Senjakala Mahasiswa Psikologi Indonesia

Opini

Oleh: Muhamad Fadhol Tamimy

Mahasiswa Psikologi Indonesia – Berbicara mengenai jurusan psikologi tentu kita tak akan luput dengan hal-hal yang berbau manusia. Kita akan selalu menemui tentang kejiwaan, kepribadian, gangguan-gangguan psikologis, perkembangan, pendidikan, hingga pseudoscience yang seringkali di anggap sebagai kebenaran ilmu psikologi.

Khusus untuk pseudoscience di indonesia saat ini mungkin tengah marak-maraknya dan menjadi “dagangan” laris bagi mereka, yang mana para pelakunya tak memiliki kapasitas dan background di bidang keilmuan psikologi sedikitpun.

Banyak sekali pelatihan-pelatihan membaca kepribadian, grafologi, hypnosis, hingga alat-alat ukur psikologi yang justru para instrukturnya merupakan alumnus jurusan tekhnik, ekonomi, dan hukum.

Kita juga bisa menilik beberapa buku yang “Katanya” psikologi, seperti trik-trik praktis membaca kepribadian, lewat ini… itu…gesture, hingga grafologi, ternyata sebagian besar pengarangnya justru orang yang bermodal “pinter nulis”, bukan berlatar keilmuan psikologi. Amsyong dah nasipp, lahan psikologi di ambil tetangga hmmmm

Apalah hendak dikata, jika saat ini fakta menunjukkan bahwa, hanya segelintir orang saja dengan background ilmu psikologi dengan PD nya tampil dan unjuk gigi mengerahkan segala kemampuannya ke tengah masyarakat. Mungkin kita bisa mafhum, mengapa lulusan psikologi banyak yang tertutupi dengan jurusan lain, khususnya yang menguasai bagian HR di suatu perusahaan bersekala besar. Para alumnus psikologi banyak yang tak muncul di posisi-posisi puncak HR, melainkan duduk manis menunggu instruksi sebagai staf recruiter iya staff recruiter catet!!.

Hal ini tidak lain dan tidak bukan bisa jadi dikarenakan oleh karena mitos atau nasehat yang salah ditanggap dan diartikan oleh mahasiswa psikologi itu sendiri, semenjak di bangku kuliahan. Mitos seperti yang lagi ngetrend saat ini, manakala terasil dangda menjadi top scorer turnamen piala AFF maka Thailand tak bakal menjadi juara. Untuk hal ini yuk sama-sama kita katakan AMINN. Nasehat seperti “anak psikologi itu harus menjadi anak yang baik, manut birokrat, banyak mendengar, santun bertutur kata” dan seabrek nasehat lainnya.

Mungkin santun, banyak mendengar, manut itu adalah sebuah hal yang penting untuk di miliki  dan wajib oleh semua orang terlebih bagi mereka para calon psikolog muda, namun tentunya ada sebuah kadar yang seharusnya menjadi patokan. Dan celakanya kadar dan patokan inilah yang saat ini masih abu-abu dan samar.

Mereka para mahasiswa psikologi seoalah-olah akan di justifikasi seorang pribadi yang urakan, “tercemar”, pembangkang, dan adigum-adigum penyindiran negativ lain manakala rasa tergugah untuk berjuang itu muncul dalam darah juang mereka.

Hal sederhana lain yang nampak terjadi adalah pada saat PEMIRA (pemilihan raya) BEM diselenggarakan. Dimanapun dan kapanpun para mahasiswa psikologi justru lebih asik menjadi pengamat perilaku para kontenstan, tanpa berani terjun dan ambil bagian dalam perseteruan nan gengsi berbalut title Presiden BEM. Jika ada yang berani ambil bagian, jangan mimpi deh, terkadang justru kesinisan rekan sesama mahasiswa psikologi yang membayangi.

Selain menjadi pengamat perilaku, tak sedikit pula mahasiswa psikologi yang ambil bagian menentukan pilihan pun tidak. Sebenarnya jika para mahasiswa psikologi memutuskan untuk berani mengambil bagian dalam kontestasi perpolitikan kampus, tentu akan membawa sebuah warna tersendiri dan memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh para kontestan berlatar belakang pendidikan keilmuan “sebelah” (selain psikologi).

Keunggualan menjadi mahasiswa psikologi adalah, anda dianugrahi dengan embrio keilmuan yang sakti mandra guna. Kemampuan ini bahkan ampuh menaklukan setiap orang yang bertemu dengan anda. Kemampuan yang tak jarang dianggap sebagai kekuatan mistis, magic, sihir. Ya sebuah kemampuan alami terstruktur untuk membaca psikologis para pemilih, hingga merangkul swing voters kampus dengan pendekatan-pendekatann psikologis.

Tak usah khawatir, tak usah cemas dengan strategi pemilihan yang ribet, dan syarat biaya mahal yang digelontorkan oleh pihak tim sukses. Cukup membuka lapak didepan keramaian kampus, lalu anda membuka stand konsultasi psikologi, hingga pertunjukan hypnosis pun sudah sangat menarik bagi mahasiswa. Toh juga, mahasiswa yang hadir selain membutuhkan hiburan gratis ditengah padatnya tuntutan tugas dosen juga layanan psikologi yang menjadi nilai plus-plus.

Layanan psikologi adalah layanan eksklusif yang tak semua mahasiswa dapat menyelenggarakannya. Sebuah layanan yang diharapkan mereka (para mahasiswa), mampu menjadi obat duka lara akibat melambungnya harga sewa kos, judul skripsi yang tak karuan ditolak dosen, was-was gebetan dilamar pesaing yang sudah duluan kerja, hingga nasib di cut off pacar.

Atau alternative lain mereka yang datang di lapak kampanye anda, membutuhkan sebuah terapi hypnosis, bagaimana caranya makan pagi, siang, dan malam menggunakan “mie telur” khas mahasiswa di fase tanggal tua, menjadi rasa mkan sate, pizza, plus ditemani bidadari idaman kampus.

Segala keunggulan yang sejatinya merupakan keunggulan para mahasiswa psikologi tak akan menjadi sebuah keunggulan, jika keunggulan itu sendiri tak mampu di konversi kebermanfaatannya di tengah publik. Memang sih, dalam beramal sebaiknya tangan yang satu tak diketahui oleh tangan yang satunya. Namun opo iya berfaedah, manakala ilmu yang sudah di dapatkan tak di aplikasikan atau bahkan tak di uji coba di jalan kebenaran?

Tentu jawabannya tidak bukan? Masa kalian kalah dengan mereka yang tiba-tiba tebar modus di masa pemilukada agar di pilih para konstituen di ajang perebutan tampuk pimpinan kepala daerah.

Jurusan Psikologi adalah jurusan yang memiliki keunggulan tersendiri di bandingkan dengan jurusan yang lainnya, meskipun kita harus mengakui jika jurusan ini memang memiliki sisi lemah yang menjadi kelebihan di jurusan lain. Lebih daripada itu semua penulis mengajak dan berharap, yuk para pakar, praktisi, akademisi, hingga pengamat lebih aktif berlomba-lomba dalam kebaikan untuk mengaplikasikan keilmuannya.

Sayang sekali jika keilmuan yang dimiliki hanya di pendam menjadi sebuah jurnal, dan teks naskah temu ilmiah namun tak di aplikasikan secara nyata. Minimal suatu saat para puncak pemimpin di negeri ini memiliki latar belakang psikologis lah. Toh dengan begitu, anda dapat teruji untuk mengaplikasikan keilmuan yang bernama, “kemampuan beradaptasi, dan memberi solusi” sampai membahagiakan secara psikologis rakyat.

Untuk para mahasiswa yuk monggo, jangan sungkan untuk berjuang dalam sebuah barisan, selama barisan tersebut adalah jalan menuju keadilan, dan pemerataan secara hakiki atau syar’I no problem lah. Unjuk gigi bukan untuk gengsi, namun unjuk gigi sebagai manifestasi anda bermanfaat dan berprestasi demi kejayaan negeri. Jika adik-adik ILMPI memiliki selogan mewujudkan indonesia tersenyum bersama psikologi, maka anda harus menambahkannya dengan membahagiakan dan mensejahterakan bersama psikologi (colek pejabat berlatar psikologi).

Ilmu yang di pendam, tak akan bermanfaat melainkan hanya akan memunculkan perasaan sombong dan sok bisa di dalam diri. Ilmu adalah lentera di dalam gelap. Saat ia di teruskan maka nyalanya akan membara dan memendarkan cahaya keseluruh relung gelap akibat kebodohan yang menyengsarakan. Penulis adalah Co-Founder Psikoma


admin

Pencinta Psikologi, percandu kata, hidup Psikologi Indonesia