Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorder

Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorder atau DSM bagi anda yang sudah mengenal ilmu psikologi dan juga psikiatri, pasti sudah mengetahui apa itu DSM. Sebenarnya, DSM itu apa sih? Dan hal – hal menarik apa yang ada di dalam DSM? Berikut ini adalah 10 hal – hal menarik yang bisa kita temukan dalam DSM :

  1. DSM merupakan kependekan dari Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorder

DSM merupakan kependekan dari Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorder, yang artinya, DSM merupakan buku manual yang sangat penting digunakan untuk melakukan diagnosis terhadap gangguan – gangguan mental. Buku ini menjadi panduan bagi untuk menentukan dan mencocokan, gejala gangguan mental yang ada saat ini.

  1. DSM Pertama Kali DIterbitkan pada tahun 1952

DSM merupakan manual diagnosis gangguan dan masalah mental yang diluncurkan pertama kali pada tahun 1952. Peluncuran ini dilakukan setelah berakhirnya perang dunia ke dua, dimana pada masa itu, banyak muncul masalah – masalah dam gangguan mental. Peluncuran DSM ini juga dipicu oleh masuknya Mental Disorder atau gangguan mental pada ICD 6 (merupakan pedoman diagnostic untuk kesehatan, International Classification Disease) oleh WHO. Sejak saat itu, DSM dan juga ICD berbagi peran, dimana beberapa diagnostic gangguan mental di dalam DSM turut dipengaruhi oleh kode – kode diagnostic yang ada pada ICD.

  1. DSM Diterbitkan oleh asosiasi psikiatri, bukan asosiasi psikologi

DSM biasa digunakan oleh psikiater dan juga psikolog dalam menegakkan diagnosis. Namun, meski digunakan oleh psikolog, DSM sendiri bukan diterbitkan oleh asosiasi psikolog, namun diterbitkan oleh asosiasi psikiater, yaitu  American Psychiatry Association. Asosiasi ini memang memiliki singkatan yang sama dengan asosisasi psikologi, yaitu American Psychological Association. Meskipun begitu dengan adanya buku ini di harapkan adanya hubungan yang saling melengkapi antara profesi psikolog dan juga psikiater.

  1. DSM banyak digunakan untuk melakukan diagnosa terhadap berbagai gangguan mental, kepribadian, dan juga gangguan psikososial

Psikiater dan juga Psikolog banyak menggunakan DSM untuk melakukan penegakkan diagnosis, mulai dari gangguan mental, seperti Mental Retardation, Skizofrenia, penyalahgunaan obat – obtan, hingga gangguan atau masalah psikosial, seperti masalah dengan keluarga, masalah dengan otoritas, dan masalah identitas. Buku ini pun di lengkapi dengan beberapa ciri dan juga gejala-gejala gangguan yang ada.

5. DSM terdiri dari ratusan diagnosis gangguan

Secara general, mulai dari DSM pertama hingga DSM terbaru, terdapat banyak sekali diagnosis gangguan yang ada. Gangguan penyalahgunaan obat – obatan merupakan diagnosis gangguan yang paling banyak. Hal ini membuat pemahaman akan masing – masing diagnosis gangguan dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis dengan tepat.

6. DSM menggunakan prinsip diagnosis multiaksial dalam menegakkan diagnosis

Dalam penegakkan diagnosis menggunakan DSM, terdapat istilah diagnosis multiaksial. Diagnosis multiaksial ini menggunakan 5 aksis untuk menentukan gangguan – gangguanyang dimiliki oleh individu. berikut ini adalah kelima aksis tersebut :

  • Aksis I = Gangguan Kepribadian dan Retardasi Mental
  • Aksis II = Gangguan Klinis, dan Gangguan yang menjadi focus atau perhatian klinis
  • Aksis III = Riwayat kesehatan dan medikasi
  • Aksis IV = Masalah Psikosial
  • Aksis V = GAF / General Assessment Functioning

7. Ciri – ciri gangguan pada DSM seringkali mirip antar gangguan, sehingga membutuhkan diagnosis banding

Dalam melakukan penegakan diagnosis menggunakan DSM, maka praktisi harus teliti dan juga berhati – hati dalam memberikan diagnosis. Terdapat beberapa diagnosis yagn memiliki kriteria atau ciri – ciri yang hampir mirip, sehingga perlu dilakukan diagnosis banding. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa gangguan yang muncul pada klien adalah tepat, dan sesuai dengan kriteria yang dimunculkan oleh si klien.

Contohnya ketika mendiagnosa kenakalan remaja yang senang tawuran. Perilaku tawuran ini bisa dikategorikan dalam beberapa diagnosis, seperti :

  • Perilaku konduksi / conduct disorder
  • Gangguan kepribadian antisosial
  • Masalah dengan hukum (masalah psikososial)
  • Gangguan perilaku antisosial remaja

Untuk memastikan, masuk ke dalam kategori gangguan apa, maka diperlukan pemahaman yang mendalam, dan juga pemahaman masing – masing kriteria dengan baik, agar tidak terjadi kesalahan diagnosis, yang bisa berujung pada kesalahan intervensi nantinya. Dengan begitu akan dapat meminimalkan resiko kerugian bagi para pasien yang mempercayakan kesembuhan pada para psikolog maupun psikiater.

8. DSM V adalah edisi terbaru dari DSM

Seri atau edisi terbaru dari DSM – V diterbitkan pada tahun 2013. Namun saat ini, penggunaan dari DSM – V masih sedikit, karena masih banyak yang menggunakan DSM – IV – TR. Hal ini disebabkan oleh adanya perubahan aksis – aksis dan juga golongan diagnosa yang cukup signifikan perbedaannya, sehingga masih banyak psikolog, dan juga psikiater yang menggunakan DSM – IV – TR, atau menggunakan PPDGJ atau menggunakan ICD.

9. DSM sering dihinggapi oleh berbagai gossip dan juga kontroversi tidak sedap

Bagi anda yang merupakan praktisi dan akademisi di bidang psikologi dan psikiatri, mungkin anda sering mendengar gossip dan juga kontroversi yang tidak sedap hingga pada DSM. Misalnya seperti intervensi dari perusahan farmasi tertentu yang ikut andil dalam pembuatan DSM, dan gossip – gossip lainnya. Hal ini memang belum tentu benar, dan masih diragukan kebenarannya, namun tetap saja hal ini membuat DSM sempat menjadi bahan perdebatan dan kontroversi yang tidak sedap.

10. Terdapat beberapa diagnosis gangguan yang masih banyak diperdebatkan dalam DSM

Salah satu masalah diagnosis yang sering diperdebatkan dalam DSM adalah masalah mengenai orientasi se__ks__ual. Belum lama ini, kita masih ingat mengenai kehebohan homose__ks__ualitas yang mencuat ke public, yang dikenal dengan istilah LGBT. Dalam DSM, terutama DSM – IV – TR, masalah LGBT, terutama homose__ks__ual, yaitu gay dan juga lesbian memang tidak tercantum di dalam DSM. Namun demikian hal ini sering diperdebatkan, karena pada sistem diagnosis selain DSM, yaitu ICD dan juga PPDGJ, gay dan lesbian dimasukkan ke dalam kategori gangguan. Isu ini merupakan salah satu isu yang diperdebatkan oleh banyak pihak. Masalah – masalah ini kebanyakan disebabkan karena adanya bias budaya atau cultural bias, sehingga mungkin beberapa kategori diagnostik berbeda – beda di dalam tiap budaya. Itulah beberapa informasi menarik mengenai DSM. Psikologi Mania