Memahami Interaksi Sosial Dalam Kehidupan

Saat ini mungkin kita semua menerima pendapat yang mengatakan bahwa di dalam kehidupan sehari hari manusia tak lepas dari hubungan antara satu dengan yang lainnya. Benar bukan? Ia akan selalu menyesuaikan diri dengan lingkungan di sekitarnya, sehingga kepribadian individu, kecakapan-kecakapan, ciri-ciri dari kegiatan baru akan menjadi sebuah kepribadian individu yang sebenar benarnya apabila keseluruhan dari sistem psycho-physik berhubungan dengan lingkungannya.

Intinya adalah individu akan memerlukan suatu hubungan dengan lingkungannya. Tanpa hubungan tersebut individu bukanlah menjadi seorang individu laigi. Dalam hal ini pun seorang sarjana psikologi Woodworth telah menambahkan bahwasanya hubungan manusia dengan lingkungannya meliputi beberapa pengertian;

  • Individu dapat bertentangan dengan lingkungan
  • Individu dapat menggunakan lingkungan
  • Individu dapat berpartisipasi dengan lingkungan
  • Individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungn.

Dalam menghadapi dunia sekitar individu tak bersifat pasif, akan tetapi ia selalu bersifat pasif, artinya bahwa setiap individu akan selalu berusaha menguasai, mempengaruhi, dan mengubah dalam batasan kemungkinannya. Demikian pula sebaliknya, alam sekitar memiliki peranan terhadap individu, artinya melalui individu itulah ia akan mempengaruhi individu lain, baik berupa tingkah laku, pikiran, perbuatan, sikap, kemauan, perasaan dan lain sebagainya.

Pada umumnya sebuah hubungan berkisar pada usaha untuk menyesuaikan diri dan penyesuaian tersebut dapat dilakukan dengan cara autoplastis, yaitu seseorang haruslah menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Itulah sebabnya H. Bonner dalam buku Social Psychologi memberikan sebuah rumusan tentang interaksi social sebagai berikut.

“Interaksi sosial adalah suatu hubungan antara individu atau lebih, di mana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, ataupun memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya.

Interaksi akan selalu ada dan menjadi bagian terpenting dalam kehidupan manusia, karena sifat manusia sebagai makhluk social. Dengan adanya interaksi, proses-proses pembentukan dalam watak, ataupun kepribadian individu akan selalu di pengarhi oleh interaksi dengan individu lainnya, dan juga lingkungannya.

Namun begitu, pengaruh sekitarpun tentu masih memiliki batasannya. Walaupn lingkungan dan orang lain memberi kemungkinan sampai bagaimanapun juga, akan tetapi potensi tidaklah ada, maka tidak mungkin juga dapat berkembang. Misalkan saja, orang yang memiliki kemampuan rendah, walaupun ia diajarkan oleh seorang professor, tidak mungkin dapat pandai. Sebagimana benih jagung yang jelek, walaupun ia dipupuk tak memungkinkan menghasilkan hasil yang baik. Jadi pengaruh sekitar pun memiliki batasan-batasan tertentu. Dan karena pengaruh ini pulalah, seorang manusia memiliki macam-macam karakter dan kepribadiannya.

Pada pembahasan sebelumnya tentang interaksi sosial, mungkin kita sudah mendapatkan beberapa gambaran singkat mengenai hal tersebut. Namun agar lebih memudahkan  interaksi sosial dapat diartikan sebagai “suatu hubungan antara individu atau lebih, di mana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, ataupun memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya”.

Interaksi sosial tak dapat begitu saja adanya, tanpa didasari oleh faktor-faktor pendukungnya. Berikut ini merupakan faktor-faktor yang mendasari berlangsungnya interaksi sosial.

1. Faktor Imitasi

Faktor imitasi ini telah diuraikan oleh seorang peneliti yang bernama Gabriel Tarde yang beranggapan bahwasanya seluruh kehidupan sosial, sebenarnya berdasarkan kepada faktor imitasi saja. Walaupun memang pendapat tersebut berat sebelah, akan tetapi peranan imitasi dalam interaksi sosial tersebut tidaklah kecil. Terbukti misalnya pada anak anak yan gsedang belajar berbahasa, seakan akan mereka mengimitasi dirinya sendiri, mengulangi bunyi kata-kata, melatih fungsi dari lidah dan mulut untuk berbicara.

Kemudian ia pun akan mengimitasi kepada orang lain, dan memanglah sukar orang belajar bahasa tanpa mengimitasi orang lain, bahkan hal tersebut tidak dalam konteks bahasa saja, akan tetapi dalam tingkah laku, memberikan hormat, cara berterima kasih, dan juga cara memberikan isyarat pun diawali dengan belajar mengimitasi.

2. Faktor Sugesti

Yang dimaksud sugesti di sini adalah pengaruh psikis, baik itu yang datang dari dirinya sendiri maupun dari orang lain, yang pada umumnya akan diterima tanpa adanya kritik. Oleh sebab itulah dalam psikologi sugisti dibedakan menjadi dua yaitu auto-sugesti, dan hetero sugesti.

Autosugesti merupakan sugesti yang datang dari dalam dirinya sendiri, sedangkan hetero-sugesti merupakan sugesti yang datang daripada orang lain. Baik itu auto maupun htero-sugesti akan memegang peranan yang sangat pennting dalam kehidupan sehari-hari.

Di dalam ilmu psikologi sosial peranan dari htero sugesti akan sangat menonjol sekali daripada auto sugesti. Di dalam ilmu Psikologi sosial banyak dari individu individu yang menerima segala macam cara atapun pedoman, pandangan, norma, dan lain sebagainya, daripada orang lain tanpa adanya kritik terlebih dahulu terhadap apa yang akan di terima.

Misalkan saja dalam bidang propaganda orang akan mempropagandakan dagangannya, oleh karena pandainya orang yang menyampaikan propaganda tersebut, maka tanpa piker panjang orang lain akan menerima begitu saja apa yang telah diajukan. Hal ini pun akan banyakk sekali kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Arti daripada sugesti dan imitasi dalam hubunganya, dengan interaksi sosial mungki hampir sama saja. Namun bedanya disini adalah bahwa dalam imitasi orang yang satu akan mengikuti salah satu daripada dirinya, sedangkan dalam sugesti seseorng akan memberikan pandangan ataupun sikap daripada dirinya, lalu diterima oleh orang lain di luar dirinya.

Sugesti akan mudah sekali terjadi jika memenuhi beberapa syarat seperti

  • Sugesti karena hambatan berfikir
  • Sugesti Karena Keadaan Pikiran Terpecah Belah (Dissosiasi)
  • Sugesti Karena Mayoritas
  • Sugesti Karena Minoritas
  • Sugesti Karena Will To Believe

Pada pembahasan sebelumnya tentang interaksi sosial, mungkin kita sudah mendapatkan beberapa gambaran singkat mengenai hal tersebut. Namun agar lebih memudahkan  interaksi sosial dapat diartikan sebagai “suatu hubungan antara individu atau lebih, di mana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, ataupun memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya”.

Interaksi sosial tak dapat begitu saja adanya, tanpa didasari oleh faktor-faktor pendukungnya. Berikut ini merupakan faktor-faktor yang mendasari berlangsungnya interaksi sosial.

3. Faktor Identifikasi

Identifikasi dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi identic (sama) dengan orang lain, baik itu secara lahiriah maupun secara batiniah. Misalkan saja identifikasi seorang anak laki-laki untuk menjadi sam aseperti ayahnya atau seorang anak perempuan untuk menjadi sama dengan ibunya. Proses dari identifikasi ini mula-mulanya berlangsung secara tak sadar (secara dengan sendirinya) kemudian irrasional, yaitu berdasarkan perasaan perasaan atau kecenderungan kecendrungan di dala dirinya yang tidak diperhitungkan secara rasional, dan yang ketiga identifikasi berguna untuk melengkapi sistem norma-norma, cita-cita, dan pedoman-pedoman tingkah laku orang yang mengidentifikasi itu.

Mula-mulanya anak akan mengidentifikasi dirinya sendiri dengan orang tuanya, akan tetapi lambat laun setelah ia dewasa, berkembang di sekolah, maka identifikasi akan beralih daripada orang tuanya kepada orang orang yang berwatak luhur dan sebagainya.

Lalu timbul sebuah persoalan: apakah bedanya identifikasi dengan imitasi? Imitasi dapat berlangsung antara orang –orang yang saling tidak kenal, sedangkan identifikasi perlu dimulai lebih dahulu dengan teliti sebelum mereka mengidentifikasikan dirinya. Secara garis besar adalah, identifikasi merupakan interaksi yang lebih mendalam daripada hubungan yang berlangsung atas proses-proses sugesti ataupun imitasi.

4. Faktor Simpati

Simpati merupakan sebuah perasaan tertariknya seseorang yang satu dengan orang yang lainnya. Simpati biasanya timbul tidak atas dasar yang logis rasional, akan tetapi ia berdasarkan penilaian perasaan seperti halnya pada proses identifikasi. Bahkan orang lain akan dapat tiba-tiba merasakan tertarik kepada orang lain dengan sendirinya oleh karena keseluruhan cara cara bertingkah laku menarik bagi dirinya.

Berikut ini merupakan tabel yang menjadi pembeda antara identifikasi dengan simpati

Simpati

Identifikasi

Dorongn utama adalah ingin mengerti dan kerja sama dengan oran glain Dorongan utama adalah ingin mengikuti jejaknya, ingin mencontoh dan ingin belajar dari orang lain yang dianggapnya ideal
Hubungan simpati menghendaki hubungn kerjasama antara 2 orang atau lebih yang setaraf Hubungan identifikasi hanya menghendaki bahwa yang satu ingin menjadi seperti yang lain dalam sifat-sifatnya yang dikaguminya
Simpati bermaksud kerjasama Identifikasi bermaksud belajar.

Secara garis besar dapat dirumuskan sebagai suatu perasan tertariknya seseorang dengan orang lainnya. Seperti pada proses identifikasi, proses simpati pun kadang-kadang berjalan tidak atas ddasar logis rasional, melainkan berdasarkan pada penilaian perasaan. by: Fatah