Dosen

Dosen

January 18, 2017 Off By admin

InovasiOleh: Prof. Dr. Ir. Dermawan Wibisono, M.Eng

Ada topik yang menghangat selepas debat Pilkada DKI pertama yang lalu, perihal pernyataan Pak Ahok tentang ‘dosen’ yang dalam penangkapan sebagian pemirsa, hanya menguasai teori tapi miskin praktik di lapangan.

Pernyataan Pak Ahok tersebut tampaknya hanya menyatakan apa yang terlintas di benak beliau sesaat, berdasarkan pengalaman beliau dalam struktur akademis yang ‘terlalu sempit’.

Pak Ahok ‘kurang piknik’ dalam melakukan generalisasi pernyataannya, tentang dosen tsb. Karena sebagian besar praktisi di perusahaan besar asing, multi nasional dan nasional, mengenal dan mempraktikan pendekatan manajemen dari Prof. Porter, Prof. Kaplan, Prof. Neely, Prof. Kotler dan sebagianya, yang kesemuanya adalah dosen ternama di universitas Harvard, Cambridge, dan sebagainya.

Dalam lingkup nasional, di bidang kedokteran, ahli yang dipercaya masyarakat dalam penyembuhan penyakit, mayoritas adalah dosen di FK UI, Undip, Unair, Unpad, UGM. Merekalah yang lebih tahu karena terus berkutat dengan bidangnya sehingga menjadi spesialist bahkan super-spesialist.

Dalam konstruksi sipil, jembatan yang memiliki bentang panjang lebih dari 500 meter, maka salah satu ahlinya adalah Dr. Jody Firmansyah, dosen Sipil ITB. Dan kabarnya hanya kurang dari sepuluh arsitek Indonesia yang memiliki licency pembangunan besar, seperti bandara Cengkareng, yang salah satu di antaranya di tangan Dr. Basauli Umar, dosen Arsitek ITB. Yang menata akustik istana negara, kabarnya adalah teman saya, dosen Fisika Teknik ITB, Dr. Sarwono. Yang memberikan nuansa seni bandara Husein Sastra Negara adalah John Martono, dosen senirupa ITB. Yang mengetahui struktur dan adat kehidupan suku terasing di Mentawai dan beberapa suku di Papua adalah dosen antropologi SBM ITB, Dr.Bambang Rudito. Yang memberi gebrakan transformasi di Kementrian Keuangan dan ‘susah payah’ membantu Indonesia yang sedang ‘megap-megap’ keuangannya adalah Dr. Sri Mulyani, dosen Ekonomi UI, kakak kelas saya yang piawai dari SMA 3 Semarang. Daftar ini akan semakin panjang karena memang ada banyak dosen yang berkiprah dalam dunia praktis, di samping mengajar, yang mayoritas di antaranya tidak ‘senang’ dengan hingar bingar politik dan popularitas.

Mereka berkarya dalam diam. Lihatlah pembangunan MRT, LRT, Gedung pencakar langit, banyak jalan layang di Jakarta, rencana Great Sea Wall, jembatan selat Sunda, dan sebagainya yang banyak dosen terlibat di dalamnya baik dalam pro, kontra, implementasi pengetahuan bagi yang sedang berjalan dan sebagainya.

Jadi kini memang saatnya sinergi. Negeri ini sangat besar untuk hanya mengurus segala sesuatu sendiri, apalagi jika kita sibuk dengan penghakiman orang lain, profesi atau apapun yang tidak memberi nilai tambah. Please debat dengan speak by data, focus on the problem solving and respect each other. Itu yang dulu selalu saya tekankan pada peserta debat di MBA ITB, sebelum perkuliahan di mulai.

Penulis adalah Guru Besar pada Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB

Beliau juga merupakan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis & Fakultas Komunikasi dan Diplomasi Uniersitas Pertamina