfaat.

Penyebab Anak Nakal, Siapa Sih Yang Sebenarnya Salah?

Penyebab Anak Nakal, Siapa Sih Yang Sebenarnya Salah?Penyebab Anak Nakal – Anak sampean itu nakal banget, buat kotor depan rumahku aja jeng. “anak ku ini kok ga bisa diem, nakal banget. Beberapa ungkapan seperti itu adakalanya sering kita dengan di sekitar kita. Percakapan antara emak-emak ataupun orang dewasa saat membicarakan pola perilaku anak yang ada di sekitarnya.

Ngomong-ngomong soal anak nakal, sebenarnya siapa sih yang salah? Membicarakan hal tersebut sejatinya kita harus memahami apa yang sedang di lakukan anak. Terkadang sebagian orang tua hanya karena anaknya terlalu aktif dan tak mau mendengarkan apa yang diinginkan, langsung di cap nakal.

Atau hanya karena sang anak mencari perhatian, orang tua langsung melakukan justifikasi bahwasanya anaknya terlalu usil hingga bikin sebal. Hmmm seperti tak pernah jadi anak saja ya hehee.

Sekarang kita bedah, alasan mengapa sih anak itu menjadi nakal itu. Anak nakal sejatinya ia bukanlah anak nakal seperti apa yang dikatakan oleh orang lain, khususnya orang dewasa.

Penyebab Anak Nakal Itu

Terkadang anak yang dianggap nakal ternyata hanya seorang anak yang tengah merindukan perhatian dari orang tuanya. Ia berbuat seperti itu karena orang tuanya yang sibuk sendiri dengan apa yang dikerjakannya. Sang anak lebih banyak di beri gadget hanya untuk membuat anak tidak mengganggu orang tuanya yang sedang sibuk bermain media sosial dan lain sebagainya.

“Mah coba gambarin burung hantu na mah” pinta anak. Seketika sang anak, “duh jangan ganggun mamah, ini maini aja hanphone ayah” ungkap sang emak sembari menyodorkan hp suaminya. Atau saat sang anak tengah menangis, lantas sang emak menghardiknya dan mengancam, “husss diam, kalau ga diam tak panggilkan pak polisi loh biar ditangkap”. Ujung-ujungnya mengancam dengan sesuatu yang tak masuk akal.

Padahal dengan apa yang dilakukan orang tua secara tak sadar mengajari sang anak sebuah sikap mengabaikan. Jadi wajar, jika anda melihat fenomena saat ini dimana banyak anak yang acuh tak acuh, atau suka mengancam saat keinginannya tak di penuhi. Ya itu barangkali sudah mendapatkan pendidikan dari sononya.

Tak hanya itu saja, orang tua juga acapkali menuntut sesuatu yang tak dimampu atau tak di senangi oleh anaknya. Jika tak mampu mengikuti apa yang dimau oleh orang tuanya, seketika ia akan di banding-bandingkan dengan orang lain.

Aktivitas membanding-bandingkan itu pada akhirnya membuat anak minder, dan muak dengan apa yang dilakukan. Dan representasi dari rasa muak maupun minder tersebut terlihat dari banyak perilakunya. Salah satu perilaku yang berpotensi muncul adalah dengan melakukan pemberontakan lewat sikap yang cendrung membuat orang tuanya sebal.

Anak nakal terkadang bukan disebabkan oleh dirinya yang nakal. Ia hanyalah seorang korban dari apa yang dilakukan oleh orang-orang terdekatnya, terutama orang tuanya. Bisa jadi masalah yang di hadapi oleh anak bersumber dari apa yang orang tua lakukan terhadapnya. Atau bisa jadi cap buruk tersebut melekat disebabkan oleh sudut pandang orang tua yang diucapkan terus menerus hingga akhirnya membuat anak merasa bahwa dirinya dianggap nakal. Pengabaian dan rasa tak dihargai adalah hal yang juga berpengaruh pada perilaku anak.

Karena dalam setiap perilaku anak yang cendrung nakal itu ada kontribusi dari pola asuh yang dilakukan oleh orang tua. Hal ini semakin di kuatkan dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh budi (2009) dalam penelitian yang berjudul Perilaku agresif ditinjau dari persepsi pola asuh authoritarian, asertivitas dan tahap perkembangan remaja pada anak binaan lembaga pemasyarakatan anak kutoraja jawa tengah.

Oleh sebab itu mulai dari sekarang, yuk mari sayangi anak kita. Luangkan waktu kita untuk mereka, walaupun sekedar menanggapi hal remeh temeh yang ia tanyakan. Hargai setiap apa yang dia lakukan hingga pada akhirnya ia merasa dibutuhkan. Saat ia merasa dibutuhkan maka ia akan merasakan limpahan kasih sayang dan otomatis kebahagiaan akan selalu memancar dari lubuk hati mereka.

Dan saat rasa bahagia itu menyeruak, disaat itulah anak anda akan mudah anda kendalikan. Kuncinya dalam mendidik anak adalah keikhlasan dan kesabaran. Semoga kita menjadi orang tua terbaik bagi anak-anak kita. Jadi siapa sih yang menjadi penyebab anak nakal? Silahkan anda bisa menjawab sendiri. By: Muhamad fadhol tamimy