Cara Membaca Kepribadian Lewat Postingan Media SosialCara membaca kepribadian – Membaca kepribadian menggunakan media sosial merupakan metode aplikatif yang saat ini penggunaannya mulai gencar dilakukan. Hal ini memang sangat beralasan, mengingat arus interaksi di media sosial menjadi sangat popular. Bahkan dalam hubungan interaksi di dunia nyata sekalipun, pengaruh dari media sosial ini kian begitu kuat terasa.

Orang yang berinteraksi secara “Negativ” di media sosial bahkan mampu membuat orang tersebut di cela atau bahkan di benci di dunia nyata. Kita lihat saja kasus beberapa tahun yang lalu, dimana salah satu Mahasiswa perguruan tinggi di kota Yogyakarta, Florence yang merasakan akibatnya akibat postingan bernada hinaan bagi masyarakat kota Yogyakarta.

Atau sebaliknya orang yang merasakan dampak postif dari kreasinya di media sosial, salah satunya menjadi artis media sosial yang mendapatkan banyak pundi-pundi dari endorse.

Media sosial juga kerap digunakan oleh para Headhunter di perusahaan untuk mengecek calon karyawan berkaitan dengan potensi, hingga kepribadian yang dimiliki.

Untuk itulah media sosial secara umum dapat digunakan untuk membaca karakter dan kepribadian seseorang. Hal ini semakin dikuatkan dengan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yoram Bachrach, dkk (2012) dimana ia melakukan sebuah penelitian yang melihat bagaimana kepribadian seseorang bisa berkorelasi dan berkaitan dengan pola penggunaan dari sosial media, seperti Facebook. 180.000 user dari Facebook menjadi bahan penelitian, dimana jumlah pertemanan, jumlah foto yang diupload, jumlah event yang dihadiri, jumlah grup yang dimiliki, dan seberapa banyak orang tersebut di-tag dalam sebuah foto menjadi bahan pertimbangan untuk melihat kepribadian seseorang di dalam penggunaan sosial media, terutama Facebook.

Hasilnya bahwa seseorang yang termasuk ke dalam orang yang tergolong menyukai hal baru memiliki kecendrungan dengan jumlah grup yang diikutinya, intensitas update status, dan jumlah like yang dimiliki.

Sementara itu orang dengan kecendrungan karakter yang terorganisir, dan terencana memiliki korelasi dengan sedikitnya grup yang diikutinya. Namun orang jenis ini memiliki kecendrungan dengan banyaknya jumlah unggahan foto yang dimilikinya.

Orang yang memiliki kecendrungan sifat pencemas memiliki korelasi dan kecendrungan korelasi yang positif terhadap jumlah like dan jumlah grup, dimana artinya mereka juga memiliki sejumlah like dan grup yang banyak. Penjelasan dari ini adalah mengenai sebuah dukungan dan juga support, dimana mereka yang memiliki tipe kepribadian neuroticism ini membutuhkan dukungan daripada orang lain dan mereka berharap banyak yang membantu serta mendukung dirinya.

Namun demikian, neuroticism memiliki kecendrungan jumlah teman yang terbilang cukup sedikit, hal ini dikarenakan mereka ingin menjaga sebuah hubungan yang lebih dekat dengan beberapa orang teman saja, yang dapat memberikan dukungan yang lebih baik lagi.

Cara membaca kepribadian lewat postingan media sosial ini dibahas lengkap disertai kasus di kehidupan sehari-hari dalam buku “Sharing-Mu, Personal Branding-Mu”.

Sharing-Mu Personal Branding-MuTak hanya itu saja, buku ini sangat berguna digunakan oleh para Headhunter untuk melihat kepribadian calon karyawan, ataupun dapat menjadi panduan untuk meningkatkan personal branding anda.

Dapatkan buku ini dengan melakukan pemesanan langsung melalui pesan fanspage facebook Psikologi Indonesia atau lewat http://bit.ly/2u9t2ot

Refrence:

Tamimy, M.F. 2017. Sharing Mu Personal Branding Mu. Visi Media Pustaka: Jakarta.

Bachrach, Y. Kosinki, M. Graepel, T. Kohli, P. Stillwell, D. (2012). Personality and patterns of facebook usage. Evanston. USA