95% Keluarga Muda Terancam Menjadi Gelandangan Di Masa Mendatang

95% Keluarga Muda Terancam Menjadi Gelandangan Di Masa Mendatang

Posted on

Pernikahan menjadi salah satu momen yang istimewa bagi siapa saja. Namun siapa sangka, pernikahan yang tidak dilakukan dengan pertimbangan dan perencanaan matang, justru akan menjadi bencana di kemudian hari.


Pertimbangan kesehatan, manakala menikah di usia muda memanglah baik. Namun kebaikan dalam sisi kesehatan, jika tidak diimbangi dengan persiapan matang dan disempurnakan dengan pengetahuan dibidang keagamaan hanya akan melahirkan janda duda yang usianya semakin muda. Atau bisa lebih buruk lagi, dimana kemiskinan akan semakin berkembang biak.


Berdasarkan data dari Badan Peradilan Agama Indonesia seperti yang dilansir dalam BBC Indonesia, selama Januari hingga Juni 2020 lalu, terdapat sekitar 34 ribu permohonan dispensasi menikah, mereka yang belum genap berusia 19 tahun. Selain daripada kematangan emosi, kematangan dalam perencanaan finansial pun belum mumpuni.


Padahal kemampuan finansial menjadi salah satu faktor kunci yang acapkali menjadi sumber penyebab dari keutuhan sebuah pernikahan. Di sisi lain, mereka yang berusia muda sering membayangkan bahwa pernikahan hanya dari sisi keindahan saja.


Akhirnya setelah menikah, mereka pun menghabiskan uang hasil amplop pemberian, atau tabungan untuk hal-hal yang sebenarnya melebihi budget mereka. Akibatnya top up hutang berbunga diambil, demi memuaskan dahaga hiburan pasca resepsi pernikahan. Setelah masa-masa indah resepsi pernikahan berlalu, barulah kesulitan financial mulai dirasakan.


Setali 3 uang kesulitan financial para keluarga muda, membuat mereka harus menahan malu, manakala tinggal di PMI (Pondok mertua Indah) demi menekan ongkos pengeluaran. Bagi mereka yang tetap kekeh untuk survive, biasanya memilih untuk mencari kontrakan, yang kondisinya tidak lebih baik dari sempitnya space privasi di pondok mertua indah.


95% Keluarga Muda Terancam Menjadi Gelandangan Di Masa Mendatang


Para anak muda yang baru saja menikah, biasanya seiring sejalan dengan belum matangnya karir mereka dalam bekerja. Dampak dari itu, tentu saja pada penghasilan yang didapatkannya, tidaklah besar. Sementara harga property dari waktu ke waktu meningkat beberapa kali lipat.


Hal tersebut menyulitkan para anak muda, terlebih lagi kelipatan kenaikan harga perumahan tidak dibarengi dengan kelipatan kenaikan gaji yang didapatkan. Pun begitu pula dengan pasokan lahan yang terbatas, sedangkan dari tahun ke tahun, jumlah manusia semakin bertambah. Baik itu bertambah karena arus transmirgrasi ataupun disebabkan kelahiran baru.


Jika hal tersebut, maka bukan tidak mungkin kepemilikian rumah bagi keluarga muda adalah suatu hal yang sangat mustahil. Kondisi ini menjadikan keluarga muda terancam menjadi gelandangan di masa mendatang.


Berdasarkan data yang dihimpun oleh BPS pada Agustus 2020, rata-rata upah pada buruh hanya berkisar 2,76 juta rupiah, dengan upah buruh tertinggi dari sektor pertambangan sebesar 4,48 juta. Jika didasarkan pada kelompok usia antara 15-19 upah tertinggi hanya pada 3,62 juta. Kita ambil tertinggi jika di satukan dengan para kelompok muda yang berhasil di posisi strategis, PNS dan pengusaha dengan rata-rata penghasilan total adalah 6 juta.


Maka untuk membeli rumah sederhana type 36 di daerah sebesar 175-250 juta (diluar kota besar Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar). Dibutuhkan waktu 3-4 tahun dengan asumsi penghasilan tidak di gunakan sama sekali full menyisihkan, dan harga rumah tidak ada kenaikan.


Dengan fakta seperti itu, bukan tidak mungkin gaya hidup yang boros, disertai dengan tidak baiknya dalam melakukan perencanaan keuangan akan membuat para keluarga muda di masa mendatang menjadi gelandangan, tidak memiliki rumah.


Kemungkinan tersebut telah di sampaikan oleh pakar perumahan General manager Rumah123 Ignatius Untung kepada detik.com 3 tahun lalu yang mengatakan bahwa hanya 5% kaum millennial kelahiran (1982-1995) yang sanggup membeli rumah. Sisahnya sebesar 95% akan kesulitan memiliki tempat tinggal. Artinya butuh segera untuk memperbaiki pola pengeluaran melalui Financial Planner yang baik.


Dengan merencanakan keuangan yang baik maka kita akan lebih mudah dalam memetakan arus keluar masuk, dengan investasi untuk menambah pundi-pundi pendapatan. Perbesaran pundi-pundi pendapatan tidak akan datang dengan sendirinya jika kita tidak mulai untuk berusaha lewat investasi, atau meningkatkan skill diri.


Semoga hal tersebut tidak akan terjadi, dan mulailah sekarang untuk merencanakan keuangan anda dengan baik. Karena perencanaan yang baik, akan membawa kehidupan kita lebih baik. Dan sebaliknya, ketidak siapan dalam merencanakan keuangan, akan menyulitkan kita dan orang lain di sekitar kita tentunya.


Penulis:
Muhamad Fadhol Tamimy
Penulis Buku Sharing Mu Personal Branding Mu

Segera Miliki Buku Financial Planner

Financial planner

Untuk pemesanan dan informasi selanjutnya dapat menghubungi di link order berikut ini –> https://bit.ly/338Og6l