Berbuat baik kepada rekan kerja dan siapa pun di tempat kerja ternyata memiliki peran psikologis tersendiri. Itulah yang Olivia O’Neill, PhD dari Universitas Manajemen dan Bisnis Stanford yang psikolog Jamil Zaki, Kristin Neff, Jay Narayayan, dan Kim Cameron¬† pada sebuah konferensi tahun 2015 yang lalu. Olivia menyebutkan hal-hal yang perlu dipelajari manajer dari para peneliti tersebut.

Salah satu tema dari konferensi ini adalah yang memperdulikan kesejahteraan sendiri dan memperhatikan kesejahteraan orang lain ternyata tidak bertentangan. Menunjukkan kasih sayang di tempat kerja dalam prakteknya tidak membutuhkan waktu dan energi.

 Psikologi Berbuat Baik di Tempat Kerja

Apa Hasil Penelitian Tersebut?

Banyak pekerjaan menemukan bahwa ketika orang mendapatkan marah, mereka benar-benar tidak merasa peduli dan tidak mau berbuat baik sama sekali. Seorang pemimpin yang marah merasa mengekspresikan kebaikan kepada bawahan hanya akan membebani. Sehingga manajer tidak mau tahu, yang penting bawahannya melakukan apa yang ia mau, tanpa perduli caranya.

Ternyata penelitian menunjukkan emosi itu menular. Bawahan sangat mungkin menangkap emosi dari para pemimpin mereka. Sayangnya, orang yang berkuasa cenderung menunjukkan emosi yang terburuk di mata bawahannya. Jamil Zaki mengatakan bahwa penelitian terbaru menunjukkan bahwa emosi negatif tidak akan membantu dalam mendapatkan kinerja terbaik bawahan.

Apakah Berbuat Baik Pada Bawahan Tergantung Pada Jenis Pekerjaan?

Penelitian menunjukkan bahwa karyawan yang baik, murah hati, dan penuh kasih cenderung tertarik ke dan memilih organisasi yang sejalan dengan kebaikan mereka. Secara tidak langsung, budaya organisasi akan mendapatkan tim yang terbaik dan memiliki orang-orang yang menyadari pentingnya kontribusi, dan pada akhirnya melahirkan kinerja yang terbaik. Bahkan, bukan tidak mungkin budaya tersebut berorientasi pada prestasi pribadi, namun tetap menghormati orang lain.

Jay Narayanan berbicara tentang memaafkan. Dia menunjuk sebuah eksperimen pintar yang menunjukkan bahwa menolak memaafkan orang lain karena takut akan membuat pemimpin tampak lemah. Ia mengambil contoh beberapa pemimpin yang kuat, seperti Nelson Mandela dan Gandhi, yang dikagumi karena mereka bisa membalas dendam tetapi tidak melakukannya.

Inti konferensi itu adalah melakukan hal positif di tempat kerja kepada bawahan, atasan, dan rekan kerja lainnya membuat karyawan merasa lebih baik dan lebih termotivasi. Memperbanyak rasio pujian lebih dari koreksi, seperti 3 kali lebih banyak memuji kinerja karyawan daripada mengoreksinya, akan memberikan ruang untuk perubahan perilaku dan budaya organisasi yang positif. Budaya ini akan membentuk tim terbaik yang mau berkontribusi pada perusahaan. By: Mierza miranti