Cinta, Tulus Dan Ikhlas

Cinta, Tulus Dan Ikhlas – Pernah seorang sahabat menceritakan pembelajaran akan suatu peristiwa pad masa lalu. Dan mengatakan, bahwa lebih baik menyingkir, menjauh ketika seorang sahabat mendapatkan jabatan struktural, karena di sana ada amanah, cobaan dan pertangggungjawaban yang mahaberat sampai di akhirat kelak. Namun mendekatlah saat orang sudah tidak memegang jabatan itu lagi sebagai representasi dari rasa simpati, tiadanya tendensi dalam persahabatan yang selama ini dibina, dan rasa tulus ikhlas yang tidak mengharapkan apa-apa, keculai riddlo Allah ketika seorang sahabat memegang jabatan itu.

Sulit sekali mengambil contoh akan sikap seperti itu pada masa kini, ketika orang sudah kalap denngan duniawi dan tidak peduli lagi akan jati diri. Dan tiba-tiba, contoh itu tergelar di depan mata.Ribuan karangan bunga digelar di balaikota sebagai tanda cinta yang tulus dan ikhlas melepas Pak Ahok menuntaskan jabatan yang diembannya. Walau, waktu masih 6 bulan ke depan. Segala sesuatu masih bisa terjadi, karena kejadian nanti sore pun kita tidak pernah tahu, seperti tidak percayanya pendukung Paris St Germain yang tiba-tiba tersingkir dari Piala Champion padahal sudah unggul 4-0 saat menjamu Barcelona di leg I.

Ada memang sebagian orang yang gemar mengiitung segala sesuatu atas dasat profit oriented. Menghitung uang untuk sekian karangan bunga, yang bisa dibagikan untuk masyarakat kurang mampu, Yang saya yakin, saat selesai menghitung perkalian 1 juta x berjuta bunga, di hatinya sama sekali juga tidak melakukan apa yang dia sarankan.

Perasaan memang sering tidak dapat dimatematiskan. Apalagi cinta. Sulit memahaminya, sama seperti mencoba mengerti mengapa Clift Sangra jatuh cinta setengah mati kepada Suzana atau seorang Taiwan yang jatuh hati pada seorang wanita Jawa, atau gadis Italia yang tertambat pada pria dari Tegal, atau kenapa istri atau suamimu tertarik kepadamu. Itu adalah urusan hati yang bahkan kadang pikiran kita sendiripun tak mengerti mengapa hati kita memiliki interpretasi seperti itu.

Setidaknya kita mestinya bersyukur, bahwa sebagian penduduk Jakarta memiliki nurani yang masih tulus, ikhlas dari berbagai tulisan karangan bunga yang kadang geli dan lucu kita membacanya.

Saya tidak tahu secara persis, karena tidak mengikuti dengan seksama, berapa total jumlah suara dalam pilkada DKI yang lalu. Tapi melihat populasi Jakarta sekarang, mestinya tidak kurang dari 5 juta orang menumpahkan hasrat, yang semuanya bermuara sama, menjadikan Jakarta lebih baik. Lima juta adalah hampir sama dengan seluruh penduduk negeri Norwegia, atau Denmark, di Scandinavia, yang kehidupannya sudah sangat maju, mapan dan sejahtera. Negara-negara di mana teknik sipil dan pengeboran minyak menjadi acuan, dan asal badan usaha koperasi sudah lama menjadi kiblat Bug Hatta dalam pengelolaan ekonomi kerakyatan.

Ketika kita hanya suka dengan aspek seremonial suatu acara, sesudah itu meningalkan pilihan kita sendiri, dan mengulang lagi setiap lima tahunan, maka jangan-jangan kita akan pensiun pada kondisi yang tak berubah dari bertahun lalu. Kerja, kerja,kerja sudah dicanangkan 2 tahun lalu…. di mana posisi kita sekarang at least, pada kerjaan kita masing-masing….

Oleh: Prof. Dr. Ir. Dermawan Wibisono, M.Eng

Penulis adalah Guru Besar Sekolah Manajemen dan Bisnis Institut Teknologi Bandung

Beliau juga merupakan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis & Fakultas Komunikasi dan Diplomasi Uniersitas Pertamina