Metode Untuk Menghadapi Pasangan Yang Selalu Berfikir Negatif Terhadap Orang Lain

Nama: Nia
Judul : suamiku selalu berpikir negatif
Isi Konsultasi : Dear team.Psikologi Indonesia, Mohon sarannya bagaimana menghadapi suami yang selalu berpikir negatif terhadap orang lain. contohnya dalam sosialisasi dalam lingkungan rumah kami ,tetangga dpn rmh yg menurut suami sy mrk ngece or ngejek in krn stiap kami ada di rumah selalu menutup pintu atau bila awalnya pintu mereka terbuka dan kami datang sampai rumah kami maka pintunya langsung ditutup dan hal ini bisa mmbuat suamiku kepikiran dan keluarlah kata kata negatif nya tersebut sedangkan menurut saya biarkan saja mereka tutup pintu mngkin mereka malu tapi reason saya ini ga diterina suamiku. saya jug ga terlalu dekat dengan para tetangga karena kondisi pergi pagi pulang malam jadi jarang ngobrol” tapi saya punya prinsip kalau ketemu mereka dapat senyum or say hai dan ini beda lagi dengan suamiku yg pasti berpikiran si bpk itu sombonglah si bapak ini sok lah ,semua orang dinilai dengan negatif. Dan kadang sekali waktu saya protes dengan pikirannya tersebut maka kami jadi berantem karena saya tidak suka suami terlalu punya pikiran buruk kepada orang karena belum tentu orang tsb sesuai dengan tudihannya tsb.

Dan begitu juga pikiran suamiku dengan saudara”ku trutama 2 adik saya yg trkadang dia tercetus pikiran negatifnya.sblumnya bila adik sy dtg maka dia selalu dikmar tdk mau nemuin,sy berpikir ohh mngkin krn suamiku anak bungsu shg mngkin dia tdk prnah tahu rasa berbagi dg saudara trutama adik dan bila sy bknjung ke rmhbadik sy maka suami sy nunggu di teras tdk mau nimbrung ngobrol” kecuali dari adik saya yg memulai pembicaraan. kalau saya perhatikan gaya pikiran negatif suamiku ini telah berkarat karena kami telah menikah 10th dan ketika menerima hal baru maka itu jd masalah bagi dirinya. Kondisi sblum kami di tmpt skrg sblumnya suamiku juga ada masalah dengan tetangga kami (mr.a) ya karena dia selalu berpikiran negatif tersebut tetapi lucunya sekarang bisa bilang masih mending dengan orang tersebut (mr.a) daripada dengan tetangga yang sekarang.

Ada lagi saat awal pindah rumah juga ada trouble karena saya pasang kipas angin dan tidak ngomong lebih dahulu dan karena juga beli kipasnya tersebut saya nitip adik saya akhirnya kami bertngkar tapi buktinya sekarang kipas tersebut sering dipakai jg sama dia tp krn pikiran awalnya sdh negatif jadi dibuat pusing sendiri. Ada lagi hal yang lucu…suamiku terlalu ngurusin barang” yang emang kalo dipakai akan ada penyusutan or menjadi tidak bagus lagi. Contoh mobil bila habis dipakai harus langsung di lap dibersihin walupun sampai rumah bisa sudah malam jadinya kesannya menyiksa diri sendiri tidak dpt menikmati hidupnya. Sama 1urusan yang sering buat kami berantem adl urusan kompor,kebenaran kompor kami model tanam dan ini jd masalah bila saya masak karena nanti kotor nanti besinya hitam nanti apalah disbutin dan kdg bila selesai masak sdh sya bersihkan tetap dibersihkan lg . Akhirnya sy yg mengalah dari pada ribut jadi saya banyak mengrangi frekwensi masak dan jadi lebih sering makan diluar. O iya satu lagi kami menikah 10th dan belun dikaruniain keturunan ,saya baru menikah umur 32 th suami 34 saat ini kami sdh makin tua dan saya berprinsip untuk menikmati hidup jadi dibawa happy saja tapi terkadang suamiku terlalu berpikir yang tidak manfaat, mikirin org lain yg negatif”. saya pribadi mencoba memahami semua kondisi pikiran suamiku karena bila tidak saya juga akan stress sendiri. Dl awal seblum menikah saya sudah prnah mmebrikan buku tentang berpikir positif tapi mungkin ga trlalu didalami sehingga saat menikah kembali lg pikiran negatif. Di dunia kerjanya jg sama awal”nya suamiku sllau ada cerita ttg 1org yg dia nilai negatif tp selalu sy bantahkan krn blum tentu orgtsb sprti yg dia kira akhina sdh tdk muncul lg cerita tsb. Dan adalagi crita pikiran negtifnya ,dijln raya saat berkendara bila ada disalip mobil lain dan kodisi mobil tsb lbh bgus dan akan tercetus krn mobil kita jelek org itu pasti ngece in #tuiiing selalu negatif yg keluar kdgbsybingatkn belun tentu org itu berpikiran sprti itu. Mohon masukannya ya. Terimakasih. Salam, Nia

 

Jawaban: Dear Nia menjalani hidup bersama suami seperti apa yang mba ceritakan mungkin memang menjadi pengalaman tersendiri untuk mba. Memang dalam menyikapi pasangan yang selalu saja berfikir negatif diperlukan kesabaran dan ketelatenan. Kondisi yang di alami jika seseorang telah akut untuk selalu berfikir negatif dalam menyikapi segala hal biasanya disebabkan oleh banyak faktor seperti masa lalu, lingkungan, keinginan yang belum terpenuhi hingga juga pola asuh orang tuanya.

Namun begitu perlu adanya komunikasi lebih lanjut untuk memastikan penyebab dari awal mula kebiasaan untuk berfikir negative tersebut. Jika mba telah mengetahuinya tentu akan lebih mudah dalam menanganinya.

Pola komunkasi dalam menegur suami yang sedang berfikir negative pun adakalanya di dahului dengan basa-basi terlebih dahulu. Menegur pun sebaiknya tidak dengan metode “protes” karena hal tersebut justru malah akan membuatnya semakin melakukan penolakan. Metode diskusi sharing akan lebih efektif karena nantinya aka nada timbal balik, bukan ke arah defensive. Namun memang jika mencoba pola baru seperti ini tak serta-merta langsung berubah 180 derajat sikap suami anda, namun setidaknya jika anda mencobanya dengan sabar dan telaten pola komunikasi sharing ini akan mampu sedikit banyaknya membantu.

Untuk hubungan kemasyarakatan terkait dengan tetangga, akan lebih baik jika disempatkan barang 1 hari saja dalam sebulan atau semampu anda dan keluarga untuk berumpul bersama masyarakat. Entah itu di momen kerja bakti atau apapun, karena hal tersebut nantinya akan membiasakan untuk berusaha saling mengenal dengan tetangga. Dan tentunya jika hal tersebut rutin untuk di lakukan, berfikir negative terhadap tetangga pun akan sedikit berkurang.

Selain itu juga, memang pernikahan yang telah berumur lebih dari 10 tahun belum memiliki momongan akan merasakan ujiannya tersendiri. Hal itu kami memahami disamping kesibukan kalian, juga karena faktor usia yang sudah beranjak tak muda lagi. Namun tetap berusaha adalah jalan yang bisa dilakukan oleh kita sebagai manusia, sempatkanlah quality time anda dengan suami anda untuk sekedar bersatai tanpa ada gangguan dari siapapun. Di waktu itu selain anda bisa menjalankan kewajiban kalian berdua sebagai suami istri anda pun dapat saling shareing, komunikasi hingga memberitau apa-apa saja harapan dan unek-unek yang selama ini kalian rasakan. Perlu diingat lagi, komunikasi tetaplah harus saling memahami dan saling mengalah.

Yakinlah bahwa dalam kehidupan pernikahan ngalah tak harus berarti kalah. Tapi Ngalah adalah celah agar hubungan tak rentan goyah.

Psikologi Mania