Mendidik Generasi Dengan Ketulusan Hati

Mendidik Generasi Dengan Ketulusan Hati

January 18, 2019 Off By Admin

Pendidikan yang baik dapat diibaratkan seorang petani yang merawat dan mengusahakan agar apa yang ditanam dapat menghasilkan bulir padi yang baik berkualitas hingga ia siap untuk dipanen. Dimulai dari membajak, memberi pupuk, menanam, sampai dengan menjaga agar bulir tak di makan hama harus terus menerus dilakukan secara kontinu. Ke semua itu membutuhkan proses panjang dan waktu yang amat melelahkan.

Proses pendidikan adalah salah satu indikator suatu bangsa peduli pada nasibnya di masa mendatang. Maka tidaklah mengherankan jika jepang yang luluh lantak kondisi bangsanya saat hirosima dan Nagasaki dijatuhi bom atom tentara sekutu, mereka bergerak cepat dalam membangun kembali bangsanya. Satu hal yang paling utama serius diperhatikan adalah aspek pendidikan masyarakat dan bangsanya.

Ketidak sabaran pada saat menjalankan proses pendidikan hanya akan membuat proses pendidikan menjadi tidak maksimal bahkan nihil hasil. Banyak sekali contoh yang bisa kita ambil saat proses pendidikan gagal untuk diimplementasikan dalam keseharian kita, dimana mereka yang notabenenya menyandang predikat sebagai orang yang pintar secara akademiknya justru menjadi tukang kibul, maupun otak dibalik kasus korup bernilai milyaran bahkan triliyunan hingga lakon prostitusi online.

Yah bisa jadi mereka yang pintar secara akademik tersebut tak di barengi dengan kecerdasan emosional dan spiritual lantaran dahulu kala ia hanya mengejar nilai diatas kertas selama masa pendidikan tanpa menjiwai proses pendidikan itu sendiri. Yang penting dapat nilai tinggi dan tidak ada remedy, urusan cara untuk mendapatkan dengan cara halal maupun haram tak jadi soal, asal Pak/bu guru, teman dan orang tua senang tak jadi soal.

Suatu kali saya melihat seorang ibu yang menghardik anaknya dengan kasar sekali. Ibu tersebut memiliki beberapa anak yang berusia balita dimana mereka sedang bermain genangan air di depan rumahnya. Kegembiraan yang terpancar diawal permainan pada akhirnya menjadi sebuah bencana bagi sang anak.

Tanpa ampun dan pandang bulu ibu dari bocah tersebut seketika mencubit sekaligus menghardik anaknya sampai membuatnya menangis. Maksud hati ingin menghindarkan anak dari hal hal kotor yang mana ditakutkan dapat membawa penyakit, namun pada akhirnya perlakuan sang ibu justru memunculkan bibit penyakit baru. Sebuah penyakit yang barangkali akan di kenang dan membentuk kepribadian kasar di masa mendatang.

Baca juga 27 Daftar Buku Psikologi Yang Membawa Anda Menguasai Ilmu Psikologi

Pola dengan label didikan akan tetapi menghancurkan ini barangkali sering kita temui di sekitar kita. Teguran yang niatnya dilakukan untuk membangun, namun pada akhirnya justru menjadi aktifitas bully dan memalukan orang yang ditegur. Bukannya membuat sadar akan tetapi justru mereka yang mendapatkan teguran dengan unsur bully pada akhirnya merasakan perasaan minder hingga rasa dendam. Tidak dapat melampiaskan pada orang yang bersangkutan, akhirnya mereka pun melampiaskan pada orang lain.

Hal itu merupakan sebuah konsekuensi dari kondisi psikologis yang dimunculkan dan dibangun. Semakin sering seorang anak mendapatkan perlakuan buruk seperti bully, kekerasan fisik, pengabaian maka tata perilaku dan kepribadiannya pun akan serupa dengan perlakuan yang diterimanya. Kemungkinannya ada dua, jika anak yang mendapatkan perlakuan buruk tak mampu menyalurkan perlakuan yang diterimanya maka jatuhnya pada perasaan minder, tidak percaya diri, sering menyalahkan diri sendiri, merasa tak berguna dan lain sebagainya. Namun sebaliknya jika sang anak tergolong pada orang yang reaktif maka berpotensi menjadikan anak melakukan hal serupa pada orang lain hingga akhirnya ia dilabeli sebagai anak yang bandel, suka dengan kekerasan, suka membully dan lain sebagainya.

Mendidik Anak Dengan Ketulusan Hati

Oleh karenanya mendidik memerlukan sebuah kesabaran dan teknik yang tepat. Tepat dalam arti waktu, tempat, hingga keadaan. Jika melihat anak maupun murid melakukan kesalahan cobalah untuk tidak menegur di depan teman-temannya, karena bisa jadi hal tersebut dapat membuatnya merasa dipermalukan. Cari tempat yang tepat yang mana sekiranya tak membuatnya merasa direndahkan didepan umum. Atau sebagai orang tua saat hendak menegur anak, cobalah untuk melihat pula waktunya. Hindari untuk menasehati anak saat sedang dalam kondisi lelah seperti pulang sekolah. Karena kondisi lelah justru akan membuat sang anak merasa tidak nyaman dan marah.

Proses mendidik anak memang tidaklah instan dan mudah. Ia membtuhkan sebuah kerja sama, kerja keras, konsistensi dan keikhlasan. Kerjasama dalam mendidik generasi bisa dimulai dengan adanya pengertian serta kepedulian dari orang terdekat hingga sampai pada para pembimbing di sekolahnya. Karena mendidik anak dengan ketulusan hati akan lebih bermakna bagi anak dan bagi kita sebagai orang tua. Semoga kita dapat menjadi para orang tua yang perhatian pada anak-anak kita.

Penulis: Muhamad Fadhol Tamimy (co founder psikoma.com penulis buku Sharing mu personal Branding mu)

Untuk menghubungi beliau dapat melakukan korespondensi melalui tamimyf@yahoo.com