KualifikasiOleh: Prof. Dr. Ir. Dermawan Wibisono, M.Eng

Kualifikasi – Sebenarnya saya ingin berhenti dulu membuat tulisan semacam ini di FB, karena semester sudah mau mulia dan pekerjaan mulai menumpuk. Tapi karena ini hanyalah ‘grundelan’ atau ‘nguda rasa’ bukan forum diskusi, saya sempatkan nulis, terutama untuk kesehatan saya sendiri. Tentu akan sangat berterima kasih jika membawa manfaat bagi teman-teman yang membacanya.

Saya agak shock dan kaget setengah mati, mendapati email dari panitia yang dengan gagah berani dan dengan setengah ngotot minta keluaran riset yang harus ditulis adalah ‘proceeding’ atau ‘keikutsertaan international conference’ bukan sebuah international jurnal seperti yang saya kemukakan. Deg…! Lama saya berhenti membacanya. Apakah logika saya mulai kacau. Bukankah international jurnal, lebih sulit dan lebih tinggi levelnya secara akademis dari pada international conference? Lalu, kenapa kita memberikan hasil yang lebih tinggi dan lebih baik, kok malah ditolak? Apakah panitia semacam ini, akan menolak seorang pelamar kerja dengan kualifikasi pelamar berpendidikan S1, karena yang dibutuhkan seorang pelamar SMA? Bisa jadi iya.. Mengapa logika semacam ini terjadi di masyarakat dan banyak menyangkut segi kehidupan?

Kekagetan saya tak berhenti di situ. Karena sebelumnya saya melihat ada sebuah company yang melakukan pemilihan employee of the year. Sudah menjadi konvensi dalam sistem manajemen bahwa aktivitas semacam ini dilakukan di banyak perusahaan di Indonesia, yang salah satu gunanya adalah untuk mengincourage para karyawannya agar mencapai prestasi maksimal dan memiliki ethos kerja yang bagus. Karena saya bukan keturunan Kyai Ageng Selo, yang bisa menangkap petir, maka geledek itu betul-betul mengagetkan saya, ketika yang terpilih sebagai employer of the year tadi adalah direktur HRD nya….! Ketika saya sibuk menimbang-nimbang, memikir ulang, merunut logika saya…seorang teman dengan ketawa-ketawa menjawil lengan saya dengan mengatakan:”….ini Indonesia Bung..!” jangan kelamaan hidup dalam alam akademis di Australia dan Inggris, kok menjiwai sekali sih. Lihatlah wasit di Premier League, yang suka jadi sasaran kritik Jose Mourindo, Arsene Wenger, dsb, atas ‘ketidakadilan’ keputusan di atas lapangan, toh yang dikenai sanki ya si Jose dan Arsene itu, bukan wasit yang ‘sengaja’ atau ‘tak sengaja’ ikut bermain di atas lapangan……..

Agaknya saya mesti belajar lagi, untuk melihat ‘kehidupan’ dari sisi lain. Hanya kekhawatiran itu suka menyelisik dalam hati saya, jangan-jangan ‘ketidakmengertian’ akan substansi, proses, praktik, dalam berbagai level manajemen, mikro maupun makro itu terjadi karena memang yang bersangkutan tidak memiliki pengetahuan terhadap proses yang dilakukan. Sungguh sangat arif dan futuristik Rasul memberikan wejangan 16 abad yang lalu:” …tunggulah kehancurannya jika sebuah sistem diurus oleh yang bukan ahlinya…”

Wallahu alam bishawab

Penulis adalah Guru Besar pada Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB

Beliau juga merupakan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis & Fakultas Komunikasi dan Diplomasi Uniersitas Pertamina