Pemimpin Dan Sistem Kepemimpinan Dalam PsikologiSistem Kepemimpinan – Sesuai dengan sebuah persoalan dalam sistem kepemimpinan yang dinamis dan kreatif demokratis, maka dalam setiap pembahasan terkait kepemimpinan maka hal ini akan menjadi sebuah pertanyaan. Apakah pemimpin di lahirkan ataukah di turunkan.

Kemudian permasalahan ini di rumuskan oleh Kreach di dalam kalimatnya leader are born or made, ini berarti apakah pemimpin dan sistem kepemimpinan itu lahir dari keturunan ataukah karena sebuah pembinaan (training or made).

Apabila memang arus di akui kebenaran bahwa seorang pemimpin dan sistem kepemimpinan itu sendiri adalah bagian dari keturunan, maka berarti masalah bakat keturunan dan juga karena itu hanya daripada keturunan keluarga tertentu, ras tertentu, golongan tertentu dapat ditunjuk atau di angkat kembali menjadi seorang pemimpin dalam sistem kepemimpinan untuk menduduki status seorang pemimpin.

Pemimpin Dan Sistem Kepemimpinan Dalam Psikologi

Hal yang demikian pun berarti meniadakan segala kesamaan humanitas manusia, termasuk pula untuk memilih dan juga di pilih, dan tentunya hal ini adalah sistem aristokratis tradisional yang tak mengakui mobilitas sosial seorang manusia di dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

Dengan demikian permasalahan kepemimpinan merupakan masalah genealogis dan bukan permasalahan sosial psikologis.

Sebaliknya jika kita berpijak pada kebenaran bahwa seorang pemimpin dan juga sistem kepemimpinan terlahir dengan pembinaan dan pendidikan maupun training, maka tiap individu mendapat kesempatan yang sama pula untuk menjadi seorang pemimpin dan status kepemimpinan selama ia terbina suatu skill dan juga sikap yang diperlukan guna menjadi seorang pemimpin organisasi tertentu dan situasi tertentu.

Tentu semua hal ini mengharuskan seorang calon pemimpin harus mendapatkan pendidikan maupun training tertentu. Dengan pendidikan dan training tertentu, seorang calon pemimpin dalam sistem kepemimpinan di bekali dengan pendisiplinan secara rasional guna menjalankan tugas dan juga fungsinya dengan baik menjadi seorang pemimpin.

Dengan demikian, permasalahan kepemimpinan merupakan masalah sosial psikologis, dan juga bukan secara biologis genealogis seperti yang dipercaai oleh masyarakat aristokratis dengan segal bentuk variasinya, seperti pada zaman modern saat ini antara lain sosial politik, ideology, militeris, dan juga kapitalis.

Skill dalam suatu teknik kepemimpinan, merupakan sikap-sikap yang diperlukan serta kepribadian yang harus detraining tersebut berbeda beda dengan keragamann di dalam perbedaan kondisi situasi organisasi yang mana akan selalu berkembang dan berubah.

  1. Kepemimpinan Menurut Ajaran Tradisional

Ajaran – ajaran daripada tradisional seperti misalkan saja di daerah jawa, menggambarkan tugas dari seorang pemimpin dalam sebuah pepatah sebagai berikut; “ing ngarsa asung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuru handayani”.

Pepatah tersebut seringkali digunakan oleh almarhum Ki hajar Dewantara, yang juka apabila diterjemahkan dalam bahasa indonesia memiliki artian; di muka memberikan tauladan, di tengah – tengah membangun semangat, dan di belakang memberikan pengaruh.

Seorang pemimpin memanglah harus memiliki idealism yang kuat, serta dengan status maupun kedudukannya tersebut; menurut watak dan juga kecakapannya, seorang pemimpin tersebut dapat dikatakan sebagaimana pemimpin di depan, tengah dan juga di belakang.

Seorang pemimpin di muka haruslah memiliki idealism kuat,, dan juga ia harus mampu menjelaskan cita – cita kedepan pada rakyat, masyarakat dengan cara sejelas mungkin. Oleh sebab itulah ia harus mampu menentukan sebuah tujuan dari sistem kepemimpinan yang di bangun, guna menentukan arah dan tujuan kedepan.

Seorang pemimpin di tengah – tengah mengikuti kehendak yang di bentuk oleh masyarakat. Ia pun akan selalu dapat mengamati jalannya masyarakat, serta merasakan suka dukanya. Dan ia pun diharapkan agar dapat merumuskkan sebuah perasaan – perasaan serta perasaan daripada keinginan masyarakat dan mampu menimbulkan keinginan masyarakat untuk memperbaiki keadaan yang kurang menguntungkan.

Seorang pemimpin di belakang, ia di harapkan memiliki kemampuan dalam mengikuti perkembangan di tengah masyarakat. Ia memiliki kewajiban untuk menjaga supaya perkembangan masyarakat tidaklah menyimpang daripada norma – norma dan nilai yang pada suatu masa dihargai masyarakat. Sendi – sendi dari kepemimipinannya adalah sebuah keutuhan yang harmonis di tengah masyarakat. Pemimpin yang demikian memiliki kecendrungan untuk menjadi formalistis, bahkan seorang pemimpin yang tradisionalistis.

Kepemimpinan di belakang masih jelas saja tergambarkan dari istilah – istilah seperti “Pamong praja”, “Pamong Desa” dan lain sebagainya, yang mana hal tersebut menggambarkan bahwasanya ia memiliki fungsi untuk membimbing masyarakat. Ia harus mampu menciptakan sistem kepemimpinan yang adil, menjadi sandaran masyarakatnya.

Untuk sistem kepemimpinan tradisional di indonesia, pada umumnya memang bersifat sebagai kepemimpinan di belakang, dan masih dipertahankan hingga dewasa saat ini terutama dalam masyarakat – masyarakat hukum adat.

  1. Kepemimpinan Yang Efektif

Secara sosiologis, seorang pemimpin haruslah memiliki sandaran – sandaran kemasyarakatan ataupun social basis. Petama – tama kepemimpinan memiliki keidentikan hubungan dengan susunan masyarakat. Misalkan saja dalam masyarakat agraris, yang mana belum memiliki spesialisasi. Biasanya sistem kepemimpinan meliputi seluruh bidang daripada kehidupan masyarakat.

Selain daripada hal tersebut, kekuatan kepemimpinan juga ditentukan dari lapangan kehidupan masyarakat yang mana pada satu saat ia mendapat perhatian khusus dari rakyat/ masyarakat daripada lapangan – lapangan kehidupan lainnya (Cultural focucs).

Cultural Focus ini dapat berpindah – pindah; misalkan saja dalam suatu waktu ada di lapangan politik, mungkin di waktu lain di lapangan hukum, lalu ekonomi, dan seterusnya. Jika pada suatu saat cultural focus beralih, maka sang pemimpin haruslah mampu dalam mengalihkan titik terberat kepemimpinannya pada cultural focus yang baru.

Tiap kepemimpinan yang efektif, haruslah mampu memperhitungkan basis sosial, jika tak menghendaki munculnya ketegangan – ketegangan ataupun setidak – tidaknya mencegah daripada adanya pemerintahan boneka belaka.

Kepemimpinan dalam masyarakat masyarakat hukum adat tradisional dan homogeny, memang perlu untuk disesuaikan dengan susunan masyarakat masyarakat tersebut yang masih tegas – tegas memperlihatkan ciri – ciri gemeinschaft linch (paguyuban) nya di tengah masyarakat, hubungan pribadi antara para pemimpin dengan mereka yang dipimpin, sangatlah di hargai.

Hal tersebut disebabkan oleh sebab pada umumnya, seorang pemimpin tak resmi informal leaders yang mendapat dukungan daripada masyarakat, dikarenakan tradisi atau karena sifat – sifat yang menonjol dalam dirinya.Dengan demikian, masyarakatlah yang menaruh kepercayaan terhadap pemimpin tersebut, beserta paraturan – peraturan yang dikeluarkannya.

Perlu dicatat, bahwa kepemimpinan di dalam masyarakat tradisional pada umumnya dilakukan secara kolegial (bersama – sama). Dengan demikian, maka keputusan – keputusan dari pemimpin – pemimpin tersebut sekaligus merupakan sebuah rasa keadilan masyarakat yang bersangkutan. Umumnya para pemimpin masyarakat tradisional merupakan pemimpin – pemimpin di belakang ataupunn di tengah. Jarang sekali mereka menjadi pemimpin yang berjenis di muka.

Sebaliknya jika ditinjau dan juga ditelaah keadaan di mana kota-kota besar, maka susunan dari masyarakat kota tersebut menghendaki kepemimpinan yang lain dari kepemimpinan yang ada di masyarakat tradisional. Guna memenuhi kebutuhan tersebut, setiap golongan di kota – kota tersebut tak dapat lagi dilakukan melalui hubungan – hubungan pribadi, namun melalui kebijakan – kebijakan rasional yang di perlukan.

Untuk sistem kepemimpinan tersebut para pemimpin ini haruslah mengambil kesimpulan bahwa pola pola kepemiminan di Indonesia khususnya dan juga pada masyarakat lainnya, haruslah memperhatikan susunan masyarakat dan juga cultural focus masyarakat, agar kepemimpinan tersebut dapat terlaksana secara efektif. By: Muhamad Fadhol Tamimy


admin

Pencinta Psikologi, percandu kata, hidup Psikologi Indonesia