Mengenal Secara Mendalam Apa Itu Gangguan Disleksia

Mengenal Secara Mendalam Apa Itu Gangguan Disleksia

February 7, 2017 Off By admin

Mengenal Apa Itu Gangguan DisleksiaGangguan Disleksia – Anda pernah menonton film India berjudul ‘Tare Zameen Par’? Dalam film tersebut mengungkapkan mengenai kesulitan belajar seorang anak yang tak mampu membaca dan mengeja. Menurut Ihsan (anak dalam film tersebut) huruf-huruf abjat yang terpampang dalam text book seperti menari-nari dan berputar-putar. Anda yang tidak memiliki gangguan ini, merasa lucu mendengar jawaban tersebut. Atau bahkan untuk kalangan awam, berpikir bahwa anak itu bodoh! Dengan usia yang anak normal sudah mampu untuk membaca, sedangkan anak ini mengeja saja salah melulu.

Bukan! Dia bukan anak yang bodoh. Hanya saja ia memiliki gangguan dalam mengeja sehingga kemampuan untuk membaca nol. Ia juga akan mengalami kesulitan dalam mengingat huruf. Disitulah timbul gangguan yang dinamakan Disleksia.

Macam-Macam Disleksia

Ada dua jenis gangguan disleksia :

  1. Developmental Dyslexia

Gangguan disleksia yang terkena sejak lahir akibat factor genetis. Sehingga tidak bisa disembuhkan. Gangguan ini menghambat kemampuanya untuk membaca, berhitung, menulis, dan aspek verbal lainya. Meski tak ada obat yang mampu menolongnya, anda bisa meminimalisir hambatan tersebut dengan pendekatan-pendekatan khusus.

2. Acquired Dyslexia

Gangguan yang mulai menyerang manusia menjelang usia dewasa. Mereka akan mengalami cidera otak bagian kiri, sehingga menyebabkan gangguan disleksia. Tandanya adalah ketika dewasa tersebut memroses informasi, ia harus membutuhkan waktu yang lebih lama dari manusia pada umunya. Selain itu mereka juga akan mengalami kesulitan pengorganisasian. Misalnya ia mengingat untuk memakai sepatu, namun lupa memakai kaos kaki

Penyebab Gangguan Disleksia

Penyebab utamanya adalah ada ketidaknormalan atau gangguan termasuk cidera didalam sistem syaraf pusat otak (gangguan neurobiologis) yang implikasinya pada kesulitan berbicara, membaca, menulis, dan berhitung. Kemungkinan terbesar (menurut penelitian terakhir sebanyak 70%) orang anak menderita gangguan ini karena factor genetic atau bawaan. Sehingga jika dalam garis keturunanya ada yang menderita gangguan ini, kemungkinan besar anak cucunya atau saudara lainya juga akan mengidap gangguan yang sama. Sedangkan sisanya 30% berdasarkan factor lain seperti ada luka di dalam otaknya (brain injury), atau ada zat biokimia dalam sel syaraf otak yang mengganggu perkembangan.

Gejala Gangguan Disleksia

Individu yang mengidap gangguan ini kebanyakan menimbulkan gejala yang tidak pasti. Misalkan ia susah untuk membedakan kata ‘paku’ dan ‘palu’. Atau bisa saja ia menulis angka 4 dengan huruf ‘h’. Kesulitanya mengidentifikasi huruf dan angka membuatnya lamban.

Apalagi dalam hal mendikte, anak harus berpikir berulang kali untuk memahami informasi yangbaru ditangkapnya. Lalu ia harus menuangkan informasi tersebut dalam catatan. Akibat kurangnya memori verbal menjadikanya tak bisa memahami atau mengolah informasi yang ditangkap.

Gejala umum akan lebih mudah dilihat ketika anak memasuki usia cukup besar atau sudah masuk dalam bangku sekolah. Dimana mengharuskan untuk membaca dan menulis. Misalnya :

  • Kurang mampu mengerti dan mengolah kata seperti mencampur adukan kata-kata atau frasa
  • Memerlukan waktu yang cukup lama ketika belajar bunyi abjat
  • Kurang memiliki kepercayaan diri saat membaca buku
  • Lemah dalam menghafalkan urutan (seperti abjat atau hari), nama, dan object
  • Sulit mengidentifikasi huruf dan angka seperti terbalik antara angka 4 dan h
  • Lama memproses informasi baru sehingga pemahaman hal baru sangat kurang
  • Lama mengolah informasi ke dalam tulisan seperti saat di dikte
  • Kepekaan fonologi jongkok
  • Kemampuan berhitung dan berbahasa yang sangat kurang
  • Lamban dalam memahami rima atau pengulangan bunyi dan irama atau ritme lagu
  • Suka mendengar cerita, namun enggan untuk membaca sendiri karena harus berhadapan dengan huruf dan kata
  • Tulisan tangan yang jelek, tidak teratur seperti huruf kadang diatas kadang dibawah, dan susah dibaca

Penanganan Gangguan Disleksia

Seorang anak yang menderita gangguan disleksia memiliki kemampuan yang luar biasa dibidang lain. Siapa sangka ilmuan penemu lampu, Thomas Alfa Edison, pelukis dunia yang terkenal dengan lukisan Monalisa, Leonardo da Vinci, serta actor dunia terkenal seperti Tom Cruise ternyata juga memiliki gangguan disleksia. Namun prestasi besar yang dibuatnya membuat orang-orang mengabaikan gangguannya dalam membaca.

Anda bisa mengetes dengan berbagai permainan yang merangsang kemampuan kognitif. Misal dengan bermain puzzle, menggambar, mewarnai, dan berimajinasi. Mintalah bantuan dari guru kelas yang mendampinginya serta memantau terus perkembangannya. Siapa tahu anak anda adalah ‘the next’

Untuk mendiagnosis gangguan ini, Dokter maupun Psikolog membutuhkan informasi lengkap seperti :

  • Perkembangan Individu yang meliputi riwayat pendidkkan serta kesehatan
  • Kondisi Individu saat di rumah, sekolah, dan pergaulanya dengan orang lain
  • Pengisian kuosioner oleh anggota keluarga dan guru pendamping
  • Tes Pemeriksaan yang meliputi membaca, berhitung, kemampuan mengingat, dan kemampuan verbal
  • Tes Kesehatan seperti penglihatan, pendengaran, dan neurologi untuk mengecek kenormalan fungsi auditori dan visual. Kemungkinan terbesar jika terjadi ketidaknormalan, maka ada factor lain yang menjadi penyebab gangguan tertentu
  • Tes Psikologi untuk mengetahui kondisi kejiwaan pada anak. Misal adanya kecemasan, depressi, tekanan atau disorder lain yang menghambat pertumbuhan anak.

Dengan adanya diagnosis, maka Dokter akan memberikan penanganan pas sesuai dengan kondisi anak. Sehingga penderita bisa menjadi lebih baik keadaanya. Gangguan ini memang tak ada obatnya. Karena pada dasarnya, suatu gangguan merupakan ketidaknormalan fungsi tubuh secara genetis. Hanya saja ada penanganan khusus untuk mengurangi atau mengatasinya.

Salah satu penanganan untuk anak Disleksia adalah dengan pemberian perhatian khusus secara intensif. Sehingga porsi belajar untuk mengingat huruf atau abjat memerlukan waktu lama dan panjang. Usahakan kondisi anak yang selalu stabil dalam keadaan yang menyenangkan. Jadi anda dapat mengajari anak di outdoor dengan permainan. Sehingga anak akan mengingat huruf tersebut lewat pengalaman bermainnya.

Menurut penelitian, pemberian edukasi secara intensif lebih baik di kala usia anak masih dibawah 8 tahun. Dan orientasi lebih pada pemantapan membaca dan menulis. Mulailah pengenalan abjat, menghafal, lalu diajarkan untuk mengeja. Selain itu dilatih secara kontinu untuk menulis huruf. Lebih didalami untuk beberapa huruf yang memiliki karakteristik yang hampir mirip. Seperti huruf b dan d, huruf a dan e, huruf m dan n, huruf m dan w, dan lain sebagainya.

Untuk mengasah kemampuan verbal, anda dapat memulai dengan membacakan cerita yang disukainya. Misal untuk anak perempuan lebih memfavoritkan cerita dongeng, khayalan, fantasi, seperti puteri kerajaan, Barbie, dan princessa. Sedangkan untuk anak laki-laki lebih menjurus ke yang adventure, seperti kisah perjalanan di suatu Negara yang sangat menakjubkan, atau cerita luar angkasa. Itulah beberapa ulasan mengenai gangguan disleksia. Semoga membant. By: Izzatur Rosyidah