Saat Fenomena Pudarnya Sopan Santun Di Sekitar Kita Merajalela

Opini Sebuah Refleksi Di Momen Sumpah Pemuda

Oleh: Muhamad Fadhol Tamimy

Bangsa Indonesia selalu di identikkan dengan budaya “Orang Timur”. Budaya timur tersebut semakna dengan sebuah anggapan tentang keterjunjungan adab, sopan santun, saling menghormati dan saling menghargai yang begitu tingginya. Anggapan bahwa aliran “Budaya Ketimuran” yang lekat pada bangsa indonesia ini, pada akhirnya menjadikan mata dunia tertuju pada bangsa indonesia, bahwasanya bangsa ini merupakan Negara ramah nan-seksi untuk menjadi destinasi. Entah destinasi wisata alam, ataupun wisata yang “lain-lain”

Konsep kebudayaan bangsa indonesia begitu anggunnya, dimana moral, adab, dan prinsip kekeluargaan sangat di junjung tinggi. Menurut Moes (2009) konsep dari kebudayaan bangsa indonesia mengacu pada nilai ketaqwaan, kebenaran, ketertiban, iman, setia kawan, rukun, disiplin, harga diri, kompetitif, ramah tamah, tenggang rasa, kreatif, dan kebersamaan. Yang mana nilai tersebut dianggap sebagai puncak dari kebudayaan di seluruh teritori daerah bangsa indonesia.

Sebagaimana sifat dan juga ciri dari kebudayaan menurut Melalota (dalam moes, 2009) mengkonsepkan sebuah kebudayaan yang di miliki oleh bangsa indonesia, diikat oleh sebuah tali persatuan dan kesatuan, dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.

Konsep yang telah di gambarkan oleh para ahli tersebut memanglah konsep yang seharusnya menjadi pedoman dan tuntunan saat ini sebagai bangsa timur. Namun apa hendak dikata, pedoman dan tuntunan yang dahulu dijunjung tinggi tersebut saat ini mulai memudar hingga tak lagi menjadi pakem melekat bagi para masyarakatnya. Saat ini hal tersebut layaknya menjadi harapan semata, yang mana tak semua sesuai dengan tempatnya.

Kita dapat melihat sebuah fenomena dimana kesopan santunan mengkhawatirkan evolusinya di kalangan generasi pemuda masa kini. Tak usah berbicara pemudanya, tengkok sajalah bagaimana pemberitaan dimana seorang anak yang belum akhil baligh pun berani menunjukkan jiwa ketidak sopanannya. Videonya pun telah menjadi viral di media sosial saat ia dengan beraninya melawan sang guru di ruang guru. Bahkan dengan bangganya sang murid sd ini menantang gurunya untuk melawan badannya. Tak cukup sampai disitu sang guru pun akhirnya dengan gemas sepontan melecehkan anak bahwa “badan kecil gini kok berani”, “wes aku ga gelem ngurusi bocah iki, ben sekolah neng hutan”. Jadilah kekurang ajaran di balas dengan pelecehan.

Belum lagi berbagai berita yang sangat mengkhawatirkan dimana guru yang menegur murid lantas di keroyok secara beramai-ramai oleh murid dan orang tuanya. Itu semua semakin menasbihkan bahwa ketidaksopanan yang ada di negeri ini telah menjangkit di berbagai lini.

Ucapan, sapaan, hingga memanggil yang lebih tua daripadanya pun seakan enggan untuk di lakukan. Apakah kian beratnya melakukan penghormatan sederhana? Bukan bermaksud untuk gila hormat namun berat kah kita saat ini untuk hanya sekedar memanggil “mas”, “kak”, “bang”, “mba” dan lain sebagainya kepada yang lebih dewasa dibandingkan Anda semua yang kerap melalikannya. Jangan mentang-mentang satu letting tingkatan atau di atas satu tingkatan saja lantas anda yang lebih muda tak sedikit pun menaruh rasa hormat pada mereka yang usianya jauh di atas kalian.

Urusan remeh temeh memanggil ini, memang seremeh kerupuk yang melempem di udara terbuka, namun dari persoalan sederhana ini kita dapat menakar, bagaimana langkanya sopan santun yang tertanam dalam setiap generasi masa kini. Jika di budidayakan ala ikan lele dumbo perilaku seperti ini di sekitar kita, maka jangan heran jika Anda menjadi orang tua nantinya, lantas anak Anda memanggil langsung nama, seperti BRO, Sist, Gan, dan lain sebagainya dengan logat pongah nan ketus.

Pudarnya sopan santun

Sadarlah, bahwa pudarnya sopan santun di sekitar kita merupakan problem yang amat serius untuk di sikapi, sama seriusnya dengan menyikapi merajalelanya kasus korupsi yang menggerogoti negeri ini. Sopan santun yang tak di pelihara dengan baik hanya akan berdampak viral potensi kejahatan di segala lini. Bahkan kasus korupsi, pungli, dan grativikasi yang mengakar di negeri ini adalah imbas dari memudarnya sopan santun dalam benak dan sanubari para koloni petinggi negeri.

Membangun indonesia tak cukup hanya dengan membangun infratruktur dan menebar kartu sehat semata. Hal tersebut mungkin bermanfaat, namun adakalanya membangun bangsa ini diperlukan dengan cara membersamainya dengan membangun adab. Karena sebuah peradaban fondasi utama adalah adab para masyarakatnya.

Menjadi kritis akan semakin dhasyat kontribusinya bagi bangsa, manakala mampu menyeimbangkan kekritisan yang dimiliki dengan trah keberadaban dalam kesantunan. Sebagai kaum muda, penulis menghimbau kepada para rekan yang memperingati sumpah pemuda tak semata stagnan pada teatrikal aksi momentum saja. Namun besar harapanya untuk mampu mengkonstruksi diri dalam sebuah kekritisan yang dimemiliki, dengan adab dan sopan santun yang dapat di terima oleh semua umur dan kalangan.

Jangan adalagi dikotomi berlebel perubahan maupun himbauan dengan jalan penghinaan. Cukuplah tragedi munculnya pemimpin yang menghina agama di pulau seribu dengan penggunaan ayat yang bukan hak dan kapasitasnya sampai di situ saja. Cukuplah benih-benih kekurang sopanan dalam bertindak gusur menggusur dengan jalan kekerasan dan kesewenang-wenangan terjadi di negeri ini hanya karena nafsu pengembang yang menjadi bekingan.

Menyadari bahwa dari dulu hingga sekarang pemuda adalah pilar kebangkitan, dalam setiap kebangkita pemdua merupakan rahasia kekuatannya, dalam setiap fikrah pemikiran pemuda adalah pemegang panji-panjinya. Diibaratkan sebuah air, para pemuda yang bergerak akan selalu jernih menjernihkan daripada mereka yang diam.

Dari diri sendiri, keluarga, tetangga, masyarakat, hingga Negara. Membangun peradaban tak cukup hanya dengan peringatan seremonial acara peringatan kemerdekaan, hari pendidikan, hingga sumpah pemuda. Namun membangun peradaban dapat dimulai saat ini, waktu ini, detik ini dengan jalan membudayakan sopan santun. Demi indonesia yang beradab, selamat hari sumpah pemuda.

Penulis adalah co-founder psikoma.com.
Penulis buku Sharing-mu, Personal Branding-mu