Gangguan Kepribadian Avoidant, Mereka yang Takut akan PenolakanApabila kita artikan ke dalam bahasa Indonesia, gangguan kepribadian avoidant ini berarti merupakan gangguan kepribadian menghindar. Memang, mereka yang memiliki gangguan kepribadian avoidant ini cenderung menghindar dari situasi sosial, dan merupakan seorang penyendiri. Lalu apa bedanya dengan gangguan kepribadian schizoid, yang sama – sama cenderung menarik diri dari lingkungan sosial? Nah, di bawah ini akan diberikan penjelasannya. Namun sebelumnya, kita juga ahrus mengetahui beberapa kriteria diagnostic pada mereka yang memiliki gangguan kepribadaian avaoidant :

Gangguan Kepribadian Avoidence

  1. Menghindari aktivitas pekerjaan yang memerlukan kontak interpersonal yang bermakna, karena takut akan kritik, celaan, dan juga penolakan
  2. Tidak mau terlibat dengan orang lain, kecuali merasa yakin akan disenangi
  3. Menunjukkan keterbatasan dalam hubungan intim, karena rasa takut dipermalukan dan ditertawakan
  4. Preokupasi pada kritik, dimana mereka merasa bahwa mereka sedang dikritik dan juga ditolah dalam dunia sosial
  5. Terhambat dalam situasi interpersonal yang baru, karena perasaan yang tidak adekuat atau sesuai
  6. Memandang dirinya sendiri janggal secara sosial
  7. Enggan untuk mengambil resiko pribadi, karena dapat menimbulkan hal yang merugikan, misalnya penghinaan dan juga kritik

Dari 7 kriteria diagnostic tersebut, seseorang harus memiliki paling tidak 4 kriteria yang terpenuh untuk dikatakan memiliki gangguan kepribadaian avaoidant

Sama – sama menarik dan bermasalah dengan lingkungan sosial, lalu apa bedanya dengan gangguan kepribadaian schizoid dan juga fobia sosial?

Yap, anda pasti bertanya, gangguan kepribadian avoidant, schizoid, serta fobia sosial sama – sama memilki masalah dengan hubungan interpersonal dan juga masalah sosial. Lalu apa perbedaan antara ketiga masalah psikologis ini? Jawabannya, ketiganya berbeda dari hal penyebab. Alias pemicu munculnya gangguan.

Mereka yang memiliki gangguan kepribadaian schizoid, menarik diri dari lingkungan sosial, karena memang tidak memiliki minat sosial yang tinggi, sehingga mereka akan menyendiri dan tidak berhubungan dengan dunia sosial.

Pada gangguan kepribadaian avaoidant, mereka menarik diri atau menyendiri dari lingkungan sosial, karena mereka merasa takut akan dikritik, dan takut tidak akan diterima pada situasi sosial yang ada.

Sedangkan pada fobia sosial, hampir mirip, dimana mereka yang mengalami fobia sosial cenderung merasa cemas akan lingkungan sosial. Namun, fobia sosial akan memunculkan symptom lainnya, berupa munculnya gejala psikosomatis, seperti keringat dingin, muncul masalah fisik, dan sebagainya. Selain itu, pada fobia sosial, mereka merasa bahwa lingkungan sosial sangat berbahaya dan penuh ancaman, bukan takut ditolak ataupun tidak diterima seperti layaknya mereka yang memiliki gangguan avaoidant.

Itulah perbedaan antara ketiga bentuk gangguan yang mirip, yaitu schizoid, avoidant, dan juga fobia sosial.

Bagaiamana orang – orang melihat mereka yagn memiliki gangguan kepribadaian avoidant?

Gangguan Kepribadaian Avoidant, Mereka yang Takut akan PenolakanSecara umum, orang – orang biasa dan juga awam, melihat bahwa mereka yang memilki gangguan kepribadaian avoidant adalah mereka yang :

  1. Pendiam dan juga pemalu
  2. Penyendiri
  3. Tidak memiliki banyak teman
  4. Jarang bersosialasi
  5. Terlihat sangat introvert
  6. Banyak orang mengira bahwa mereka mengalami fobia sosial
  7. Sering diam saja di dalam rumah, ataupun pada situasi sosial, biasanya mereka sangat menutup diri
  8. Ketika di sekolah, mereka cenderung tidak dominan, dan tidak banyak dikenal
  9. Dalam situasi sekolah, seringkali duduk di belakang, dan menyendiri
  10. Jarang mengutarakan pendapat

Itu adalah beberapa hal yang mungkin bisa dilihat oleh orang – orang biasa ketika berhadapan dengan mereka yang mengalami atau memilki gangguan kepribadaian avoidant.

Bagaimana menangani gangguan kepribadaian avoidant ini?

Salah satu focus utama pada mereka yang memiliki gangguan kepribadian avoidant ini adalah masalah kecemasan, dan juga masalah kognitif. Mereka merasa cemas untuk masuk ke dalam lingkungan sosial, yang disebabkan oleh pikiran – pikiran yang membuat dia merasa takut dikritik dan juga takut tidak diterima oleh lingkungan sosial. Terpi yang berhubungan dengan kognitif dan juga kecemasan bisa diterapkan pada situasi ini. terapi perilaku dan juga farmakologi untuk meningkatkan percaya diri, serta mengurangi kecemasan juga bisa dilakukan untuk membantu menangani masalah gangguan kepribadaian avoidant ini.

by: Eduardus Pambudi