Dianggap Orang Tua Baik, Namun Justru Berdampak Buruk Bagi Anak

Dianggap Orang Tua Baik, Namun Justru Berdampak Buruk Bagi Anak

November 26, 2018 Off By Admin

Dianggap Orang Tua Baik, Namun Justru Berdampak Buruk Bagi AnakDalam sebuah kesempatan seorang emak-emak tengah bercakap-cakap begitu asyiknya. Dalam percakapan tersebut pembahasan seputaran anak adalah yang paling banyak diantara percakapan lainnya. Begitu asyiknya hingga membiarkan anak mereka yang tengah sibuk berkutat dengan pr mengalami kesulitan dengan sendirinya.

“mak ini bagaimana cara ngerjainnya” salah satu anak dari ibu nganu memanggil ibunya. Namun sang ibu yang tengah asik ngobrol tak ingin di intrupsi. “Itu minta bapak bantuin”, tanpa sadar kalaulah suaminya belum pulang dari bekerja.

Kejadian seperti itu mungkin saja terjadi di sekitar kita, dimana sang anak begitu sibuknya sampai tak sempat untuk main dengan rekan-rekan sebayanya. Atau bahkan tak sempat untuk bercengkrama dan mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya. Sementara sang anak sibuk, sang orang tua tak juga mau untuk sejenak membantu anaknya.

Alih-alih membantu, orang tua justru lebih sering mengambil alih tanggung jawab. Orang tua melakukannya dengan cara  menyelesaikan secara sepihak pekerjaan anak tanpa mau meluangkan waktunya untuk membimbing agar anak bisa menyelesaikan dengan mandiri hingga tuntas dan paham. Yang ada di benak orang tua juga tak sedikit yang merasa beres hanya dengan mengikutkan anak les.

Bahkan waktu sekolah anak yang sudah begitu padat tak di perhatikan pula hingga tega menyunat waktu anak untuk rehat sejenak dengan berbagai les seabrek yang menyita waktunya. Bagi anak yang memiliki orang tua yang otoriter akan semakin nelangsa, lantaran ia tak diberikan kesempatan sedikit pun untuk bisa mengungkapkan perasaan yang tengah ia rasakan.

“Pokoknya, kamu harus begini” Kelelahan sehabis pulang sekolah tak lagi digubris orang tua yang justru lanjut mengantarkan anaknya untuk mengikuti les pelajaran seperti, bahasa inggris, matematika, menari, les piano dan lain sebagainya. Semua itu dilakukan dengan harapan anaknya dapat menjadi seperti apa yang diinginkan.

Banyak sekali anak-anak yang dibentuk oleh orang tuanya agar mampu menjadi seperti apa yang diimpikkan orang tuanya. Dan parahnya keinginan dan impian tersebut acapkali disandarkan pada hal-hal akademik semata yang bersifat angka-angka. “Berangkat les yok nak, biar kamu pintar, nilai matematika-mu bagus”. Saat anak merengek atau agak malas-malasan karena memang merasakan lelah, orang tua akhirnya mendelikkan mata dan menatapnya dengan tajam seakan hendak menerkam anak.

Akhirnya karena takut diomeli atau bahkan di cubit, sang anak pun mengikuti apa yang dimau oleh orang tuanya.

 

Dampak Buruk Anak Terlalu Banyak Les

Memberikan anak untuk mengikuti berbagai les memang tidak salah, bahkan hal tersebut baik selama tidak berlebihan. Jika les yang diberikan pada anak terlalu banyak maka sang anak akan mengalami potensi stress akibat kelelahan.

Hal ini pun terbukti lewat sebuah penelitian yang dilakukan oleh universitas Stanford dimana anak yang diberikan terlalu banyak pr akan memicu anak stress disebabkan kekurangan istirahat. Artinya dalam kasus mengikutkan anak les terlalu banyak juga akan membuat anak akhirnya mengalami suasana aktivitas yang padat dan juga tugas yang terlalu banyak.

 

Sosialisasi dilandaskan pada persaingan

Tak hanya berbicara tentang masalahan kesehatan mentalnya saja, terkadang keinginan orang tua untuk mengikutkan les anaknya adalah agar anaknya dapat menjadi yang terbaik dibandingkan anak lainnya. Terus menerus di tuntut untuk dapat nilai bagus, akhirnya sang anak menganggap bahwasanya persahabatan atau pertemanan tidak begitu berarti. Yang berarti adalah mampu mendominasi dan unggul diatas kertas atau angka.

Bersaing untuk menjadi yang terbaik di kelas juga menjadikan anak akhirnya melihat aktivitas menuntut ilmu bukanlah sebuah kebutuhan yang memang harus dilakukan untuk mencari ilmu. Aktivitas menuntut ilmu pada akhirnya berubah menjadi ajang untuk mencari sebuah pengakuan semata. Sementara esensi menuntut ilmu untuk meraih kebijaksanaan dalam hidup itu pun hilang, disebabkan oleh karena mengejar nilai baik.

 

Otoriter membawa bencana

Kesalahan orang tua selanjutnya yang kadangkala tak disadari adalah tuntutan yang terlalu keras bahwasanya anak harus sekata dan seiya dengan apa yang dimau oleh mereka. Anak yang mengungkapkan unek-unek atau perasannya dianggap sebagai seorang anak yang pembangkang dan tidak menurut.

Padahal jika orang tua terus melakukan hal tersebut, pertumbuhan dan daya kreativitas anak pada akhirnya akan terhambat. Karena keseringan di paksa untuk mengikuti apa yang dimau oleh kedua orang tuanya, pada akhirnya membuat daya kreatif dan juga inisiatifnya tak muncul. Hal ini akan semakin parah manakala ia mulai beranjak dewasa.

Orang tua yang otoriter juga tak jarang menganggap bahwasanya mengancam untuk mendisiplinkan anak adalah tindakan yang tepat. Padahal dengan dirinya yang senang untuk mengancam membuat anak meniru perbuatan yang dilakukan oleh orang tuanya. Ia menganggap bahwasanya segala sesuatu yang diinginkan akan berhasil manakala menggunakan ancaman terlebih dahulu. Terus menerus dilakukan, akhirnya sang anak menjadi pribadi yang kasar di kemudian harinya.

Memiliki anak yang hebat dan cemerlang memang menjadi sebuah dambaan bagi setiap orang tua. Namun adakalanya cara untuk membuat anak hebat dan cemerlang tak selalu bisa diterapkan pada setiap anak. Ada sebuah batasan yang harus kita pahami untuk membuat anak kita hebat, cemerlang dan tentunya sehat secara lahir dan batin.

Yang terpenting dari sebuah pengasuhan adalah kepedulian orang tua untuk memahami apa yang dirasakan anak. Meluangkan waktu anak, dan ikhlas untuk memberikan kasih sayang hingga akhirnya anak merasa bahwasanya ia di cintai oleh kedua orang tuanya.

Rasa dicintai dan di pedulikan itu pada akhirnya membuat anak menjadi bahagia. Kebahagiaan yang dirasakan oleh anak itulah yang membuka potensi hebat yang dimiliki oleh setiap anak. Semoga kita dapat menjadi orang tua yang hebat untuk anak-anak kita.

Oleh: Muhamad Fadhol Tamimy (Co-founder psikoma.com, Penulis buku sharing mu personal branding mu)