Dampak Kebiasaan Dari Meramal Orang Lain

Dampak Kebiasaan Dari Meramal Orang Lain

April 24, 2017 Off By Admin

Dampak Kebiasaan Dari Meramal Orang LainJika mendengar kata-kata meramal, biasanya seringkali kita menyangkut pautkannya dengan hal-hal yang bersifat magis bin klenik. Meramal juga seringkali disematkan pada para normal yang terkadang penampilannya pun tidak normal sama sekali. Meramal juga kerapkali disematkan pada orang-orang yang berkecimpung di bidang psikologi.

Ngomong-ngomong soal meramal dan mahasiswa psikologi ini menarik untuk di perbincangkan. Barangkali perbincangan ini bisa jadi setajam duri ikan. Lembut, namun menusuk. Sewaktu aktif-aktifnya kuliah di Jurusan psikologi universitas Mulawarman dahulu, kerap kali penulis ditanyai beberapa pendapat tentang karaktersitik seseorang. Entah itu bertujuan untuk sekedar kepo, hingga pertanyaan yang serius untuk mencocokkan jodoh. Ciyeee jodoh

Padahal, mengetahui karakteristik seseorang itu tidaklah sederhana seprti bangunan gubuk asmara di tengah sawah guys. Karakteristik manusia itu super kompleks keadaannya. Yah, waktu itu penulis jawab saja sekenanya, karena gengsi dong masa iya mahasiswa psikologi membaca kepribadian saja tidak bisa. hehehe taktik agar terlihat seperti mahasiswa psikologi

Terkadang penulis sampe termehek-mehek dikejar-kejar foto-foto tak jelas siapa orangnya untuk di baca karakteristik kepribadiannya. Yassalam, sudah disamakan mirip dengan mbah dukun, kenapa tidak sekalian disamakan dengan mbah google saja, biar segala informasi dapat saya baca, kan lebih keren cita rasa Hollywood

FYI (for your information) membaca karakteristik atau kepribadian atau apalah pernak-perniknya tentang sifat manusia itu tidak sederhana loh. Para psikolog saja pun tak lantas gegabah menentukan sifat seseorang ini itu dengan sekejab observasi dan pengamatan saja. Perlu adanya pelengkap dengan serangkaian penggunaan alat-alat tes, dan juga wawancara.

Yang menjadi kacau saat ini adalah, saat seseorang yang masih taraf belajar psikologi seumur jagung telah berani untuk menjustifikasi kepribadian seseorang loh. Ada yang begitu? Adaaaa.

Barangkali semasa awal mula menjadi mahasiswa psikologi dahulu kala, penulis pernah melakukannya, juga. Ya Allah maafkan hamba, yang kejam menjustifikasi kepribadian seseorang, namanya juga khilaf 🙁 .

Terkadang, ramalan mahasiswa psikologi buat ngeri-ngeri sedap loh jika diterapin kepada orang awam. Bayangin saja, terkadang ramalan “ngaco” ini bisa membuat geger hubungan persahabatan, pertemanan, perkenalan, per-traktiran, sampai per-asmaraan.

“Mahasiswa psikologi: “eh tau ga sih si anu ini karakteristiknya suka caper loh”,

mahasiswa non psikologi: “emangnya di lihat dari mana”

Mahasiswa psikologi: “ini kita bisa ngebaca dari tulisan minta tolongnya, dia make kata-kata kakak-kakak yang cakep, atau adik-adik yang cantik”

Mahasiswa non psi: “dari mananya kita bisa lihat”

Mahasiswa psi: “dari beberapa kata-kata kita bisa melihat pasti yang dimaksud itu ingin mencari perhatian deh, menurut penelitian 85% orang itu suka bicara tentang dirinya sendiri loh (penelitian ngarang)

Mahasiswa non Psi: “mmmm”

Gundulumu alus leee, membaca kepribadian ga sesederhana main ramal-meramal. Emangnya belajar psikologi itu agar dapat ilmu + gelar sarjana cenayang (S. Cen). Banyak kriteria yang harus di perhatikan dan dilengkapi persayaratannya. Dhasyat banget hal ini jikalau sang mahasiswa non psikologi langsung memeprcayainya. Jika ia adalah sahabat dekat, bisa jadi renggang, jika hal ini terjadi dengan rekan bisnis bisa gagal total tuh rencana investasi milyaran ampe triliyunan. Jika yang di baca adalah abang bakso yang masih memiliki banyak tanggungan anak-anak tak berdosa, berarti secara tak sadar kita telah berkontribusi untuk memfitnah seseorang. Amsyong dah, kalah banyak nih.

Hal ini selain menimbulkan miss persepsi, miss konsepsi, miss redaksi, dan segala macam komplotan miss yang lainnya. Sudah mirip rumpian ya hehe. Kali aje di panggil ibu arisan sebelah.

Memang mahasiswa psikologi di bekali dengan ilmu-ilmu mengetahui lebih dalam tentang karakteristik seseorang. Khususnya teori-teori kepribadian dalam psikologi kepribadian, psikologi perkembangan, psikologi sosial dan kawan-kawannya. Namun, sebagai mahasiswa sudahkan hal tersebut di perdalam maknanya? Atau jangan-jangan baru sekedar tau kulit luarnya saja, pede petantang-petenteng menjustifikasi kepribadian seseorang agar di bilang psikolog gituu.

Mengidentikan diri menjadi profesi tertentu tidaklah salah. Bahkan untuk adik-adik mahasiswa  psikologi yang mengidentifikasi diri menjadi psikolog sangatlah bagus untuk di lakukan.

Yang lebih penting daripada mengidentifikasi profesi tersebut adalah memahami standard kode etik profesinya. Karena kode etik adalah rule yang harus ditaatai sebagai seorang psikolog itu sendiri.

Dalam memahami sebuah kepribadian tentu tidak dapat dilakukan dengan metode ramal. Namun dengan menggunakan analisis dan dasar keilmuan tertentu terutama menggunakan dasar-dasar psikologi kepribadian hal itu akan lebih tepat.

Mempelajari psikologi ataupun ilmu tertentu bukan semata diperuntukan untuk tampil keren-kerenan, agar terlihat hebat bin pintar di hadapan orang lain. Namun esensi kepintaran tersebut seyogyanya dapat digunakan untuk lebih menenangkan dan memberikan ketentraman bagi orang lain. Pun jika kita mengetahui apa yang salah daripada orang lain, perlu sekiranya mengutarakannya dengan memikirkan dampak yang akan terjadi nantinya.

Mulai dari sekarang, mari belajar lebih giat untuk menggapai cita-cita yang diimpikan dan dicita-citakan. Agar pada akhirnya nanti kita mampu menjadi psikolog yang mumpuni dan memiliki kualitas untuk memberikan kontribusi kepada bangsa Indonesia.

By: Muhamad Fadhol Tamimy (Penulis adalah co-founder dari psikologi mania (psikoma.com) untuk menghubunginya anda dapat langsung menghubungi via email: tamimyf@yahoo.com

_________________________________________________________________________

 

Sharing-mu Personal Branding-mu buku panduan yang komperhensif serta mengembangkan dan menganalisis karakter lewat media sosial. Buku ini juga dilengkapi dengan beberapa dasar trait dalam psikologi yang menjadi sandaran dalam menentukan kepribadian pengguna media sosial. Dari hasil analisis tersebut pembaca akan di bawa memahami kategorisasi seseorang dengan pola perilaku di media sosial, hingga panduan untuk menampilkan Personal Branding yang disukai oleh siapa saja dan bagaimana membangun sebuah branding agar dikenal hingga target sasaran marketing yang dituju.

Dapatkan buku dengan bertanda tangan asli penulis hanya di Psikologi Indonesia. Open Order di buka 1 Agustus mendatang.