Perlukah Menjadi Teman Yang Jahat Saat Kebaikan Tak Lagi Berbalas?

Perlukah Menjadi Teman Yang Jahat Saat Kebaikan Tak Lagi Berbalas?

January 26, 2017 Off By admin

Perlukah Menjadi Teman Yang Jahat Saat Kebaikan Tak Lagi Berbalas?Nama : Ais
E-mail : lisa.xxyahoo.co.id
Judul : Bagaimana Cara Menemukan dan Memiliki Teman Sesungguhnya ?
Isi Konsultasi : Terima kasih telah meluangkan waktunya membaca keluhan yang saya alami. Saya adalah orang yang periang, ramah, dan mudah sekali bergaul serta beradaptasi dengan orang baru. Karena kepribadian saya yang sanguinis itulah saya mudah sekali mendapatkan teman, bahkan ditempat dimana tidak ada satupun orang yang saya kenal, saya bisa mendapatkan sekumpulan teman baru dengan mudahnya. Sebagai teman, saya tentunya berperan dengan sangat baik seperti menjadi tempat berbagi cerita (curhat), memberikan pertolongan ketika mereka membutuhkan, dan tidak merasa kerepotan ketika harus meluangkan waktu sibuk saya untuk mereka. Hanya saja, saya tidak pernah merasa bahwa saya benar-benar memiliki mereka (teman) seperti anak normal yang lain.

Saya merasa hanya menjadi mediator saja ketika mereka memiliki konflik dengan teman mereka yang lain dan ketika permasalahannya selesai, mereka meninggalkan saya begitu saja; saya merasa hanya menjadi penyedia jasa yang dibutuhkan ketika mereka butuh dan berpaling ketika saya yang membutuhkan mereka dengan dalih mereka tidak bisa melakukannya karena ada hal lain, dan saya dengan gampangnya memaklumi mereka berkali-kali; ada dari mereka yang hanya memanfaatkan reputasi saya dan pergi ketika melihat ada yang lebih populer dari saya; saya seperti orang asing di tengah-tengah kelompok pertemanan orang lain.

Orang tua sering mengatakan “kamu mungkin memiliki banyak sekali teman dan selalu bersikap baik kepada siapapun, tapi kamu harus bisa membedakan antara menjadi teman yang bermanfaat dan teman yang dimanfaatkan, selama ini yang kami lihat kamu sudah dimanfaatkan oleh teman-temanmmu” Sejak saat itu saya mulai kembali kepada sikap saya yang lama yaitu menjadi tidak peduli, dan menjadi lebih arogan untuk menyampaikan ketidaksukaan saya terhadap perilaku orang lain. Saya juga ingin menjadi orang ditakuti dan dipatuhi oleh teman-teman meskipun diri saya yang lain mengatakan bahwa itu tidak akan memberikan keuntungan apapun.

Apakah saya mengalami gangguan kepribadian ? Terima Kasih nb : Awalnya saya bukan orang yang menyenangkan meskipun saya memiliki beberapa teman dekat yang saat ini sudah tidak tinggal dalam satu wilayah dan orang tua khawatir terhadap sikap saya yang seperti itu sehingga merubah saya menjadi orang yang menyenangkan dan ramah terhadap orang lain, namun ketika menjadi baik saya justru seakan tidak memiliki teman karena mereka hanya memanfaatkan kebaikan saya saja.

Jawaban

Untuk mba ais yang baik hati. Trimakasih telah percaya pada saya untuk mendengarkan keluh kesah anda. Semoga anda selalu diberikan kemudahan, kebahagiaan dan keikhlasan dalam menjalani hidup. Sebelumnya, perlu kita cermati bahwa tidak ada yang rugi dan kerugian yang akan melanda diri kita saat berbuat baik dan membantu siapapun. Jika kita merasa rugi, cobalah untuk merenungkan sejenak, sudahkah kita benar-benar menerapkan keikhlasan dalam diri? Lalu apakah keikhlasan yang kita miliki saat membantu orang lain telah pudar? Penting untuk selalu merenungi hal tersebut

Jika telah pudar yuk mari untuk kembali kembali mencoba untuk membangun keikhlasan tersebut. Coba deh mba ais cermati lagi, orang-orang di luar sana yang di takuti. Apakah mereka bahagia dengan hal yang demikian? Bisa jadi ia bisa jadi tidak. Tapi percaya deh mereka yang ditakuti, akan sulit berdekatan dengan orang di sekitarnya. Coba kita ambil contoh pereman yang ditakuti, apakah ada orang-orang yang dekat? Tentu kalaupun ada itu Cuma sekedar cari aman. Dan bahayanya jika menjadi orang yang ditakuti, justru berpotensi memunculkan musuh-musuh baru yang akan siap menyerang anda disaat anda berada dalam titik lemah.

Siapa sih yang nyaman di saat kita membutuhkan pertolongan di titik terlemah, justru diserang oleh orang lain.

Harapan orang tua anda untuk menjadikan anaknya baik sudah tepat, untuk menyempurnakannya lagi adalah dengan terus melakukan hal terbaik.

Ada beberapa cara agar kita mampu menjadi orang baik seutuhnya atau teman baik. Diantaranya adalah sebagai berikut;

  1. Bertekad

Tumbuhkanlah tekad bahwa anda ingin berubah dan bahagia dengan aktifitas kebaikan yang anda lakukan saat ini. Memang terkadang wacana itu mudah, dan sulit untuk merealisasikannya. Namun apakah anda akan terus-menerus di landa ketidak enakan dalam hati? Oleh sebab itu, mulailah tumbuhkan tekad

  1. Pantang Menyerah

Lakukan apa yang sudah dilakukan dan jangan mundur, walaupun terkadang kesulitan akan menjadi penghalang. Baik itu kesulitan dalam hal teknis, ataupun untuk urusan hati.

  1. Teguhkan Niat

Teguhkan niat anda. Dengan niat yang telah di azamkan dalam hati, akan menjadi penguat anda menjadi pribadi yang lebih baik

  1. Konsisten

Lakukan apa yang telah di lakukan tersebut dengan konsisten. Segala hal yang dilakukan dengan terpaksa di awal, namun jika dilakukan terus menerus dan konsisten, justru akan menjadi habbit, dan keikhlasan.

  1. Yakin

Selalu yakini, bahwa jalan anda berbuat baik untuk mempermudah orang lain tersebut adalah sudah tepat. Dengan yakin anda akan merasakan kemantapan dalam bertindak.

  1. Berpikir Positif

Dan terakhir agar itu semua mudah di lakukan adalah dengan berpikir positif. Selamat mencoba untuk mba ais. Psikologi Mania