Ternyata intelligence Tinggi Memiliki Pengaruh Terhadap Kesulitan Bergaul, Ini Buktinya

Ternyata intelligence Tinggi Memiliki Pengaruh Terhadap Kesulitan Bergaul, Ini Buktinya

March 22, 2017 Off By admin

Ternyata intelligence Tinggi Memiliki Pengaruh Terhadap Kesulitan Bergaul, Ini BuktinyaIntelligence Tinggi Memiliki Pengaruh Terhadap Kesulitan Bergaul – Apakah anda adalah orang yang senang menyendiri ? Tidak terlalu suka tempat yang penuh dengan orang dan keramaian ? Lebih menyukai tempat yang tenang, damai, dan menyejukkan. Bahkan berharap hanya anda dan orang yang anda sayangi saja yang boleh untuk mengujungi tempat tersebut. Atau anda adalah orang yang tidak suka bergaul dengan orang lain. Punya sahabat, tetapi hanya satu atau dua saja ?

Jika hal tersebut terjadi, bisa jadi mungkin karena anda adalah orang yang cerdas!

Ada sebuah mitos yang mengatakan bahwa orang yang cerdas tidak banyak menggunakan waktunya untuk bergaul dengan orang lain. Punya teman dan kenalan mungkin banyak. Akan tetapi teman yang benar – benar dekat dan paham tentang dirinya juga tidak banyak jumlahnya. Bahkan ada pula kiasan yang menyebutkan bahwa orang yang terlalu cerdas memang memiliki masalah dalam menjalin pertemanan.

Tetapi, apakah ini hanya mitos dan kiasan belaka ? ataukah hal ini bukan hanya mitos, namun hal ini fakta atau dengan kata lain memang terjadi di dunia nyata ?

Untuk itu dalam pembahasan kali ini kit akan membahas mengenai fakta atau mitos orang cerdas yang tidak suka bergaul.

Penelitian tentang orang yang cerdas tidak suka bergaul (Kesulitan bergaul)

Ternyata ada dua teori yang membuktikan kebenaran bahwa orang cerdas memang kurang suka bergaul dengan orang lain. Sebab orang yang cerdas itu membutuhkan banyak waktu untuk dirinya sendiri. Teori ini berdasarkan dari penelitian yang sudah dilakukan oleh dua orang psikolog revolusioner yang berasal dari Singapura dan London.

Satoshi Kanazawa (dari London School of Economics and Political Science) dan Norman Li (dari Singapore Management University)  melansir penemuannya dalam Jurnal berjudul Happiness in modern society: Why intelligence and ehnic composition matter (2015). Beliau melakukan penelitian dengan menggunakan subyek atau responden sebanyak 18 sampai 28 tahun. Tujuannya adalah untuk mengukur tingkat kesejahteraan, kebahagiaan, dan kepuasan hidup seseorang yang tinggal di tempat yang padat penduduknya. Kemudian penelitian ini mengaitkan dengan variabel tingkat kecerdasan yang dimiliki oleh subyek.

Hasil dari penelitian ini adalah bahwa di tempat yang padat penduduknya ini, setiap orang yang memiliki skor IQ rendah dan IQ tinggi memiliki kepuasan hidup berbeda. Orang yang memiliki IQ rendah cenderung lebih bahagia dari pada orang yang memiliki IQ tinggi. Oleh sebab itu, peneliti menyimpulkan bahwa orang yang memiliki IQ tinggi tidak puas dengan kehidupannya, terutama  jika waktunya dihabiskan untuk bergaul dengan teman-temannya lebih sering.

Kesimpulan dari penelitian ini menyebutkan bahwa orang yang memiliki tingkat inteligensi tinggi membutuhkan waktu yang lebih banyak dan lebih lama untuk diri sendiri. Anggapannya, jika waktu yang dimiliki digunakan untuk bergaul dengan orang lain akan habis terbuang. Akhirnya ia merasa kurang puas dengan kehidupan yang dimilikinya.

Antara teori dan sejarah nenek moyang

Peneliti dari London dan Singapura itu bukan hanya meneliti tentang kepuasan hidup dengan tingkat inteligensi saja. Beliau juga mengaitkan hubungannya dengan kebiasaan hidup nenek moyang yang sudah ada sejak dulu.

Nenek moyang kita dahulu memiliki kebiasaan hidup yang menarik, yakni sebagai pemburu dan tinggal berkelompok. Kebiasaan ini menjadi pengalaman luhur bagi para penerus dari nenek moyang. Seperti yang kita tahu, penduduk dahulu itu kemungkinan besar memiliki tingkat inteligensi yang tidak terlalu tinggi. Oleh sebab itu memiliki kebiasaan untuk tinggal berkelompok.

Lantas berbeda dengan penduduk sekarang. Mereka justru tidak puas dengan orang lain. Hal yang dibutuhkan oleh orang pinter adalah memiliki waktu yang bisa digunakan untuk dirinya sendiri. Seperti memikirkan keadaanya, menilik kondisinya, dan memanjakan dirinya sendiri. Inilah yang dibutuhkan oleh orang – orang pinter.

Dari teori dan berdasarkan penelitian di atas, maka kita bisa tau mengapa seseorang tersebut sulit bergaul. Bisa jadi penyebab seseorang mengalami kesulitan bergaul bukan karena ia benci atau antisosial terhadap lingkungannya, melainkan karena ia memiliki intelligence yang tinggi. Oleh sebab itulah penting sekiranya selain mengasah kemampuan intelligence ada baiknya untuk menyeimbangkannya dengan kemampuan emosional dan spiritual. Dengan menyemibangkan ketiganya, kita tak hanya cerdas secara logika semata namun meliputi aspek sosial dan keagamaan kita.

Ingat penelitian di atas adalah sebuah penelitian yang sewaktu-waktu dapat di patahkn oleh penelitian selanjutnya. Karena sifatnya ilmu ilmiah adalah akan terbantahkan dengan penelitian terbaru. Tidak semua orang orang intelligence tinggi mengalami kesulitan bergaul. Jadi bagi anda atau teman Anda yang memiliki Intelligence tinggi tak perlu langsung menjadi malas bergaul ya. By: Izzatur Rosyida