Memanfaatkan Psikologi, Selebgram, Dan Fenomena Di Media Sosial Dalam Pemasaran

Memanfaatkan Psikologi, Selebgram, Dan Fenomena Di Media Sosial Dalam Pemasaran

November 7, 2018 Off By Admin

Fulan adalah seorang selebgram yang saat ini tengah naik daun akun instagramnya. Follower yang ia miliki kian hari kian meroket semenjak postingan yang ia buat di re-share ulang oleh salah satu akun fanspage media sosial dengan kapitalisasi jutaan followers. Imbas dari re-share akun tersebut akhirnya membuat postingannya menjadi viral ke seluruh lini pengguna media sosial.

Followers pun  mulai meningkat dan berkembang membuat sang empunya akun jadi terkenal di jagad instagram. Setiap postingan yang ia buat pada akhirnya ditunggu-tunggu kehadirannya. Selanjutnya kita pun bisa mengetahui bahwasanya, “ada gula, ada semut” ada kerumunan yang menyemut, disitulah peluang promosi brand bersambut.

Satu dua ia kerjakan dengan sungguh-sungguh nan kreatif berpadu dengan pasangan kekasih yang ia ikut berdayakan. Lambat laun dengan pertambahan folowers yang kian massiv, si fullan akhirnya mendapatkan limpahan pesanan order untuk melakukan paid promo dan endorse secara masal.

Beragam cara pun mulai digunakan dalam melakukan paid promo dan endorse tersebut. Mulai dari yang apa adanya, hingga ada apanya. Mulai dari yang jujur apa yang ia rasakan, sampai dengan teknik berbohong sederhana. Malah terkadang tak sedikit teknik berbohongnya justru kelewatan. Misalnya saja dengan mengaku sering langganan di akun instagram tertentu, ada pula yang ngaku pasangannya sering membeli barang lewat akun instagram si “Nganu”. Sedangkan pada kenyatannya justru berkebalikan dimana pada instastory pribadi miliknya terlihat ia sedang melakukan pamer berbelanja barang sejenis di salah satu mall, hingga opini bias tanpa sumber yang menyebutkan banyak testimoni yang merasa puas bin “Mantul (mantab betul)”.

Aksi dengan menggunakan trik berbohong pun tidak sedikit pula yang “kurang rapih” dilakukan. Misalnya saja sebuah brand penumbuh rambut, dimana dalam gambr before (model pemeran) berambut gundul alus, lantas di gambar after penggunaan menggunakan produk tersebut seketika membuat lebat rambut sang pemeran, seperti lebatnya bulu ketiak yang tak pernah dicukur. Yang mengherankan model before kulitnya agak putih dengan hidung yang tidak begitu mancung, sedangkan model after memiliki kulit agak gelap dengan hidung yang mancung. Ahh sudahlah barangkali itu cuma efek lighting yang canggih. Yah tipis amat perbedaannya setipis tali kutang J

Dalam model iklan konvensional penyusupan pesan ajakan mungkin lebih halus menarget pada para konsumen. Para konsultan pembuat iklan banyak ditemukan menggunakan teknik subliminalitas Freudian dimana menurut Erdelyi & Zizak dalam buku The psychology of Entertainment Media; Blurring the Lines Between Entertainment and Pesuasion (2004) karangan L.J.Shrum (ed). Teknik subliminal Freudian ini merupakan teknik yang paling elemental dari psikoanalisis dimana ia dilukiskan Freud sebagai pembeda antara muatan manifest (struktur semantik permukaan; teks) dan muatan laten (struktur semantik tak sadar; subteks). Artinya teknik ini menggunakan metode komunikasi tersamar yang dimuat dalam berbagai simbol-simbol yang secara nyata tak ada sangkut pautnya dengan hal yang hendak di iklankan. Akan tetapi secara makna memiliki sebuah unsur ajakan untuk menggunakannya.

Metode konvensional tersebut nyatanya memang sejatinya masih ampuh apabila digunakan, akan tetapi ada cost tinggi yang harus di keluarkan untuk menyewa para konsultan hingga artis yang berbandrol belasan hingga ratusan juta rupiah. Walaupun begitu seiring perkembangan media sosial di eranya GEN Y dan GEN Z penggunaan media sosial yang besar, pada akhirnya membuat corong periklanan pun mulai melirik para influencer media sosial, terutama selebgram yang tak semahal artis televisi. Sensasional bisa jadi namun efeknya belum tentu jadi.

Jalan Panjang Menjadi Selebgram

Cita-cita untuk mendapatkan followers sebagai wujud kapitalisasi aset dan peluang membuat mereka pada akhirnya melakukan beragam hal untuk membentuk sebuah image palsu yang terkadang tidak nyata. Memamerkan kemewahan dalam bentuk posting engel makanan di suatu restoran mewah, jalan-jalan ke daerah antah berantah, selfie di dalam mobil, hingga pamer foto bergairah pun tak sungkan untuk dilakukan demi meraih 25 ribu followers untuk mendapatkan predikat sebagai selebgram.

Setelah menjadi selebgram pun mereka harus menjaga image yang telah mereka bangun. Bagaimanapun caranya akan dilakukan sampai pada yang taraf ekstrim adalah melakukan hal gila mengorbankan segalanya demi menjaga stabilitas like dan keterjangkauan akun miliknya.

Berpacu dengan kreatifitas dan mendorong kemandirian merupakan hal baik yang perlu dilakukan sebagai upaya kemandirian bangsa. Namun ada hal-hal terkait dengan kejujuran seyogyanya bisa diperhatikan kita bersama. Konten postingan pun sejatinya di buat dengan mempertimbangkan aspek norma dan kesusilaan yang ada. Karena selebgram saat ini memiliki dainggap sebagai influencer yang setiap tindak tanduknya akan menjadi trend para anak muda dan generasi lainnya.

Dan yang lebih penting juga adalah para ibu-ibu yang gemar memposisikan anaknya seolah-olah bak selebgram dimana aktivitasnya selalu disorot dan diunggah, akan lebih baik untuk menghindarinya. Agar sang anak di masa yang akan datang mampu menjaga batasan antara umum dan privasi hingga paham dimana ia harus bersikap secara jujur apa adanya dimana saja.

Berbohong Ala Selebgram Zaman NowOleh: Muhamad Fadhol Tamimy (co-founder psikoma.com dan penulis buku Sharing-mu, Pesonal branding-mu, yang saat ini menjabat sebagai ketua Genbi kaltim)

Tulisan ini juga juga terbit di kaltimpost edisi 7 november 2018 dengan judul (fenomena selebgram zaman now yang ditulis oleh penulis sendiri)