Dampak Buruk Mempererat Hubungan Persahabatan Dengan Pola Komunikasi Sarks

Nama : Valerie xxx

Judul : Psikologi Remaja, antara tidak stabil atau kelainan
Isi Konsultasi : Saya perempuan, hampir berusia 20 tahun. Baru-baru ini saya mendapat tamparan keras dari salah seorang teman mengenai cara saya bersikap dalam menghadapi tekanan. Saya mudah sekali nyambung ketika ngobrol dengan orang baru, mereka akan merasa nyaman duluan. Ketika sudah cukup dekat, saya akan melontarkan beberapa kalimat sarkas untuk mempererat hubungan pertemanan. Biasanya, setelah saya berceloteh tidak jelas -yang biasanya berakhir dengan teman saya yang marah dan sakit hati-, saya dan teman2 saya akan melupakan kejadian tersebut keesokan harinya. Dan itu berlangsung selama bertahun-tahun, membuat itu menjadi kebiasaan saya. Suatu ketika, saya melakukan hal yang sama terhadap teman yang baru saya kenal setahun belakangan. Reaksinya sangat luar biasa. Dia meluapkan seluruh amarahnya, sesuatu yang tidak pernah saya hadapi sebelumnya. Saya sontak kebingungan, karena saya juga bukan tipikal orang yang mudah minta maaf, saya hanya bilang kalau “lupakan saja kejadian kemarin dan anggap itu sudah lewat”. Amarahnya semakin memuncak, dia memberi saya khutbah yang amat panjang, dan dipenghujung kalimat dia berkata “kamu terlalu lama berada di zona nyaman”. Sungguh saya tidak paham, apakah saya atau teman saya ini yang bermasalah? Hingga setelah kejadian itu, kami hanya mengobrol apa adanya dan intensitasnya amat berkurang. Mohon penjelasan dan solusinya. Terima kasih.

Jawaban: Dear mba vale, pada dasarnya setiap manusia menginginkan untuk di perlakukan dengan baik. Ia akan secara alami melakukan self defense manakala ia merasa terancam secara fisik, maupun psikologis. Keterancaman secara fisik mungkin akan dapat terlihat secara kasat mata luka yang akan di timbulkannya. Namun untuk kekerasan secara psiklogis hal tersebut tak akan mudah di lihat secara kasat mata. Bahkan apa yang kita anggap biasa saja, menjadi hal yang sangat luar biasa dampaknya bagi orang lain. Oleh karena itu, berdasarkan apa yang telah mba ceritakan tersebut, memang adakalanya ucapan ataupun bentuk perlakuan yang di lakukan tersebut telah sampai menyinggung perasaan teman dari mba vale. Dan menurut teman dari mba tersebut sudah tak bisa lagi ditolerir menurutnya.

Memang dalam interaksi dengan orang lain, terkadang kita menginginkan hubngan yang kita jalani tersebut langgeng (bertahan lama), sehingga segala upaya kita lakukan. Akan menjadi lebih bijak jika upaya kita untuk memperert hubungn persahabatan ataupun pertemnan tersebut di dasarkan pada saling menghargai dan mengerti. Menahan diri untuk tak menyakiti hati orang lain adalah lebih baik untuk dilakukan, karena mereka yang saling mengerti akan dapat bertahan lama dalam menjalin hubungan.

Lalu apakah mba mengalami gangguan atau kelainan? Untuk mendiagnosis anda mengalami kelainan ataupun gangguan tidak bisa secara instan, karena harus ada beberapa assessment lebih lanjut. Namun secara garis besar, mereka yang dikatakan mengalami gangguan adalah apabila telah berlangsung selama rentang waktu tertentu dan telah sampai taraf mengganggu aktivitas sehari-hari.

Untuk kedepan ada beberapa hal yang mungkin bisa di lakukan untuk mempererat hubungan persahabatan tanpa harus memepereratnya dengan beberap pola komunikasi yang agak “sarkas”.

  1. Saling menghargai segala sesuatu yang di lakukan orang lain: Dengan menghargai orang lain, berarti kita pun telah menghargai diri kita sendiri, apabila memang ada segala sesuatu yang menurut kita mengganjal dan tak baik untuk di lakukan teman/sahabat kita bisa menegerunya dengan cara yang baik-baik.
  2. Saling terbuka kepada satu dengan yang lainnya
  3. Jangan sungkan untuk meminta maaf jika kita telah melakukan kesalahan.
  4. Percaya diri untuk selalu melakukan kebaikan di sekitar kita

Tetap Semangat

Psikologi Mania