Konsultasi Psikologi: Lelah Akibat Permasalahan Hidup Yang Begitu Kompleks

Konsultasi Psikologi: Lelah Akibat Permasalahan Hidup Yang Begitu Kompleks

April 25, 2017 Off By Admin

Konsultasi Psikologi: Lelah Akibat Permasalahan Hidup Yang Begitu KompleksNama : Tempe Galau
E-mail : tempegalau@gmail.com
Judul : (Konsultasi psikologi) Permasalahan hidup Saya begitu kompleks….
Isi Konsultasi : Permisi, ada satu hal yang ingin saya bicarakan. Sejujurnya, saya sendiri merupakan mahasiswa Psikologi di suatu perguruan, meskipun baru semester 2. Ketika awal memasuki dunia kampus, untuk mahasiswa baru diadakan psikotes. Dari psikotes tersebut bisa diketahui bahwasannya saya adalah orang dengan ketahanan stres yang rendah. Kemudian, pribadi saya juga merupakan orang yang overthinking dan temperamental, saya mudah marah bahkan bisa sampai meledak-ledak, melempar barang, dan berteriak sangat kencang. Sering kali, ketika ada masalah kecil, saya bisa frustrasi/ stres berlebihan. Saya pernah tidak sengaja mengeluarkan perkataan dengan nada tinggi pada sahabat saya, saya merasa tidak enak dan berpikir bahwasannya sahabat saya marah karena saya membentaknya. Gegara hal itu, saya menangis selama 4 hari, mengurung diri di dalam kamar, bahkan membolos dari perkuliahan. Saya merasa begitu takut kehilangan seorang teman, karena saya pernah punya pengalaman dibully dan tidak mempunyai teman. Saya merasa, bahwa saya begitu bodoh sudah sebesar ini tidak bisa menjaga amarah, saya merasa tidak berguna dan ingin mati saja. Padahal, teman saya sendiri tidak merasa bahwa ucapan saya kala itu adalah bentakan.

Saya terlalu overthinking, tapi saya malah menangis selama empat hari. Kemudian, tadi malam, saya ditimpa masalah lagi. Kala itu, ternyata tugas untuk kelompok saya belum selesai. Tugas yang begitu banyak, harus dikumpulkan malam itu juga. Padahal, keesokan harinya adalah hari untuk UTS. Saya sebenarnya, sudah mengerjakan part bagian saya, akan tetapi ternyata teman-teman sekelompok yang lain begitu menunda-nunda dalam mengerjakan, sehingga di malam deadline pun masih banyak yang belum selesai. Saya frustasi, karena lagi-lagi terpaksa saya yang mengerjakan bagian yang belum selesai malam itu juga, saya begitu frustasi karena seharusnya malam itu saya hanya tinggal fokus membaca materi ujian, malah masih dikejar deadline karena teman yang lalai. Saking frustasinya, saya mengeluarkan amarah yang begitu meluap-luap. Semua orang di rumah saya, saya bentaki. Saya juga melempar barang dan memaki-maki orang lain. Beberapa saat kemudian, ketika saya makin dilanda frustasi dengan tugas yang belum selesai, padahal malam semakin larut dan masih banyak materi ujian yang belum saya baca, saya menangis. Menangis bukan menangis dengan wajar, tapi saya menangis dengan suara keras sekali sampai terisak-isak. Orang tua saya yang prihatin dengan keadaan saya, berusaha menenangkan rasa frustasi saya, Ibu saya bahkan, mengajak untuk mencuci muka agar lebih segar. Setelah cuci muka, memang tangisan saya berhent, tapi itu hanya sesaat.

Ketika saya dihadapkan dengan tugas itu lagi, saya menangis lagi. Bahkan, sampai Ayah saya yang kali ini turun tangan, saya masih tidak bisa menghentikan tangisan saya. Setelah dibujuk, untuk beberapa saat saya bisa menghentikan tangisan saya lagi. Saya kembali berkutat dengan tugas. Namun, saat megutak-atik laptop untuk tugas, tanpa sadar saya tertawa sendiri. Tawa yang saya keluarkan mirip seperti orang-orang yang kehilangan alam kesadarannya. Ibu saya datang, mengira kalau saya mulai menangis lagi. Tapi ketika dia melihat saya yang tertawa-tawa sendiri, dia malah makin heran. Ibu saya menyuruh untuk berhenti tertawa, pikiran saya pun berkeinginan untuk berhenti, tapi saya malah semakin tertawa dengan keras. Pola seterusnya terulang-ulang, saya menangis, lalu tertawa, lalu menangis lagi.

Malam itu, karena kondisi emosional saya yang tidak stabil, saya jadi tidak bisa menuntaskan tugas. Keesokan harinya pun, ketika hari UTS, saya tidak datang. Saya merasa begitu bersedih, dan begitu takut karena tidak belajar materi UTS dengan maksimal. Seharian saya mengurung diri di dalam kamar. Dan ketika saya mengetik ini, adalah malam esoknya setelah saya mengalami semua itu. Saya masih bimbang untuk hari esok apakah mau datang untuk UTS atau tidak. Saya merasa bahwa saya gagal dalam perkembangan emosi yang baik, emosi saya begitu amburadul untuk anak yang akan beranjak ke usia 19 tahun. Saya berpikir bahwasannya lebih baik mati saja. Saya tidak tahu apakah harus menggolongkan masalah saya ini sebagai rasa frustasi, stres, atau depresi. Seperti masalah awal, saya hanya bersedih selama 4 hari, tapi dalam jangka waktu 4 hari itu, saya sudah berpikiran ingin mati saja. Sekarang pun, hanya selang satu hari dari masalah tentang tugas itu, saya juga berpikir ingin mati saja.

Kalau soal depresi, sebenarnya sebelum kuliah dulu saya sudah pernah mengunjungi psikolog. Dan, iya, saya dikategorikan mengalami depresi. Tapi waktu itu, penyebab depresi saya karena masalah bully. Dan masalah tentang bully waktu itu pun sudah dikatakan selesai, sehingga saya tak perlu konsultasi lagi. Tapi justru pasca konsultasi itu, saya makin emosional Dari kerabatpun ada yang pernah mengalami depresi, Paman saya dari Ayah dan Kakak sepupu saya. Saya membaca kalau depresi itu juga bisa menurun. Apakah ini ada kaitannya dengan saya yang begitu emosional? Jadi, saya mohon tolong bantu saya. Isi pikiran saya, emosi yang kerap saya rasakan begitu kompleks, saya tidak tahu harus bercerita ke mana karenanya saya mencurahkan ini semua di sini…

 

Jawaban:

Hai, bagaimana kabarnya sekarang? Apakah masih sering merasa depresi? Ada beberapa hal yang mungkin bisa menjadi sedikit pertimbangan, namun ini baru sebatas dugaan saja, dan harus dilakukan observasi dan pemeriksaan lebih lanjut.

Kemungkinan pertama adalah anda sangat sulit dalam meregulasi emosi, alias mengontrol emosi. Cara terbaik untuk melakukan hal ini adalah dengan cara melakukan proses regulasi emosi, yang melibatkan pengenalan emosi dan juga teknik relaksasi untuk membantu mengontrol emosi yang muncul pada diri anda. Misalnya, ketika anda merasa kesal, marah, ataupun frustrasi, cobalah untuk melakukan relaksasi pernapasan dalam, dengan cara menarik napas dalam melalui hidung, mengisi udara / nafas di bagian perut, dan mengeluarkannya secara perlahan melalui mulut. Selain itu, apakah anda menyukai olahraga? Atau mungkin kegiatan rutin lain seperti hobi misalnya? Hobi bisa membantu anda untuk melakukan proses regulasi emosi ini. Yoga dan meditasi juga bisa menjadi pertimbangan dalam melakukan proses regulasi emosi.

Permasalahan Hidup yang Dialami

Kemungkinan lainnya, dan baru sebatas dugaan, kemungkinan anda mengalami gangguan mood. Gangguan mood merupakan salah satu gangguan yang ditunjukkan dengan adanya perubahan mood. Ketika anda merasa sedih, hal itu menunjukkan mood anda berada pada tahap depresif, dan ketika anda tertawa sendiri, anda mengalami episode manik. Belum bisa dipastikan apakah gangguan mood yang anda miliki adalah gangguan mood Bipolar, atau hanya gangguan mood mixed episode saja. Namun kemungkinan anda mengalami gangguan mood sangat terlihat dari perilaku yang anda ceritakan. Berhubung situasi detailnya (durasi waktu episode depresif dan manik) tidak diketahui secara detail, maka tidak dapat dipastikan, namun ada kecenderungan mengarah kepada gangguan mood.

Kebetulan sekali anda merupakan mahasiswa psikologi, anda bisa menceritakan langsung kepada dosen anda yang seorang psikolog, mengenai kondisi anda, untuk memastikan apakah benar anda mengalami gangguan mood.

Ya, depresi memang bisa muncul karena faktor biologis, alias keturunan. Jadi bisa saja anda mengalami depresi karena memang sudah membawa gen depresi tersebut. Namun demikian, apabila anda mampu menghandle depresi dengan baik, maka depresi tidak akan menjadi masalah yang menghambat aktivitas anda. Psikologi Mania