Banyak penelitian saat ini yang mencoba untuk memahami mengapa korban bullying beresiko untuk memiliki kesehatan yang lebih buruk di masa dewasa. Kesehatan ini tidak hanya untuk kesehatan psikologis saja, tetapi juga fisik, fungsi berpikir, dan kualitas hidup.

Apa Itu dan Bagaimanakah yang Disebut Bullying Itu?

Konsekuensi Kesehatan Korban Bullying Ketika Dewasakorban bullying – Meskipun tidak ada definisi yang universal mengenai bullying di masa kecil, istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan ketika seorang anak berulang-ulang dan sengaja mengatakan atau melakukan hal-hal yang menyebabkan penderitaan untuk anak lain, atau saat anak mencoba untuk memaksa anak lain untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan mereka dengan menggunakan ancaman, kekerasan atau intimidasi.

Departemen Kesehatan dan Pelayanan Masyarakat AS memberikan gambaran mengenai dampak yang paling umum dari bullying verbal dan sosial, yaitu remaja menjadi lebih sering memeluk lututnya.

Penelitian menunjukkan bahwa bullying yang terjadi secara terus-menerus dapat menyebabkan depresi dan kecemasan dan menyebabkan perilaku bunuh diri. Secara prosentase, bullying banyak terjadi dari mulai memanggil nama ejekan, menggoda, menyebarkan isu, mendorong, memukul, menampar, menendang, mengucilkan, mengancam, mencuri barang korban, melecehkan secara se__ks__ual, dan yang paling sedikit terjadi adalah melalui email atau blog.

Dampak Kesehatan Orang Dewasa yang Dibully di Kanak-Kanak

Konsekuensi Kesehatan Korban Bullying Ketika Dewasa

Dampak kesehatan korban bullying pada anak-anak sangatlah kompleks. Penelitian menunjukkan bahwa menjadi korban bullying terus-menerus dapat menyebabkan depresi dan kecemasan dan berkontribusi terhadap keinginan bunuh diri.

Departemen Kesehatan dan Pelayanan Masyarakat AS juga mengatakan bahwa laporan media sering sekali terlalu menyederhanakan hubungan antara bunuh diri dan intimidasi. Kebanyakan orang muda yang diganggu disebut tidak menjadi faktor bunuh diri. Media malah menyatakan kebanyakan orang muda yang mati karena bunuh diri memiliki beberapa faktor risiko, di luar intimidasi itu sendiri.

Sementara untuk dampak psikologis bullying, penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang diganggu dapat menjadi rentan terhadap penyakit fisik. Hal itu tidak terjadi selama periode dimana bullying terjadi, tetapi di kemudian hari.

Misalnya, baru-baru ini Medical News Today melaporkan penelitian yang menemukan anak-anak yang diganggu antara usia 8 dan 10 tahun lebih mungkin untuk mengalami tidur berjalan, teror malam, atau mimpi buruk pada usia 12 tahun.

Korban bullying memiliki ‘kesehatan yang kurang baik, pendapatan rendah, serta kualitas hidup yang rendah’ sebagai orang dewasa

Tetapi penelitian lain menunjukkan bahwa efek kesehatan jangka panjang dari kejadian bullying, terutama yang berulang, pada korban berpotensi lebih parah dan lebih serius. By: Muhamad Fadhol Tamimy