Pendekatan Insentif Dalam Pola Interaksi Masyarakat Saat iniPendekatan insentif – Jika kita memahami makna insentif tentu dalam bayangan kita adalah sebuah bayaran. Bagi para guru insentif ini sangat terkenal dan populer, karena insentif ini merupakan sebutan dari honor yang diberikan secara bulanan dari pemerintah daerah. Besaran insentif ini pun berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lainnya.

Namun hal yang lain akan berbeda pengertiannya, meskipun maknanya sedikit nyerempet dengan insentif yang dipahami oleh kaum guru sebagai honor. Apabila ditinjau dalam ilmu psikologi, insentif ini merupakan sebuah pendekatan yang menekankan pada faktor eksternal yang menyebabkan seseorang untuk berlaku atau bertindak dan berkehendak. Faktor eksternal tersebut, biasanya berupa reward yang di senangi ataupun dibutuhkannya.

Pola-pola mengharapkan riward dalam setiap melakukan interaksi, seperti saat ini kian populer keadaannya. Hal tersebut dapat kita lihat di dalam kehidupan sehari-hari. Betapa banyaknya orang-orang yang selalu memiliki motif terselubung untuk mendapatkan keuntungan ketika membantu orang lain, yang sedang tertimpa musibah sekalipun. Entah itu reward berupa pemberian barang yang mampu untuk langsung dimanfaatkan ataupun kepopuleran dari sebuah citra diri.

Citra diri ini paling banyak dipraktekkan oleh para politisi yang tengah berambisi untuk maju dalam pertarungan medan laga memperebutkan kursi kepala daerah. Setiap gerak gerik yang di munculkannya untuk berinteraksi selalu ada kamera yang mengiringinya. Tak peduli kamera tersebut mengikuti karena memang sebuah keharusan liputan ataupun kamera yang sengaja dibayar untuk mempercantik citra diri sebagai reward amunisi pencitraan di kampanye nantinya.

Keikhlasan dalam setiap bantuan pun kian semu, manakala aksi turun lapangannya tak didasari oleh kemunculan rasa kemanusiaan, melainkan di bumbui oleh modus modus politik di dalamnya. Jepret sana jepret sini, pose sana pose sini yang penting terlihat paling dermawan hingga raihan polling kepopuleran mengungguli para calon pesaing.

Bangsa indonesia yang dahulu dikenal akan keramah tamahannya oleh dunia inernasional, seakan tak berdaya oleh budaya yang berasaskan individualisme beraroma kapitalisme. Ya kapitalisme yang telah mengajarkan bangsa ini untuk menjauhi identitas membentuk sejati, sebuah bangsa yang identik dengan kekeluargaannya. Karena bangsa yang berasaskan kekeluargaan tidak akan sehina itu, untuk hanya sekedar menyisipkan kepentingan ataupun pengharapan rewerd dalam setiap kehidupan bermasyarakatnya. By Muhamad Fadhol Tamimy