Sebaiknya Menikah Dahulu Atau Menunda Sampai Lulus Dan Mendapatkan Pekerjaan?

Sebaiknya Menikah Dahulu Atau Menunda Sampai Lulus Dan Mendapatkan Pekerjaan?

August 1, 2017 Off By Admin

Sebaiknya Menikah Dahulu Atau Menunda Sampai Lulus Dan Mendapatkan Pekerjaan?Menikah atau menunda. Dalam sebuah kesempatan bursa kerja di salah satu sudut kota, unyil tengah melihat beberapa papan pengumuman terkait info lowongan kerja yang tertera di banner utama pelataran gedung. Sebelumnya unyil merupakan seorang anak muda berusia sekitar 24 tahun yang hendak menyelesaikan akhir studinya

Dengan cermat unyil melihat satu persatu teliti posisi, syarat, hingga peluang diterima atau tidaknya.

Dari syarat tersebut si unyil beberapa di antaranya memiliki kemampuan, kecakapan, dan masuk di kualifikasi yang telah disyaratkan. Untuk urusan gelar mungkin hal ini masih bisa didiskusikan lagi dengan perusahaan yang bersangkutan. Meskipun sebenarnya persyaratan gelar ini terkadang menjadi hal yang masih sangat unik. Dikatakan unik mengingat gelar akademis ini terkadang tidak menjadi jaminan mutu seorang memiliki kualifikasi seperti yang diharapkan. Dan mungkin pada akhirnya nanti syarat kualifikasi keakademisan ini menjadi salah satu bumerang bagi perusahaan itu sendiri, mengingat banyak kandidat yang super potensial menguntungkan Perusahaan namun dikarenakan administrasi akademis yang kurang akhirnya mereka harus terisish di tengah jalan. Hanya perusahaan beruntunglah yang bisa yakin dengan kemampuan para orang hebat non gelar akademis ini :D.

Lanjut ke unyil yang tengah termenung sembari duduk jongkok merenungkan hal yang membuatnya gundah gulanah. Kegundahan tersebut karena terdapat syarat yang membuatnya harus menunda meresmikan cinta kasih kepada sang pujaan hati. Yah sebuah syarat yang agak aneh namun hal ini menjadi lumrah di republik yang terkenal dengan wkwkwk island tercinta ini. Syarat “lajang, belum menikah, berpenampilan menarik”

Iya sibuk menimbang dan memutuskan apakah iya akan menikah dahulu dengan konsekuensi sulit mencari pekerjaan bergengsi kedepannya semacam Officer Devlopment Program (ODP) di Bank ternama, perusahaan ternama, PCPM di bank Indonesia, management trainee di korporasi besar lainnya, hingga rekrutmen PNS pun tak jarang yang mensyaratkan hal ini.

Kebimbangan dirinya pun setali 3 uang dengan persepsi orang tuanya yang percaya bahwa menunda pernikahan adalah hal yang lebih baik di bandingkan dengan hilangnya kesempatan bekerja.

Permasalahan ini pun akhirnya membuat unyil berada dalam dua kebimbangan antara menunda pernikahan ataukah maju terus berjuang bersama merancang masa depan dengan sang kekasih tercintanya.

Dari kisah di atas, ada kalanya hal ini dialami oleh unyil-unyil lainnya di indonesia.

Sebagai bahan pertimbangan dan pengetahuan kita bersama. yaitu pernikahan adalah sebuah hak asasi yang dimiliki oleh setiap manusia. Dalam beberapa penelitian yang telah di teribtkan oleh beberapa jurnal-jurnal top ataupun papaer penelitian dari para peneliti handal di seluruh dunia. Misalnya saja paper berjudul “How Does Marriage Affect Physical and

Psychological Health? A Survey of the Longitudinal Evidence ” oleh Chris M Wilson dari University of East Anglia, Andrew J. Oswald dari University of Warwick, Harvard University

and IZA Bonn, penelitian berjudul “Happy Marriage: A Qualitative study” yang diterbitkan dalam Pakistan Journal of Social and Clinical Psychology, hingga penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal paling bergengsi di dunia psikologi American Psychologycal Journal (APA) oleh Wiliam J chopick (Michigan Unviersity), dan Ed. O Brien (University of Chicago) denga judul “Happy You, Healthy Me? Having a Happy Partner Is Independently Associated With Better Health in Oneself” dimana dalam penelitian tersebut terdapat benang merah dan garis besar bahwa menikah justru membuat kebahagiaan meningkat dibandingkan dengan mereka yang belum menikah.

Walaupun memang penelitian tersebut harus di kaji lagi terkait pernikahan yang bagaimanakah, atau dalam kondisi yang seperti apa. It’s ok namun hal ini telah sepakat bahwa dengan menikah akan membuat bahagia.

Nah kebahagiaan dalam dunia pekerjaan ini menjadi suatu hal yang sangat penting guna meningkatkan performa seorang pekerja. Bayangkan saja jika dalam bekerja anda tidak bahagia. Atau kebahagiaan anda terenggut manakala anda dapat pekerjaan, namun pasangan anda pergi entah kemana karena lamanya anda melamarnya? wah wah wah. Pekerjaannya dapet sih tapi pasangannya? entahlah sampai berapa lama para unyil tersebut cemas galau meratapi nasip.

Disisi Agama, tentu hal ini sudah sangat banyak beberapa uraian mengenai kebahagiaan saat menikah, rezeky yang semakin bertamah, hingga penjagaan terhadap generasi kedepan. Yah minimal generasi bangsa kita lahir dari cinta yang murni, bukan dari hasil dari kepepet.

Dari segi psikologis pasangan khususnya suami, tentu ia justru semakin bersemangat dalam bekerja karena ia memikirkan ada keluarga yang harus ia nafkahi, hingga rancangan masa depan saat anaknya nanti lahir kelak. Sebuah hal yang terkadang hal ini menjadi tidak terpikirkan kita semua.

Dari beberapa hal di atas memang tak menutup kemungkinan juga mengapa disyaratkan harus single (belum menikah) khususnya wanita agar bisa lebih fokus dalam pekerjaannya, dan dapat fulltime hingga tidak banyak libur dan cuti mengurus anak. yah masuk akal.

namun alasan di atas yakin itu terjadi pada semua wanita? Nah loh, gimana masih apatis dengan fakta seperti ini, barangkali bisa dikaji lagi agar persyaratan harus single dalam setiap membuat perysaratan lowongan ini bisa dibuat sebijak mungkin.

Monggo silahkan dishare dan pendapatnya agar semuanya mendapatkan manfaat. Psikologi Mania (mft)