Inilah Suka-Duka Yang Dirasakan Mahasiswa Jurusan Psikologi

Inilah Suka-Duka Yang Dirasakan Mahasiswa Jurusan Psikologi

June 2, 2017 Off By Admin

Inilah Suka-Duka Yang Dirasakan Mahasiswa Jurusan PsikologiSuka duka yang dirasakan menjadi Mahasiswa Jurusan Psikologi – psikiater seringkali dikira sebagai lulusan dari kulaih psikologi, padahal antara psikiater dengan psikolog jauh berbeda. Psikolog banyak diminati karen memang lapangan pekerjaannya katanya menjanjikan. Ada sebagian orang yang masuk ke jurusan psikologi karena bingung memilih jurusan yang diinginkan, namuan akhirnya dia memilih juruan ini dengan sepenuh  hati seiring berjalannya waktu.

Ada beberapa hal yang hanya dirasakan dan dimengerti oleh mereka yang mengambil jurusan psikologi. Berikut ini adalah beberapa hal yang dirasakan oleh mahasiswa jurusan psikologi.

  1. Ingin menghindar dari matematika namun malah bertemu dengan statistika

Awal sebelum memilih jurusan psikologi, biasanya ada beberapa calon mahasiswa yang memilih jurusan ini karena memang merasa kurang menyukai matematika. Namun pada akhirnya ketika mereka menjadi mahasiswa jurusan psikolgi, mereka menyadari bahwa yang mereka temui tidak jauh berbeda dengan matematika yakni ilmu statistika. Hal ini dikarenakan oleh jurusan psikologi sendiri yang merupakan jurusan dengen riset dan penelitian banyak bergantung pada matematka, terutama ilmu statistika.

Ilmu statistika itu sendiri dijadikan pondasi utama dalam mempelajari ilmu psikologi bagi seorang mahasiswa jurusan psikologi. Dalam dunia psikologi, ilmu statistika banyak digunakan untuk menyusun soal-soal untuk psikotes. Pada kenyataanya, ilmu statistika dalam jurusan psikologi digunakan untuk menentukan tingkat akurasi dan konsentrasi yang  maksimal dalam dunia psikologi.

  1. Menjadi psikolog haruslah menempuh S2

Pada metode dan proses pengajaran pada jurusan psikologi sekarang berbeda dengan metode dan proses pengajaran pada dahulu. Hal ini menyebabkan beberapa orag mengira bahwa untuk menjadi seorang psikolog hanya dengan modal lulusan S1 saja. Akan tetapi, untuk sistem yang sekarang, seseorang haruslah meneruskan kuliah hingga S2 untuk menjadi seorang psikolog.

  1. Mahasiwanya lebih banyak wanita

Sebuah kenyataan yang ditemukan jika kamu seorang laki-laki dan mengambil jurusan psikologi adalah kebanyakan mahasiswanya wanita. Kebanyakan perbandingannya adalah antara 2:1 hingga 3:1. Untuk tenaga pengajar, biasanya dosen wanita banyak mengajarkan masalah eksperimen, klinis, perkembangan dan keluarga, sedangkan dosen pria banya di bidang sosial dan industri organisasi.

  1. Banyak teman yang tak sengaja minta diramal

Ada beberapa orang yang berpikiran bahwa ketika seseorang mengambil jurusan psikologi, kemudian mahasiswa tersebut bisa meralam atau semacamnya. Padahal apa yang diajarkan dalam perkuliahan bukanlah masalah yang demikian. Psikolog hanya bisa memprediksi kepribadian seseorang, itupun dengan melakukan beberapa tes terlebih dahulu.

  1. Berkutat dengan diktat

Jurusan psikologi tidak jauh berbeda dengan ilmu kedokteran jika disamakan berdasarkan ketebalan dan banyaknya diktat yang harus dipahami. Hal ini dikarenakan oleh ilmu psikologi yang termasuk dalam ilmu abstrak, karena mengkaji sisi psikis manusia. Berbeda dengan ilmu kedokteran yang cenderung memeriksa dan berfokus pada luka, gejala atau sejenisnya. Sedangkan ilmu psikologi lebih cenderung pada sisi psikisnya saja. By: Nurus Syarifatul ‘Aini