Apa Itu Bagian (PSDM) Pengembangan Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi?

Apa Itu Bagian (PSDM) Pengembangan Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi?

Posted on

Apa Itu Bagian (PSDM) Pengembangan Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi?Pengembangan Sumber Daya Manusia – Anda pasti kerap mendengar istilah PSDM atau pengembagan sumber daya manusia ? Istilah ini banyak dipakai dalam suatu lembaga atau organisasi. Baik itu organisasi yang berorientasi profit, atau non profit. Dari oganisasi yang berkembang dalam sebuah PT, CV dalam dunia kerja, maupun organisasi yang berada di lingkungan organisasi kampus. Lalu apa sih sebenarnya PSDM ?

Maksud dari istilah pengembangan sumber daya manusia adalah sekelompok orang – orang yang berada dalam suatu sub unit yang memiliki fokus di bagian untuk mengembangkan manusia di dalam organisasi tersebut. Intinya adalah bagaimana sub unit tersebut mampu mengembangkan kapasitas orang – orang yang ada di dalam organisasi, sehingga kapastitas tersebut dapat di optimalkan menjadi lebih baik agar organisasi segera meraih tujuan bersama.

Seperti apakah PSDM itu ?

Mungkin anda masih bingung, sebenarnya seperti apakah pengembangan sumber daya manusia itu. Menurut Silalahi menyebutkan bahwa pengembangan sumber daya manusia adalah suatu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dalam arti seluasnya, baik itu pendidikan, pelatihan, dan pembinaan.

Handoko menambahkan bahwa pengembangan ini adalah cara yang sangat efektif guna menghadapi tantangan organisasi di masa yang akan datang. Tantangan yang dimaksud adalah kebosanan menjadi karyawan, perubahan sosial dan teknis, serta mengatur perputaran tenaga kerja. Salah satu tolak ukur dari keberhasilan departemen personalia terletak pada kemampuannya mempertahankan sumber daya manusia dan tetap bisa mengoptimalkan pekerjaanya.

Orang yang ada dalam departemen personalia atau sub unit PSDM memikul tanggung jawab yang sangat tinggi di dalam suatu organisasi. Bukan hanya sekedar mengembangkan kemampuan intelektual semata, namun ia juga masuk ke ranah sosial dan emosional seluruh anggota kelompok yang ada.

Dalam dunia kerja sendiri, orang yang bekerja dalam departemen ini kebanyakan memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Merka bukan hanya dapat mengendalikan diri sendiri saja, namun juga kelompok di dalam sebuah organisasi.

Bagaimana tugas orang-orang PSDM ?

Seperti yang sudah disebutkan dalam uraian diatas, bahwa fokus utama orang – orang PSDM adalah bidang untuk mengembangkan ‘manusia-manusia’ dalam organisasi. Mereka dibekali dengan berbagai training dan development untuk mengasah ketrampilan. Selain itu kemampuan dalam berelasi atau human relation juga harus dibentuk.

Orang yang berada dalam departemen personalia dan PSDM harus mampu memantau dan juga mengontrol pekerjaan dari anggota lainnya. Tujuannya adalah untuk melihat apakah anggota lain sudah mengerjakan job dengan baik secara efektiv dan efisien. Jika masih ada yang belum terselesaikan, maka tugas PSDM adalah memberikan pelatihan dan pengetahuan terkait job yang telah diberikan.

Fokus utama pada bidang PSDM secara luas bukan hanya mencakup keorganisasian saja. Namun konsumen dan orang-orang yang ada di luar juga menjadi pertimbangan. Bagaimana agar organisasi tampak baik di depan perusahaan lain ataupun organisasi lain. Bagaimana agar produk dari organisasi dapat menarik bagi pelanggan dan konsumen. Kemampuan ini bukanlah kemampuan yang mudah di kuasai. Harus banyak latihan dan belajar.

Siapakah orang yang cocok dalam departemen PSDM (Pengembangan Sumber Daya Manusia) ?

Tidak semua orang bisa berada dalam posisi PSDM. Mereka harus memiliki kemampuan yang baik dalam berbagai bidang. Ketrampilan yang memadai dalam melakukan tugasnya dan tugas orang lain. Orang-orang yang ada dalam PSDM harus orang yang memiliki pengetahuan seputar organisasi dan job masing-masing di departemen lainnya. Mungkinkah anda orang yang dicari departemen PSDM ?

Biasanya orang yang berada dalam departemen ini adalah karyawan yang sudah bekerja lama. Jadi mereka tahu bagaimana seluk beluk organisasi dan mengerti job masing-masing departemen. Bisa juga merekrut orang baru yang memiliki ketrampilan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Ingat, berkomunikasi ini bukan hanya perilaku saja. Melainkan juga mencakup sikap, intelektual, dan cara menghadapi lawan bicaranya. Ia bisa mengatur dan mengendalikan orang lain, siapapun orang tersebut.

Tentu saja orang-orang seperti ini susah untuk di temui. Namun anda jangan khawatir. Karena komunikasi seperti ini bisa di pelajari. Biasanya orang-orang yang bekerja dalam departemen PSDM adalah lulusan psikologi yang mengambil konsentrasi psikologi perusahaan industri dan organisasi.

Maka berbahagialah anda para mahasiswa jurusan psikologi. Namun keuntungan tersebut jangan lantas membuat anda jumawa dan terlena, sikap dan tekad untuk selalu mengembangkan diri dan potensilah yang akan membuat anda sukses menjadi professional di bidang anda. Selamat belajar. 

Kesalahan Manusia Dalam Rancangan Teknologi Di Dunia Industri Beserta Solusinya

Kesalahan Manusia Dalam Rancangan Teknologi Di Dunia Industri Beserta Solusinya Rancangan Teknologi Di Dunia Industri – Pemahaman pada sifat dasar manusia sebagai seorang makhluk yang aktif untuk bekerja terus menerus hingga mengalami penyempurnaan. Usaha keilmuan bidang psikologi dalam memahami manusia dengan pendekatan psikoanalisis sampai dengan pendekatan kognitif menunjukkan bahwa, terdapat adanya sifat yang diduga telah menjadi laten, yaitu berbuat salah. Oleh sebab itu, maka wajar apabila kesalahan yang lazim disebut sebagai human error tak lagi dimaknai sebagai sebuah kesalahan semata, akan tetapi juga merupakan hasil dari kesalahan manusiawi.

Artinya adalah, manusia memang tempat asalnya kesalahan dan memiliki potensi bertindak salah, baik itu disengaja ataupun tidak disengaja. Hingga akhirnya terjadi sebuah asumsi yang menyatakan bahwa cepat atau lambat kesalahan akan terjadi dan tak akan menyebabkan kecelakaan ataupun gangguan yang signifikan.

Mengatasi Kesalahan Manusiawi Di Dalam Perencanaan Teknologi

Dalam sebuah tinjauan berdasarkan pendekatan sistem, manusia seringkali dipandang sebagai liveware/brainware yang menjadi komponen penting. Terlebih jika manusia itu sendiri yang menjadi komponen dalam setiap proses dan tahap produksi. Tentu hal ini menjadi penekanan kepada manusia yang tetap harus mempertimbangkan komponen lain, misalnya saja perangkat keras, perangkat lunak, dan juga lingkungan (environment), baik itu lingkungan fisik ataupun lingkungan sosial budaya.

Bencana teknologi memang telah lazim untuk dilekatkan pada beragam peristiwa yang mencolok semenjak tahun 1979 dalam sebuah epristiwa kebocoran pembangkit tenaga nuklir di Three Mile Island di Amerika Serikat dan kemudian tahun 1986 yang juga terjadi di Chernobyl Ukrina yang berdampak pada paparan radiasi nuklir yang makin meluas dampaknya.

Pun begitu juga dengan beberapa kecelakaan transportasi seperti kecelakaan pesawat yang sebagian besar saat dilakukan rekonstruksi, melalui teks pengantar psikologi tentang sebuah ilusi visual mengatakan bahwasanya hal tersebut juga sebagian akibat dari kesalahan pilot.

  1. Kesalahan: Muara Kecelakaan?

Jika kita mendengar istilah human error atau kesalahan manusia, sebenarnya hal ini membawa sterotipe bahwa, setiap bencana teknologi adalah akibat dari kesalahan manusia. Apapun itu, atribut, label, atau apapun itu sebutanya maka manusialah yang dipandang sebagai faktor penyebab kesalahan paling utama; baik itu kesalahan berupa kelalaian, kecerobohan, kekeliruan, ataupun keteledoran. Intinya adalah manusialah yang menjadi sumber segala penyebab kematian, kerugian, luka, dan kerusakan bagi manusia yang lainnya.

Lantas yang menjadi pertanyaan adalah, apakah manusia yang menjadi penyebab tunggal dari bencana teknologi ini? tentu saja jawabannya adalah tidak. Sebgaimana yang telah diungkapkan di atas, bahwa masih ada beberapa komponen dari penyebab bencana teknologi itu sendiri, yaitu perangkat lunak, keras, dan juga lingkungan itu sendiri.

  1. Lingkup Faktor Manusia

Pada umumnya bila ditinjau dari faktor manusia, maka dapat dibedakan menjadi 2, yakni di tataran tingkat manajemen dan juga tingkat operasional. Di tataran tingkat manajemen, faktor manusia memiliki peran dalam menentukan kebijakan. Dalam model faktor manusia di tingkat perancangan dan manajemen antara lain berupa: hal-hal kebijakan manajemen, orientasi keselamatan, sistem imbalan atau insentif, tekanan produktifitas, sentralisasi pengambilan keputusan, gaya manajemen, penyediaan sumber daya insani, struktur organisasi, kkoordinasi, pengaturan staf, dan pengembangan karyawan.

Sedangkan kesalahan di tingkat operasional antara lain seperti halnya: tingkat kemampuan, pengalaman, kewaspadaan, kepribadian, pelatihan, usia, keterampilan fisik, pemakaian alcohol dan obat-obatan, kelelahan, motivasi, inteligensi, kesehatan fisik, tekanan di luar pekerjaan, dan juga kepuasan dalam bekerja.

Artinya setiap kesalahan yang dilakukan dalam bidang di atas, tentu akan berpengaruh pula pada kecelakaan yang akan terjadi di lapangan.

A. Perilaku Manusia

Secara luas perilaku dari manusia adalah cerminan dari kemampuan kognitif, afektif, dan keterampilan psikomotorik. Sebagian dari perilaku manusia tersebut dapat diamati secara langsung dan sebagian lagi tak dapat diamati secara langsung.

Peran dari seorang manusia ini juga dibedakan menjadi 2, yaitu sebagai seorang operator dan perancang. Sebagai operator manusia yang menjalankan peralatan setelah peralatan tersebut diproduksi, sedangkan sebagai seorang perancang, manusia menciptakan dan juga membuat sebuah kriteria peralatan sebelum alat tersebut di produksi.

B. Perilaku Manusia Sebagai Operator

Mengoperasikan suatu peralatan dalam teknologi memerlukan sebuah kemampuan manusia yang sedemikian banyak, termasuk juga pada persepsi, keterampilan psikomotorik, dan pengambilan keputusan. Pada kondisi lingkungan yang norma, artinya hal tersebut berada pada batas wajar,, batas kemampuan yang optimal belumlah dapat terlihat secara jelas. Namun jika hal tersebut di posisikan dalam kondisi lingkungann yang menekan, artinya hal ini adalah berada di luar batas kenormalan, koordinasi dari bermacam-macam kemampuan seperti ini sangat diperlukan.

Bahkan untuk kondisi lingkungan yang kritis, maka koordinasi dari kemampuan persepsi, pengambilan keputusan, keterampilan psikomotorik dibutuhkan sampai pada taraf yang teramat tinggi.

Aspek Afektif: Kepribadian

Semakin banyak studi yang menunjukkan bahwasanya perilaku manusia yang mengoperasikan peralatan dan juga teknologi di lingkungan kerja, menjadi salah satu cerminan kepribadiannya. Dalam sebuah teknologi transportasi, jalan raya hanyalah sebagai sebuah panggung. Dengan perubahan dan karakteristik jalan tersebut, dimana kadang ia padat oleh lalu lintas, atau banyaknya pengemudi lain, hingga kondisi jalan itu sendiri membuat para pengguna teknologi harus mampu menyesuaikan dan beradaptasi secara cepat.

Jika ia memiliki kepribadian yang gampang meledak-ledak dan emosian, tentua dapat tercermin dalam cara ia menyetir, misalnya ugal-ugalan, toleransi kepada pengguna jalan yang rendah, kepatuhan rambu rendah, hingga akhirnya bertindak sembrono dan membahayakan lingkungan sekitarnya.

Salah satu tipe kepribadian yang sering disebut dalam kaitannya dengan bencana teknologi yaitu ketergantungan kebebasan terhadap lapangan. Orang yang memiliki kepribadian ketergantungan, ia sulit untuk melepaskan diri dari situasi dan kondisi kritis. Akhirnya pada saat kondisi kritis yang di hadapi ia cendrung menyamakan perlakuan seperti halnya pada kondisi yang normal. Hal ini berbeda dengan mereka yang memiliki kebebasan pada lapangan. Dimana ia akan lebih mudah untuk menggunakan alternative lain saat menghadapi situasi kritis.

Aspek Kognitif: Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan dilakukan setelah seseorang tersebut mengolah informasi yang relevan. Untuk selanjutnya hasil tersebut didasarkan untuk mengambi keputusan. Hal ini memerlukan keterampilan psikomotorik.

Banyak dari bencana teknologi transportasi jalan raya adalah hasil dari akibat tabrakan di belakang yang mana melibatkan kendaraan di depannya yang memperlambat ataupun menghentikan kendaraan secara tiba-tiba. Artinya ia kurang mampu untuk mengambil keputusan dengan tepat, dalam berkendara.

Aspek Psikomotorik: Keterampilan

Semakin tinggi keterampilan yang dimiliki oleh seorang pekerja dalam menguasai teknologi yang digunakannya, tentu resiko kecelakaan dalam bekerja juga akan semakin kecil. Sebaliknya hal tersebut akan berbeda jika ia tidak memiliki keterampilan dalam menggunakan teknologi yang digunakan dalam bekerja/produksi. Akhirnya hal tersebut menimbulkan potensi kecelakaan.

  1. Perencanaan Teknologi

Semenjak tahun 1990 perancangan peralatan dalam teknologi telah beralih dari technological-centered ke dalam human-centered. Perencanaan teknologi berpusat pada pengguna teknologi itu sendiri. Hal tersebut wajar sebagai sebuah reson positif dari kalangan perancang tekhnologi guna mengatasi beragam kemungkinan bencana teknologi yang bersumber terhadap keterbatasan kemampuan sang operator.

Dalam parliamentary office of science and technology (2001) telah merumuskan bahwa perancangan teknologi seharusnya tak memberikan alternative bagi pengguna dalam membuat kesalahan dengan mudah. Hodkinson (2003) pun juga menambahkan adanya integrasi dari beragam aspek kognitif pengguna ke dalam perancangan pekerjaan dan juga peralatan yang hendak di operasikan.

Dalam perancangan teknologi ini, perlu dicermati bahwa seharusnya para perancang mengutamakan calon pengguna sebagai hasil dari perancangannya. Artinya perancang sebaiknya membatasi kreativitasnya apabila nantinya hal tersebut justru bertentangan dengan skema pola pikir para penggunanya.

A. Perancangan Kontrol Ganda

Guna menghindari akibat kesalahan yang berpotensi pada kecelakaan dalam bekerja, para perancang sebaiknya menerapkan perancangan control ganda. Misalnya adalah dengan digunakan control utama dan juga control cadangan. Kontrol ganda ini di butuhkan terutama jika hal tersebut bersifat otomatis, sehingga diperlukan sebuah control cadangan yang sifatnya manual.

B. Perancangan Tampilan Ganda

Di samping keterampian yang dimiliki dalam mengendalikan peralatan teknologi dengan informasi yang relevan, misalkan saja tentang kondisi peralatan yang tengah/akan dioperasikan dan kondisi lingkungan fisik di sekitarnya. Infomrasi seharusnya di sajikan berupa tampilan, terutama tampilan yang bersifat visual yang mudah untuk dilihat dan juga diinterpretasikan. Tampilan ganda tersebut dalam artian, sebuah tampilan yang sifatnya informasi dan juga tampilan dalam bentuk dimensi waktu.

C. Perancangan Pemulihan

Pengoperasian dari peralatan teknologi selalu bermula daripada sebuah aktivitas ke aktivitas berikutnya sampi dengan aktivitas akhirn. Permulaan dari aktivitas adalah dengan mengaktifkan operasi peralatan dan diakhiri dengan menghentikan operasi peralatan. Walaupun telah disertai dengan pedoman dalam bentuk tulisan, namun aktivitas yang kompleks tersebut juga menimbulkan potensi menambah beban kerja kognitif.

Kesimpulan dari artikel kesalahan manusiawi dalam merancang teknologi yang berakibat pada safety ini adalah, sebuah bencana teknologi telah menimbulkan suatu kebutuhan untuk dilakukannya modifikasi dan juga penyempurnaan teknologi itu sendiri. Tujuan dari akhirnya adalah agar bencana teknologi serupa tak terjadi lagi. Dengan memodifikasi dan juga menyempurnakan teknologi dimulai dari perancangan teknologi. Dan perancangan teknologi dilakukan berdasarkan prinsip utama yang jelas terhadap pengguna itu sendiri.

Dengan menerapkan orientasi pada para pengguna teknologi itu sendiri, yakni manusia dalam hal ini para operator peralatan teknologi, maka terdapat 3 alternatif perancangan yang di tawarkan. Yakni adanya pengendalian ganda, tampilan ganda dan juga pemulihan. By: Muhamad Fadhol Tamimy

Referensi: Sugiyanto. 2008. Mengatasi Kesalahan Manusiawi Dalam Perancanan Teknologi ( Overcoming Human Errors in Technological Designs). Jurnal Psikologi Indonesia. Vol. 5, No. 2, 108-106.