Trendsetter Bully Online

Ditengah kemajuan informasi dan komunikasi yang hadir di dunia ini khususnya Indonesia memunculkan dua sisi mata pisau yang berlainan. Kadang sisi mata pisau tersebut akan sangat bermanfaat apabila diberikan ke tangan yang tepat untuk memegangnya, namun akan sangat berbahaya untuk digunakan di tangan yang tidak tepat.

Melihat kasus yang baru-baru ini terjadi, menimpa ayahanda salah satu siswa SMA yang merayakan UN dengan melanggar lalu lintas. Ya kasus tersebut yang tengah gencar di beritakan oleh banyak media masa, karena aksi pengancaman terhadap pihak berwajib serta pencatutan nama salah satu jendral di negeri ini.

Kasus tersebut lantas membawa dampak jatuhnya korban, yakni ayah dari siswi pengancam polisi tadi. Almarhum meninggal di duga karena tekanan psikis yang diakibatkan oleh tidak tahannya melihat para netizen yang terus menerus membuli anaknya di media online sosial media. Bulian yang luar biasa sambut menyambut mulai dari memey, foto nyeleneh, hingga komentar pedas pun mantab di lemparkan pada siswi tersebut.

Di satu sisi mungkin anaknya adalah seorang siswi yang tengah bersalah. Namun di sisi lain siswi tersebut merupakan korban dari ganasnya pola perilaku hedon lingkungan yang menaunginya, sehingga mengakibatkan terbentuknya karakter congkak seperti yang diperlihatkan dalam aksi pengancaman dan kesombongan terhadap polwan berpangkat rendah.

Dalam psikologi sosial, trendsetter membuli online ini bisa jadi diduga akibat pola pengaruh role model yang diprtontonkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah content tak mendidik dari sejumlah tayangan yang muncul di media masa, terutama televisi. Bagaimana tidak, jika tayangan yang dipertontonkan televisi hari ini selalu saja dihiasi oleh adegan penghinaan anak-anak sma di dalam sinetron. Padahal seharusnya tayangan anak sekolah ini mampu mencitrakan pendidikan yang seharusnya seperti aktivitas belajar mengajar, penemuan dari riset yagn dilakukan, hingga raihan prestasi dari para anak negeri. Namun siapa sangka, tayangan yang mementingkan reting ini lebih mengedepankan aksi kurang ajar terhadap orang tua ataupun hiasan romansa di dalam lingkungan sekolah daripada motivasi di dalam pendidikan. Adegan romansa ini tak sedikit yang selalu memperlihatkan sisi persaingan dengan cara bulliyan untuk mendapatkan sang pujaan hati.

Mungkin dahulu di era tahun 2000an kita hanya mengenal yang namanya friendster. Ya sebuah console sosial media yang menyediakan fasilitas berbagi foto hingga komentar. Pun demikian dengan Myspace dan Yahoo Messagger yang tak sama namun hampir serupa dengan frienster tersebut. Penggunaannya pun dahulu sangat terbatas bagi segelintir orang yang mafhum dengan sosial media. Penggunaan fasilitas pun hanya sebatas pada komentar ataupun layanan chatting yang tak seluruhnya memiliki fitur lengkap seperti emoticon yang menaunginya.

Namun ternyata dengan makin berkembangnya arus digital dunia informasi mampu mebawa pola komunikasi negatif secara terang-terangan. Mungkin dahulu kita hanya akan akrab melihat facebook di jejali celotehan-celotehan tak penting (di luar chatting) hingga kata-kata pujangga yang syarat akan tebar pesona. Ataupun tebaran foto selfie yang menjadi pengikat asmara guna berburu like dari para netizen. Namun saat ini fungsinya semakin menunjukkan ke arah pembangunan nihil nilai moral dan etika yang menaunginya, hingga membully secara berlebihan terhadap orang lain.


By Muhamad Fadhol Tamimy