InovasiOleh: Prof. Dr. Ir. Dermawan Wibisono, M.Eng

Inovasi – Telah menjadi jargon yang terkenal di kalangan akademisi, bahwa Jepang maju pesat sebagai negara industri di tahun 1980 an karena menerapkan prinsip 3N dalam inovasi. Pada tahun 1970 an Jepang masih dikenal seperti negara China saat ini dengan industri berskala kecil dari cermin, asesoris, dan tiruan barang elektronik yang kualitasnya diangap sebagai sebuah permainan oleh para konsumennya. Prinsip 3N: Niteni, Nirok-ke, dan Nambahi, yang artinya mengamati dan memperhatikan, proses meniru-copy paste dan menambahi dari hasil tiiruannya itu, secara konsisten diterapkan dan menjelmalah Jepang menjadi negara adidaya di bidang otomotif, alat berat, kamera dan elektronik.

Di Indonesia, sayangnya prinsip 3N tersebut berhenti di N yang kedua pada banyak segi kehidupan termasuk dalam proses industrinya: Nirok-ke (‘ke’ dibaca seperti kata ‘ber-kemah’, karena ini dari bahasa Jawa). Seperti juga prinsip kebutuhan dari Abraham Maslow yang berhenti pada pemenuhan kebutuhan ke 3 dari 5 kebutuhan manusia yang seharusnya, tak pernah meningkat.

Prof. Robert Kaplan (Harvard) menyatakan bahwa kebutuhan organisasi terakhir adalah kebutuhan finansial yang secara nyata direpresentasikan oleh profitabilitas. Sedangkan Prof. Andy Neely (Cambridge) menyatakan tidak hanya finansial, profit, tapi benefit yang harus menjadi tolok ukurnya. Perbedaan tolok pandang yang dipengaruhi oleh ideologi negaranya: kaptalis versus sosialis. Inovasi

Saya mengamati persepsi berbeda bagi orang Indonesia, bahwa bukan hanya profit atau benefit yang diukur dari pihak pelanggan, karena di samping dua aspek itu menjadi tolok ukur, ada hal lain yang menjadi ‘kebutuhan utama’ yaitu ‘rasa’.

Oleh karena itu, sangat banyak ditemui para pedagang di sekitar SD atau SMP yang jajanannya terus bertahan bertahun-tahun, hanya segitu-gitunya, tidak bertambah atau berkurang, tidak memiliki cabang atau franchise, walau setiap tahun para alumni sekolah itu ber-reuni dengan gagahnya dengan predikat ‘wah’ yang disandang oleh para alumni sekolah itu. Yang menarik adalah para pedagang itu tetap menyapa para jagoan baru dengan ramah, tersenyum dan tidak ada rasa iri yang membelenggu. Atau keinginan menagih tempe goreng atau es cendol yang sering diutang anak-anak itu semasa sekolah dan kadang lupa gak dibayar sampai reuni itu terjadi. Justru kebahagiaan terpancar dari wajah dan matanya, karena telah merasa berkontrbusi terhadap kesuksesan anak-anak itu. Sebuah keikhlasan dan sikap legowo yang tidak bisa diterangkan namun terlihat jelas sebagai sebuah representasi sikap memberi yang sekarang sulit ditemui

Rasa. Itulah yang mendasari para pengikut do’a bersama yang berpawai dengan amat tertib, santun, dan begitu menyentuh. Tanpa berkata dan berkoar, mereka berjalan dalam tafakur. Rela berjalan jauh dan berhujan-hujan. Apa yang menjadi kendala bagi banyak orang, semua dianggap sebagi rahmat dari Nya. Sebuah tolok ukur yang bertolak belakang dan sulit dimengerti oleh orang yang mendasarkan diri pada ketamakan dan kekuasaan. Seperti halnya sulitnya menyatukan titik pandang dari pengikut aliran Kaplan dengan simpatisan mbok penjual dagangan tadi. Para pengikut itu, bukan dari kelas bayaran atau yang mudah terprovokasi. Karena di antaranya saya lihat teman-teman sealmamater saat kuliah dulu, para direktur dan direktur utama sebuah BUMN. Semua menanggalkan atribut keduniaannya dan posisi yang dipegang saat ini, laksana para jamaah yang hanya memakai kain ikhram dalam thawaf di masjidil haram. Ikhlas dalam kepasrahan akan terkabulnya do’a yang dipanjatkan bersama-sama.

Seperti halnya prinsip 3N yang dijalankan dengan sukses oleh Bangsa Jepang tadi, kembali Indonesia menerapkan prinsip yang hanya berhenti pada N yang kedua: Nirok-ke.

Peristiwa fenomenal 212 itu kemudian dicopy-paste menjadi aktivitas 412. Tentu saja hasilnya tidak akan sama dan sebangun. Karena saat 412 yang terlihat adalah atribut partai politik, orasi silang sengkarut, pengikut yang ber-atribut dan yang paling utama adalah ketiadaan ‘rasa’ yang menjadi pengerak utama. Inilah yang terlupakan oleh sutradara. Seperti halnya film Hollywood berbeda sutradara akan menghasilkan film yang berbeda, apalagi berbeda pelakon yang memainkannya dan rasa yang ada dalam hatinya. Wallahu alam bi shawab. Inovasi

Penulis adalah Guru Besar pada Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB

Beliau juga merupakan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis & Fakultas Komunikasi dan Diplomasi Uniersitas Pertamina