Konflik - konflik Yang Muncul Selama Perjalanan Hidup ManusiaKONFLIK – KONFLIK .Secara alamiah, manusia dalam rentang hidupnya memiliki berbagai macam konflik – konflik dalam hidupnya, mulai dari anak – anak hingga usia tua alias lansia. Erik Erikson mengemukakan bahwa selam kehidupannya, manusia akan mengalami konflik – konflik psikososial. Paling tidak, Erikson mengungkapkan bahwa ada 8 konflik – konflik psikososial yang muncul pada rentang hidup seseorang. Tiap – tiap konflik yang berhasil dilalui akan berlanjut ke konflik berikutnya pada tahap perkembangan selanjutnya. Apa saja konflik – konflik tersebut? Berikut ini adalah ke-8 konflik psikososial menurut Erikson:

Konflik – konflik Yang Muncul Selama Perjalanan Hidup Manusia

  1. Trust vs Mistrust

Merupakan konflik pertama yang terjadi pada manusia. Konflik ini akan muncul pada saat manusia baru lahir hingga usia kira – kira 1 tahun lebih. Pada tahap ini, bayi yang baru lahir akan mempelajari untuk percaya dengan dunianya yang baru, pengasuhnya, dan juga bagaimana dunia baru ini bisa merespon kebutuhan dirinya. Apabila berhasil dilalui, maka sang bayi akan membangun kepercayaan untuk dunia dan juga lingkungannya yang baru. Sebaliknya, bayi menjadi tidak percaya dengan dunianya, dan merasa tidak aman dengan dunianya apabila kebutuhannya tidak terpenuhi.

  1. Autonomy vs Shame and Doubt

Merupakan konflik berikutnya pada rentang hidup manusia, yang muncul pada usia 2 – 3 tahun. Pada tahap konflik ini, anak – anak akan berusaha untuk menjadi otonom, dan berusaha untuk melakukan sesuatu sendiri. Namun, terkadang hal ini sering menimbulkan rasa bersalah dan juga rasa malu pada anak – anak.

  1. Initiative vs Guilt

Merupakan tahap berikutnya yang muncul pada usia 3 – 5 tahun. Pada tahap ini, anak – anak belajar untuk memahami rasa bersalah. Selain itu, anak – anak juga akan belajar untuk menyelesaikan masalah yang dialami, dalam skala yang kecil tentunya. Pada tahap ini, anak – anak akan banyak melakukan eksplorasi di lingkungannya, dan banyak menemukan hal – hal baru yang bisa menambah pengalamannya di masa kecil. Mulai dari bermain dengan teman – teman, dan sebagainya.

  1. Industry vs Inferiority

Tahap berikutnya, terjadi pada usia 6 – 11 tahun. Pada tahap ini, anak – anak akan banyak belajar dari sisi akademis. Anak – anak akan belajar mengenai banyak masalah pendidikan dan akademis, masuk sekolah, dan juga dipersiapkan untuk bersosialisasi dengan lingkungan yang lebih luas. Namun demikian, anak – anak yang tidak mampu mendapatkan hal tersebut akan mengarah kepada inferiority, dimana mereka akan merasa inferior dan juga merasa kecil dan juga jauh dari lingkungan sosialnya.

  1. Identity vs Role Confusion

Tahap ini terjadi pada usia remaja hingga dewasa, yaitu sekitar usia 18 tahunan. Pada tahap ini, remaja akan dihadapkan pada proses pencarian identitas dirinya sendiri, mulai dari hobi, panggilan hidup, dan sebagainya yang berhubungan dengan identitas sosialnya. Mereka yang tidak sanggup menemukan identitasnya, akan mengalami kebingungan dalam perannya atau role confusion.

  1. Intimacy vs Isolation

Tahap ini terjadi pada usia dewasa, mulai dari 20 tahun hingga 40 an tahun. Pada masa ini, seseorang akan dihadapkan pada konflik keintiman vs isolasi, dimana mereka yang tidak dapat mencapai hubungan yang intim dengan orang lain (baik lawan jenis, pasangan, atau sahabat) akan mengalami isolasi, yaitu tidak memiliki relasi sosial yang dekat.

  1. Generativity vs Stagnation

Pada tahap ini, mereka yang berusia 40 hingga 65 tahun mengalami konflik yang merupakan lanjutan dari tahapan sebelumnya. Mereka yang pada masa dewasa mengalami isolation, akan mengalami stagnation, alias pola hidup yang itu – itu saja dan tidak bervariasi. Sebaliknya, mereka yang mampu melalui konflik psikososial mereka dengan baik akan mengalami generativity, dimana pengalaman dan relasi mereka dengan orang lain semakin kuat. Mereka akan dianggap sebagai orang yang sukses dan menjadi panutan bagi bawahan, dan juga orang yang lebih muda.

  1. Integrity vs Despair

Mereka yang berhasil mengembangkan Generativity pada usia sebelumnya, akan menjadi bahagia dan menjadi manusia secara utuh. Mereka akan benar – benar menjadi panutan dan juga menjadi orang yang dipercaya, serta terpandang. Sebaliknya, mereka yang tidak dapat menyelesaikan konflik psikososial dengan baik, akan mengalami keputusasaan atau despair. Mereka akan menyesali hal – hal yang mereka perbuat pada masa lalu.

Nah, itulah konflik – konflik psikososial yang muncul dalam rentang hidup manusia. Apakah anda sudah bisa melalui konflik pada usia anda dengan baik dan juga lancar tanpa adanya masalah?

By : Eduardus Pambudi