Sekilas Mengenai Test RorschachRorschach merupakn salah satu bentuk tes psikologi yang lebih tepatnya tes kepribadian, dan juga merupakan bentuk tes proyeksi, dimana nantinya test ini mampu untuk memproyeksikan kepribadian dan juga kondisi inner dari individu / pasien. Test ini dikembangkan oleh Herman Rorschach, yang merupakan seorang psikiater asal Swiss. Poin utama pada test Rorschach ini adalah pengungkapan diri individu dengan menggunakan stimulus – stimulus yang dibuat menggunakan bercak tinta. Seperti kita ketahui, bercak – bercak tinta, apabila diteteskan ke dalam kertas, lalu kertas tersebut dilipat, maka akan membentuk pola pola tertentu yang simetris. Pola inilah yang kemudian diaplikasikan ke dalam Test Rorschach.

Asumsi dari test ini adalah stimulus – stimulus yang muncul akan membuat seseorang (pasien) memberikan gambaran megnenai kondisi di dalam dirinya, mulai dari dorongan, hingga kecerdasan, bahkan gangguan – gangguan psikotik.

Bentuk dan Administrasi dari Test Rorschach

Test Rorschach sendiri terdiri dari 10 buah kartu, dimana masing – masing kartu memiliki pola – pola berbeda yang berasal dari bercak – bercak tinta. Dari 10 kartu tersebut, terdapat dua jenis kartu, yaitu

  1. kartu kromatik (hitam putih)
  2. kartu akromatik (kartu berwarna).

 Test Rorschach diberikan kepada individu, kartu per kartu secara berurutan, mulai dari kartu pertama hingga kartu sepuluh.

Peserta ./ klien / pasien diminta untuk menyebutkan apa apa saja yang dilihat oleh mereka ketika dihadapkan pada masing – masing bercak pada tiap – tiap kartu. Klien atau peserta boleh menyebutkan bentuk, baik itu bentuk nyata ataupun tidak, dan dibebaskan dalam jumlah, yang artinya klien atau peserta bisa menjawab berbagai macam bentuk yang muncul dan yang dilihat sebanyak – banyaknya. Hal ini membantu klien atau peserta untuk dapat melakukan eksplorasi lebih dalam terhadap apa yang ada di dalam dirinya.

Test Rorschach, umumnya dilaksanakan dalam dua sesi. Sesi pertama merupakan sesi awal, dimana klien atau peserta diminta untuk menyebutkan saja bentuk – bentuk apa yang muncul dan dilihat oleh mereka pada masing masing kartu, mulai dari kartu pertama hingga kartu ke sepuluh. Sedangkan sesi kedua, adalah sesi inquiry. Sesi inquiry ini merupakan sesi dimana tester dan juga klien, membahas bentuk – bentuk yang disebutkan oleh klien pada sesi sebelumnya. Pada sesi inquiry ini, tester akan menanyakan, bagaimana klien bisa melihat bentuk – bentuk tertentu, bagian apa saja yang dianggap klien menyerupai bentuk tersebut, serta mencatat semua jawaban dari klien pada lembar skoring yang sudah disediakan.

Skoring dan Interpretasi dari Test Rorschach

Sekilas Mengenai Test RorschachSkoring dan interperteasi dari Test Rorschach ini dilakukan oleh tester dan juga interpreter yang sudah berpengalaman dalam menginterpretasi, atau mereka yang memiliki kewenangan, seperti Psikolog dan juga Psikiater. Test Rorschach memiliki rangkaian skoring yang cukup kompleks dan juga membutuhkan ketelitian dan pemahaman yag mendalam oleh tester mengenai prinsip dari test inkblot (bercak tinta).

Skoring pada test Rorschach ini meliputi sejauh mana klien atau peserta mampu untuk melihat bentuk yang ada, mulai dari bentuk – bentuk yang populer, hingga bentuk – bentuk yagn spesifik, misalnya bentuk – bentuk yagn muncul akibat pengalaman traumatis ataupun bentuk yang muncul karena adanya kecemasan dalam diri klien atau peserta.

Skoring pada test Rorschach terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

  1. skoring secara kuantitatif

Skoring secara kuantitatif dilakukan dengan cara melakukan penyekoran terhadap respon – respon gambar atau bentuk yang diungkapkan oleh klien atau pasien, menggunakan norma – norma yang standar pada test Rorschach. Dengan menggunakan skoring secara kuantitatif ini, interpretasi Rorschach dapat mencakup berbagai aspek, mulai dari kecemasan, hingga aspek intelegensi dari klien atau peserta.

  1. skoring secara kualitatif.

Skoring secara kualitatif dilakukan dengan cara melihat kondisi klien atau peserta, mulai dari pertama kali mengikuti test (observasi), hingga bagaimana klien mampu memunculkan respon – respon tertentu. Skoring secara kualitatif juga melihat faktor – faktor apa saja yagn membuat klien mampu memunculkan respon tertentu, seperti pengalaman traumatis, gangguan psikotik, ataupun karena adanya kecemasan.

Test Rorschach apabila diadministrasikan dan juga diinterpretasikan secara tepat dan kondusif, mampu untuk menungkapkan banyak trait dan juga masalah – masalah yang muncul pada diri individu. Namun demikian, proses administrasi dan juga skoring yang kompleks dan juga cenderung lama, membuat Test Rorschach ini hanya digunakan untuk kepentingan tertentu saja, misalnya kepentingan klinis. by: Eduardus Pambudi