Sebuah Studi Perilaku Berjudi Pada Remaja dan Anak-Anak

Ilustrasi anak sedang bermain judi

Perilaku Berjudi Pada Remaja dan Anak-Anak

4 hingga 8% dari remaja memiliki masalah yang berhubungan dengan perilaku dan juga kebiasaan berjudi. Hal ini bisa berkembang menjadi suatu masalah yang menjadi lebih parah, dimana perilaku berjudi bisa saja bukan hanya sekedar perilaku, namun menjadi suatu kebiasaan yang sangat sulit dihilangkan. Meskipun di beberapa negara berjudi banyak dilarang, namun faktanya banyak juga anak-anak dan juga remaja yang terjerumus ke dunia perjudian. Apalagi yang tinggal di negara yang melegalkan perjudian.

Baca juga dampak kekerasan lain seperti Bulliying

Sebuah studi dan penelitian di Kanada oleh Azmier (2000) mengatakan bahwa berjudi seringkali diterima sebagai hak seseorang. Para peserta penelitian bahkan tidak menganggap berjudi sebagai suatu masalah sosial yang berat seperti penyalahgunaan obat-obatan, alkohol, perilaku mengemudi buruk dan juga merokok. Abbot (2001) juga membeberkan hasil penelitian dimana responden di Selandia Baru juga mengungkapkan hal yang sama.

Apa Itu Berjudi?

Sebuah Studi Perilaku Berjudi Pada Remaja dan Anak-Anak

Mesin berjudi

Sebenarnya apa sih perilaku berjudi itu? NRC (1999) mengatakan bahwa perilaku berjudi mengacu pada mempertaruhkan uang di dalam permainan yang sifatnya tidak pasti atau untung-untungan. Perilaku berjudi ini melibatkan perilaku pengambilan resiko yang cukup tinggi, dan terkadang melibatkan kemampuan khusus juga.

Perilaku berjudi dikonsepkan sebagai suatu kontinum mulai dari non-gambling, recreation gambling, social gambling, hingga pathological gambling. Yang terparah tentu saja pathological gambling, karena berjudi sudah menjadi suatu kelainan psikologis, dimana seseorang akan melakukan apapun untuk melakukan perjudian.

Pathological gambling digambarkan sebagai suatu ketidakmampuan mengontrol perilaku berjudi, terokupasi atau terobsesi dengan perjudian, pemikiran yang tidak rasional terhadap perjudian, dan juga melewatkan atau mengabaikan konsekuensi dari perjudian.

Derevensky dkk dalam suatu studi mengatakan bahwa perilaku berjudi pada remaja dan anak-anak bisa menjadi 2 kali lipat perilaku berjudi yang dilakukan oleh orang dewasa. Di Amerika misalnya, remaja merupakan populasi terbanyak yang melakukan perbuatan berjudi. Total di Amerika dan Kanada, 2 per tiga dari remaja dan anak di bawah umur melakukan perilaku judi menggunakan uang.

Dalam berjudi, terdapat suatu penerimaan sosial yang akan dimiliki oleh seseorang.  Mengingat berjudi bisa dengan mudah meningkatkan status sosial seseorang, dengan uang yang melimpah. Selain itu, judi juga identik dengan lokasi yang mewah, dimana seseorang akan merasa lebih bergengsi, seperti misalnya casino, bar, dan semacamnya. Berjudi juga sangat membuka kesempatan bagi seseorang untuk melakukan sosialisasi dengan banyak orang, baik dalam hal positif dan juga negatif.

Bagaimana Berjudi Bisa Menjadi Perilaku Anak-Anak dan Remaja?

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan perilaku judi menjadi banyak dilakukan oleh anak-anak dan juga dewasa. Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa menjadi faktor penyebab dari munculnya perilaku berjudi pada anak-anak dan remaja:

  1. Faktor kepribadian

Faktor pertama yang bisa menjelaskan munculnya perilaku berjudi pada anak-anak dan remaja adalah faktor kepribadian. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa kepribadian seseorang memiliki hubungan yang kuat dalam membentuk perilaku berjudi pada seseorang. dibahas secara khusus, ada dua bentuk kepribadian seseorang yang memiliki kaitan erat dengan munculnya perilaku berjudi, yaitu sensation seeking dan juga risk taking. Dua kepribadian ini memiliki kecenderungan yang kuat untuk memunculkan perilaku berjudi pada seseorang.

  • Sensation seeking

Apabila diartikan, sensation seeking berarti mencari sensasi. Zuckerman dkk (1984) mengatakan bahwa sensation seeking merupakan kebutuhan seseorang untuk merasakan sensasi dan pengalaman, dan keinginan untuk memaksimalkan resiko sosial dan juga fisik untuk meningkatkan pengalaman diri sendiri. Sensation seeking sendiri bisa dikatakan menjadi prediktor dari perilaku berjudi, dimana hal ini memiliki pengaruh yang lebih tinggi pada pathological gambling, dibandingkan dengan social gambling.

  • Risk taking

Kepribadian yang kedua, yaitu risk taking, alias mengambil resiko. Perilaku ini meliputi aksi dan juga perilaku yang melibatkan konsekuensi yang berpotensi negatif dan buruk, yang diawali dengan harapan konsekuensi yang positif. Hal ini tentu saja sangat cocok dengan perilaku berjudi, dimana semua orang pastinya ingin menang dalam judi, namun kenyataannya, lebih sering mengalami kekalahan dan akhirnya bangkrut. Jessor (1977) juga mengatakan bahwa remaja merupakan rentang usia yang secara aktif memunculkan perilaku beresiko ini.

  1. Faktor Kognitif

Faktor kognitif yang mempengaruhi munculnya perilaku berjudi dapat dijelaskan oleh teori kognitif, dimana penjudi biasanya lebih banyak memikirkan mengenai keyakinan yang kebanyakan salah dan melenceng dalam berjudi. Dari pandangan teori kognitif sendiri, penjudi banyak melakukan mispersepsi dalam melakukan judi, dan sering memunculkan motivasi yang sangat kuat untuk memenangkan suatu permainan/

Teori kognitif ini juga berhubungan dengan kondisi pelaku perjudian yang berpikir bahwa mereka memang berbakat dan bisa melakukan permainan judi dengan baik.

  1. Faktor Belajar

Dari pandangan teori belajar dan teori perilaku, sudah dipastikan bahwa perilaku berjudi merupakan sebuah situasi yang melibatkan reward. Seorang yang sudah pernah menang judi akan mendapatkan rewardnya, dan penasaran. Dengan adanya reward yang besar, maka mereka akan terus menerus mencoba hingga mendapatkan reward yang benar-benar besar.

  1. Faktor Adiksi

Perjudian juga merupakan salah satu yang membuat seseorang ketagihan, bukan hanya karena hadiah, dan juga pola pikirnya, atau kepribadian, namun karena berjudi bisa membantu seseorang lepas dari masalah mereka sendiri. Adiksi terhadap judi bisa muncul karena dengan berjudi, seseorang bisa lepas dan lari dari masalahnya, sama seperti ketika seseorang menggunakan obat-obatan terlarang, merokok, dan melakukan perilaku adiksi lainnya.

Sebuah Studi Perilaku Berjudi Pada Remaja dan Anak-Anak

Kegiatan Berjudi

Selain ke-4 faktor atau pandangan teoritis mengenai munculnya perilaku berjudi pada remaja tersebut, ada beberapa hal lainnya yang bisa menjadi prediktor/faktor pendukung/penyebab ataupun hal yang memperkuat perilaku berjudi, antara lain adalah:

  1. Perbedaan gender, dimana perilaku berjudi lebih dikenal dan lebih akrab di kalangan pria dibandingkan dengan wanita
  2. Faktor fisiologis, dimana remaja dengan kemampuan fisiologis yang sedang berkembang dan sedang berada pada level puncak, memiliki kecenderungan untuk mencari sensasi yang kuat, dimana mereka akan lebih senang dengan perilaku berjudi/
  3. Faktor kepribadian dan personal, dimana seperti sudah disebutkan sebelumnya, kepribadian yang risk taker memiliki kecenderungan melakukan perilaku berjudi yang lebih kuat.
  4. Kondisi emosi dan mental, dimana orang yang memiliki self esteem rendah biasanya cenderung menjadi problem gamblers
  5. Coping skills, dimana remaja dengan kemampuan coping stress yang rendah akan lebih mudah “terjun” ke dalam perilaku berjudi
  6. Masalah perilaku, misalnya saja perilaku antisosial dan melawan hukum, merokok, alkohol, obat-obatan terlarang dan sebagainya memiliki pengaruh yang lebih kuat pada seorang penjudi remaja
  7. Perilaku berjudi sebelumnya, yang bisa muncul ketika seseorang kalah. Hal ini menimbulkan rasa penasaran, dan akan terus mengejar kemenangan atau balas dendam akan kekalahannya.
  8. Faktor keluarga, dimana banyak remaja yang mulai dikenalkan dengan judi oleh anggota keluarganya, atau diajak berjudi oleh anggota keluarganya. Saudara kandung bisa menjadi salah satu anggota keluarga yang mampu mengajak seseorang untuk melakukan perilaku brjudi
  9. Akses menuju lokasi berjudi juga tidak kalah penting dalam menimbulkan perilaku berjudi. Mereka yang lebih mudah menjangkau lokasi judi akan lebih mudah juga melakukan perbuatan judi.

Baca juga penyebab kekerasan remaja tawuran

Jadi, itulah beberapa penjelasan mengenai situasi berjudi yang muncul pada remaja dan juga anak-anak, serta beberapa faktor dan pandangan teori yang menjelaskan mengenai munculnya perilaku berjudi. Psikologi Mania

 

 


admin

Pencinta Psikologi, percandu kata, hidup Psikologi Indonesia