Membongkar 7 Level Kebohongan Yang Terjadi Di Sekitar Kita

Membongkar 7 Level Kebohongan Yang Terjadi Di Sekitar Kita

February 3, 2017 Off By admin

Membongkar 7 Level Kebohongan Yang Terjadi Di Sekitar KitaKebohongan tak akan muncul dengan begitu saja. Ada sebuah tingkatan – tingkatan di dalam kebohongan yang dilakukan oleh seseorang. J. Budziszewski, di dalam bukunya what we can’t know, menyebutnya sebagaimana 7 tingkatan dalam kebohonganini. Tingkatan tersebut tidak hanya sering terjadi pada politisi saja, melainkan dalam kalangan yang lebih universal.

Ke 7 level ataupun tingkatan ini menjangkau seluruh permasalahan bohong yang terjadi di masyarakat kita. Seperti dilansir dalam buku karangan Husna widayani dkk berjudul Lies tujuh level dari aktivitas berbohong adalah sebagai berikut;

  1. Benar-benar Berbohong

Semacam lingkaran, dalam ajaran agama yang mana berbohong dapat menimbulkan dosa. Pun sebaliknya, yang mana sebenarnya orang berbohong berarti telah melakukan dosa. Misalnya kita berbohong tentang uang, dengan mencuri uang orang lain, dan lain sebagainya. Secara sederhananya, semakin besar dosa yang dilakukan, maka semakin besar pula kemungkinan untuk mengatakan perkataan bohong. Apabila ia mengetahui kebenaran dari hal bohong, maka ia akan melanjutkan perbuatan bohong tersebut pada level 2.

  1. Melindungi Diri

Hal ini berarti, jika seseorang berbohong tentang sebuah kebohongan yang dimiliki. Apabila ia telah berbohong tentang suatu hal, besar kemungkinan untuk ia akan berbohong mengenai hal lain. Benar saja, ini akan menimbulkan kebohongan lainnya guna menutupi kebohongan yang sebelumnya. Tentu saja hal tersebut sebagai sebuah upaya untuk melindungi dirinya. Baiknya hal tersebut di peruntukkan untuk sebuah kebaikan ataupun kebohongan yang dilakukan untuk sebuah kesalahan.

Seperti dikatakan oleh Budziszewski, yang mana ia menyatakan bahwa, kebohongan memiliki sifat lemah, mereka akan selalu membutuhkan “pengawal”. Hal ini setali dengan beberapa contoh – contoh kasus yang mana telah terjadi di sekitar kita, setiap mereka telah melakukan aktivitas bohong maka ia akan ditutupi dengan kebohongan lainnya.

  1. Mengembangkan Kebiasaan Dalam Berbohong

Di level ini, seseorang yang berbohong untuk hal-hal yang sepele dan tak bermanfaat. Dalam perkataan lain, pembohong berbohong mengenai suatu hal yang sebenarnya tak diperlukan dan di waktu yang sebenarnya tak memerlukan untuk melakukan kebohongan.

Misalkan saja, saat mereka menjawab pertanyaan yang cendrung basa – basi dari orang lain. Padahal, sewajarnya, ia hanya perlu untuk menjawab pertanyaan basa – basi dengan jawaban sederhana dan jujur pula meskipun basa – basi, bukannya malah menjawab dengan jawaban bohog yang tak berguna.

  1. Menipu Diri

Di level ini, seorang pembohong mulai turut meyakini dan mempercayai yang ia ceritakan pada orang lain. Seperti yang di ungkapkan oleh Faruk Tripoli, kebenaran adalah kebohongan yang dikonsisteni. yang di buat oleh seseorang dapat menjadi sangat efektif dan dipercayai oleh orang banyak.

Bahkan, di saat hal tersebut di percayai oleh banyak orang dan di anggap sebagai suatu kebenaran, maka si pembohong pun turut mempercayai hasil dari kebohongan yang telah ia ciptakan. Secara realistis hal tersebut, banyak terjadi di beberapa kampanye kebohongan yang disumbang oleh beberapa media mainstream. Guna memuluskan kekuasaan tak jarang media mainstream pesanan membuat sebuah kampanye buruk dari lawan tanding atau oposisi, sehingga membuat masyarakat awam terkena imbas kebohongan untuk memusuhi golongan tertentu.

Di level keempat ini, seorang akan mulai masuk dalam penyangkalan. Pembohong akan mulai untuk berhenti melihat kompas inernal moralnya. Oleh sebab ia tak merasakan rasa bersala lagi atas apa saja yang telah ia ciptakan.

  1. Merasionalisasi

Di level ini, seorang pembohong telah membenarkan dan sudah mengangggapnya sebagai hal yang baik. Oleh sebab itu, berbohong bukanlah hanya sekedar bagian dari kehidupan normal, namun telah menjadi suatu kamus kebajikan, yang dapat membantu dalam mempercepat pertumbuhan sebuah organisasi atau perusahaan.

Kebohongan di level ini seringkali di alami oleh para pemimpin di sebuah organisasi atau perusahaan. Dalam artian, kebohongan ini terjadi pada tingkatan jabatan. Semakin tinggi jabatan dalam organisasi, maka semakin sulit pula untuk mengatakan kebenaran apa adanya. Seringkali, kebohongan di level ini di butuhkan guna kebaikan yang lebih besar.

  1. Mengembangkan Teknik

Teknik yang pertama dan paling utama yaitu mulai mengadakan penggolongan maupun pengelompokan atau pembagian. Di level ini, para pelaku mulai untuk mengisolasikan laporan, lalu mengabaikan apa yang telah dikatakan dalam konteks lain.

Teknik level 6 ini sering ditemukan pada tingkat jajaran birokrasi. Pembohong dengan mudahnya untuk berbohong pada konstituen ke konstituen lainnya, dan bersumpah untuk setiap hal sambil ia menyatakan apa yan telah ia katakana sebagai kebenaran. Maka tak heran, seorang pengemban tugas dalam birokrasi sering menyampaikan dua hal yang bertentangan dengan yang seharusnya terjadi di dua kesempatan berbeda.

  1.   Sebuah Tugas Ataupun kewajiban

Level 7, seorang pembohong sudah melihat sebagaimana tugas ataupun kewajiban. Hal ini adalah pada tingkatan yang sangat parah dikarenakan ia melakukan atas nama sebuah kewajiban.

Itulah 7 level yang terjadi di sekitar kita. Dengan mencermati hal ini semoga kita dapat lebih sadar dan jeli dalam melihat aneka kebohongan. Khususnya yang telah di tebar oleh orang-orang yang ingin merusak keutuhan dan persatuan Republik Indonesia. By: Muhamad Fadhol Tamimy