Revolusi Media Sosial Dan Fungsi PenggunaanRevolusi Media sosial – Tools sharing informasi hingga media interaksi yang satu ini memang popular di semua kalangan. Baik itu tua, maupun muda hingga yang bangkotan sekalipun gemar melakukan scroll atas bawah demi melihat timeline terbaru yang baru saja di update pengguna lainnya. Tools popular itu bernama media sosial. Sejak dahulu di era kepopuleran Friendster, myspace, mrc, hingga yahoo massager, media sosial hanya memiliki 1 spesialisasi dimana peruntukannya ada yang digunakan sebagai ruang chatting, datting, video, dan pamer foto selfie.

Media sosial pun terus berevolusi dengan layanan yang di tambahkan, khususnya saat kemunculan facebook yang mampu meringkas semua kegunaan media sosial terdahuunya. Akhirnya anda bisa tau sendiri bukan? Dimana kesemua media sosial tersbut keok tak berdaya, tersedot penggunanya. Dan bangkrutlah jadinya.

Penggunaan media sosial yang semakin digandrungi oleh siapa saja akhirnya membuat lahan media sosial ini sedap untuk digunakan promosi jualan. Mulai dari jualan kaos, kuliner, hingga jual diri pun ngeri-ngeri sedap pangsa pasarnya. Sampai saat perubahan media sosial yang berevolusi sebagai tempat fitnah, tebar berita kebencian, hoax, tipu daya, dan polling kepopuleran dalam bidang politik.

Untuk kasus yang terakhir ini, sebenarnya saya males bin jenuh jika harus menanggapi, toh background saya bukan seorang politikus, melainkan psikologi. Namun melihat fenomena saat ini, saya tergelitik untuk membahasnya juga.

Kasus polling politik di media sosial ini sangat menarik untuk di cermati keberadaannya. Apakah ia masih relevan untuk di percayai kebenarannya, ataukah hal tersebut hanyalah adu gengsi kepopuleran saja. Nah ini dia yang masih simpang siur kesahihannya.

Hal tersebut karena sosok-sosok buzzer yang bergriliya di balik polling sosok tokoh politik yang memutuskan maju untuk berlaga di pilkada, pilpres, pilleg, atau pil pil lain sampai pil koplo. Entahlah.

Buzzer ini pun terbagi menjadi dua jenis, yang mana pure relawan ikhlasan, dan relawan bayaran atau yang sering kita dengar dahulu ada sejenis “pasukan nasi bungkus”. Jangan disangka menjadi seorang buzzer yang tugasnya hanya melakukan like, koment, unlike, emoticon, repost berita setingan ini di bayar murah dan berpenghasilan rendah. Hanya bermodal jempot dan smartphone saja saya perkirakan mereka mendapatkan penghasilan mencapai jutaan hingga ratusan juta. Bahkan jika di bayar “paketan project” nilainya sampai mencapai setengah milyar.

Untuk buzzer jenis ikhlasan ini biasanya merupakan relawan-relawan ataupun kader-kader yang sepenuh hati ataupun yang “terjebak” karena tidak enakan. Gimana tidak enakan, jika selalu di framing bahwa jika mendukung sosok ini itu adalah bagian dari ibadah dan jika tidak mendukung atau mendukung sosok lain adalah bentuk dari keduniawian yang jauh akan keibadahan. Waduh ini rumus dari mana rek.

Buzzer ini memang ngeri-ngeri sedap macam mie instan, ia tak terlihat namun ada. Ia seperti aspirasi banyak masyarakat, namun sebenernya ia hanyalah kumpulan akun-akun fiktif yang “diternak”

Setiap muncul berita yang sekiranya mendukung, di “penuhi” habis-habisan komentar, share, like yang positif. Begitu muncul pemberitaan positif dari sosok competitor, di cela habis-habisan. Dahulu mencela pasangan yang satu, tiba-tiba begitu yang satu tumbang, bergeser trendnya menjatuhkan sosok yang lainnya. Yang terpenting competitor “jatuh” citra dirinya.

Gerakan Senyap Buzzer

Setiap polling yang di adakan mereka tak pernah absen untuk memberikan votenya. Tak cukup sekali namun berkali-kali dengan akun yang berbeda-beda pula. Akhirnya sang tokoh “penyewa” jasa buzzer inilah yang terlihat mentereng dan juara adu popular di berbagai polling khususnya polling media sosial.

Masalah lain pun bisa jadi timbul akibat ulah buzzer bagi masyarakat awam. Salahsatunya adalah pemaksaan persepsi terhadap penilaian positif-negatif dari polling tersebut. Diantaranya adalah penggiringan opini berupa tingkat keprcayaan, kepuasan, review berupa komentar baik-atau buruk, dan mengurung masyarakat dalam satu frame dengan bantuan filter bubble effect.

Filter bubble effect sendiri adalah sebutan yang awalnya di populerkan oleh elli parsier, seorang pakar sekaligus aktivis dunia maya. Menurutnya Filter bubble effect ini adalah semacam perhitungan dari algoritma, dimana sebuah situs tersebut akan membaca atau menebak apa yang seirama dengan para pembaca. Hal ini dibaca berdasarkan riwayat klik, pencarian, pertukaran komentar dan lain sebagainya.

Sistem ini sebenarnya di gunakan oleh sebagian besar situs-situs, ataupun pecarian google. Namun dampak yang kentara dirasa adalah di ranah media sosial terutama facebook. Di facebook filter bubble effect membuat anda akan terus menerus di perlihatkan dengan kabar berita yang memiliki jenis sama, misalnya saja, anda berulangkali mengklik berita tertentu akhirnya tidak di sangka-sangka berita yang sejenis seakan sering dan terus-menerus muncul di dinding facebook anda.

Ini dia yang membuat para buzzer getol mengkampanyekan para calon yang membayarnya di media sosial. Dengan membuat polling dan memenangkan polling di media sosial, hal ini membuat para pengguna awam tertarik melihat sosok yang memenangkan polling tersebut. Hingga akhirnya anda terjebak mencari infromasi sosok, ikut berkomentar, atau memberikan feedback like yang akan membuat berita-berita sejenis bermunculan di branda facebook anda.

Jika hal tersbut telah terjadi, maka secara tidak langsung proses pencucian otak pun di mulai, dimana anda akan disuguhkan berita-berita yang seolah-olah mencitrakan hal-hal positif pasangan tertentu, dan memberitakan hal-hal negative pada pasangan yang lainnya. Inilah yang dinamakan dampak dari filter bubble.

Sebenarnya filter bubble ini juga terjadi pada bidang lainnya, misalkan saja anda membeli sebuah barang di salah satu toko online, maka barang yang telah anda cari atau beli akan muncul pula di beberapa situs yang anda buka.

Setingan Opini Masyarakat Oleh Buzzer

Gerakan senyap buzzer di media sosial yang telah massiv juga terintegrasi dalam pembuatan opini “Memasangkan calon”. Misalkan saja, tokoh yang satu ini tidak terkenal dan belum memiliki reputasi yang dirasakan secara langsung oleh masyarakat, namun karena “keinginan partai” untuk mengusung sosok tertentu, di buatlah cerita-cerita fiktif di bumbui dengan kisah-kisah romantisme anak muda, sportifitas anak muda untuk menarik para pengguna media sosial.

Kita sudah tau sendiri kan sebagian besar republik “Netizen” adalah kaum anak muda.

Kisah-kisah kesuksesan yang sebenarnya biasa saja, lalu membuat pencitraan “gerakan sedekah pamrih bin riya” yang di posting di media sosial di waktu terdekat menjelang pilkada.

Dari kegiatan yang di posting tersebut disandingkan pula dengan kesuksesan sosok tokoh/ kepala daerah yang memang benar-benar telah melakukan aksi nyata.

Dari postingan tersebut di buat alur cerita yang menggambarkan bahwa, jika sosok ANU di sandingkan dengan tokoh ANU maka akan sukses memimpin daerah, atau indonesia. setelah di buat, bergeraklah para Buzzer dan akun-akun ternaknya untuk membagikan, memberikan like, dan membuat komentar yang menyetujui cerita “fiktif nan khayal” tersebut.

Berulang kali cerita ini di buat, sampai akhirnya hal ini menjadi sebuah kebenaran di tengah masyarakat. Ingat rumus untuk melakukan cuci otak menggunakan teknik psikologi sebenernya mudah, “Kebohongan Yang Terus Menerus DI Ciptakan dan Di Hadirkan, Akan Menjadi Sebuah Kebenaran Yang Ternyatakan, dan Kebenaran Yang Jarang Dinyatakan, Akan Menjadi Kebohongan Yang Tak Terhindarkan”

Coba saja anda praktekkan sendiri, anda atau teman anda berkata bohong, secara berulang dan terus menerus, akhirnya kebohongan yang dilakukan tersbut dipercayai oleh diri sendiri atau sosok yang berbohong dan yang mendengar sebagai sebuah kenyataan.

Jika kebohongan tersebut sukses dilakukan, maka berita bohong yang menjadi benar ini terdengar kepada parpol atau tokoh popular (asli) yang di maksud. Dan terjadilah deal-deal politik.

Masih Relevankah Polling Media Sosial Saat Ini?

Melihat dari sistem algoritma tersebut, penulis beranggapan bahwa polling di media sosial saat ini hampir tidak begitu relevan, jika digunakan untuk mengukur kepopuleran ataupun kepuasan masyarakat yang ada. Toh polling di buat biasanya yang memberikan vote dapat berulangkali melakukannya. Toh jika tidak dapat dilakukan berulang kali, masih dapat melakukan vote dengan akun-akun ternak. Toh jika kurang dengan menggunakan akun ternak, jasa Buzzer yang bergentayangan diberdayakan untuk memberikan vote. Vote inilah yang menjadi bahan dan digeneralisirkan, bahwa para partisipan voting adalah “masyarakat” secara umum pengguna media sosial.

Memilih cerdas di era keterbukaan informasi ini memang gampang-gampang sulit. Terkadang orang yang begitu menawan di media, tak begitu kentara kontribusinya. Sementara orang yang begitu senyap dan tak terdengar, terkadang justru itulah sosok yang telah banyak berkontribusi bagi masyarakat sekitarnya.

Pilihlah dengan hati nurani yang memang hal tersebut merepresentasikan suara anda. Memang sulit, karena ranah politik adalah ranah kaum yang cendrung memiliki bekingan berduit. Sehingga citra apapun tak terasa sulit di ciptakan walaupun “posisinya terjepit”. Terjepit kasus lah, terjepit sekandal lah, atau terjepit hutang. Hutang janji politik tentunya.

Opini Ini ditulis Oleh Muhamad Fadhol Tamimy

Penulis adalah co-founder Psikoma.com sekaligus pemerhati media sosial


admin

Pencinta Psikologi, percandu kata, hidup Psikologi Indonesia