Ketika Jabatan Itu DiperebutkanKetika Jabatan Itu Diperebutkan. Jabatan pada dasarnya adalah sebuah status yang di sandang oleh setiap orang berdasarkan mandat maupun amanah yang dipercayakan orang lain terhadap dirinya. Memegang sebuah jabatan tak serta merta membuat diri menjadi seorang yang super, hingga mampu untuk merubah takdir mustahil, menjadi sebuah hasil yang berhasil. Hingga beratnya jabatan yang semakna dengan amanah tersebut, bahkan orang sekaliber Umar Bin Khatab pun menangis ketika di serahi untuk menjadi seorang pemimpin umat dalam jabatan yang bernama Khilafah.

Namun saat ini kenyataannya berbanding terbalik. Saat ini jabatan tersebut diperebutkan bukan lagi di amanahkan. Mereka gencar melakukan serangkaian aksi pencitraan demi mengharapkan sebuah jabatan yang di alamatkan terhadap dirinya.

Maka tak heran apabila detik detik menjelang pemilihan jabatan, akan secara mengejutkan muncul sejumlah sosok orang yang dahulunya acuh tak acuh, menjadi seorang yang hyper good looking onside. Mereka begitu nampak seperti malaikat yang tak kenal lelah bekerja untuk melayani dan memberi.

Mungkin di satu sisi ada manfaat yang dapat kita petik bahwa, mereka akhirnya “berubah” pula menjadi orang yang berjiwa sosial tinggi. Namun di sisi lain, bisa jadi sangat membahayakan bagi ketenangan bawahan yang akan di pimpinnya. Mereka yang bernafsu untuk mejadi ketua hingga mengeluarkan “dana” kampanye berlebihan tentu akan mencari “ganti” dana yang telah dikeluarkannya terlebih dahulu. Ketika hal tersebut terjadi, maka jalan satu satunya adalah korupsi maupun intimidasi hingga aksi curang pun dapat dilakukan.

Dalam psikologi kita mengenal teori kepemimpinan yang menyatakan bahwa seorang pemimpin yang di serahi amanah jabatan muncul karena (1) kecakapannya, (2) inisiatifnya, (3) mampu merepresentasikan suara kelompoknya, dan (4) popularitas. Dan saat ini untuk mendapatkan jabatan langkah ter-favorit yang dapat dilakukan oleh seseorang tersebut adalah dengan mempopulerkan dirinya.

Dari teori tersebutlah realitas saat ini akan kita pahami, bahwa mereka yang tak memiliki nama, namun bernafsu untuk mendapatkan jabatan akan berusaha untuk menjadi seorang pemimpin dengan jalan kepopularitasan. Mereka tak segan untuk menggelontorkan materi, hanya demi sebuah popularitas.

Untuk itulah, sebaiknya kita lebih jeli untuk memberikan mandat suara kita pada sosok-sosok yang berbuat baik tiba-tiba di musim pemberian suara untuk sebuah jabatan. Karena seorang pemimpin yang di beri jabatan akan lebih baik, ketimbang seorang pemimpin yang meminta dan mengiba suatu amanah dalam jabatan. by: Muhamad Fadhol Tamimy