Bijak Bersikap Di Tengah Arus Huru-Hara Media Sosial

Bijak Bersikap Di Tengah Arus Huru-Hara Media Sosial

January 3, 2017 Off By admin

Bijak Bersikap Di Tengah Arus Huru-Hara Media SosialOpini

Oleh: Muhamad Fadhol Tamimy

Sosial media, mekanisme komunikasi canggih dan murah bagi sebagian manusia saat ini memiliki dampak yang bermacam-macam. Kebermanfaatan yang ada pada sosial media, menjadi salah satu dampak yang terbilang positif. Melalui sosial media, kita dapat menemukan kawan masa kecil ataupun masa sekolah yang telah lama kita tak berjumpa dengannya. Hal itu dikarenakan kemudahan fitur yang beragam di sosial media. Tinggal mengetik nama pada kolom pencarian yang tertera, niscaya akan muncul berbagai nama yang akan kita cari.

Dahulu mungkin untuk mencari seseorang, orang akan berbondong-bondong ke rumah dukun kampung sebelah, sembari membawa prasyarat horor nan mistik guna menanyakan ciri-ciri kawannya yang telah hilang. Barangkali sekarang, jika masih saja ada yang menggunakan jasa seperti itu tentu bukanlah dukun konvensional. Melainkan dukun on-Deamand yang jasanya  baru bisa di pergunakan dengan menggunakan aplikasi layaknya Go-Jek.

Sesuai dengan arus perkembangan zaman, tentu praktek pencarian krabat maupun kawan yang lama telah hilang lewat jasa perdukunan akan terlihat lucu. Seakan pergeseran jasa klinik dukun misitik yang tergusurkan secara perlahan oleh “satpol PP” yang bernamakan sosial media.

Penyambung komunikasi berbiaya murah ini pun tentu semakin asik untuk dilakukan, terlebih lagi kita tak perlu bertemu secara fisik dengan lawan bicara. Cukup dengan mengetik di depan layar, maka pesan-pesan percakapan akan tersampaikan. Komunikasi ngarol ngidul tidak penting hingga rapat bernilai jutaan atau bahkan milyaran dolar dari para tukang korup pun terkadang masih saja ceroboh di lakukan lewat obrolan sosial media. Pantaslah mereka mudah di lacak KPK.

Dampak Negatif

Tak hanya dampak positif saja yang dimiliki oleh sosial media, namun dampak negative pun seiring sejalan membayangi penggunaanya. Mulai dari berita hoax, adu tebar fitnah, hingga penggiringan opini untuk memojokkan golongan tertentu pun sangat gencar dilakukan.

Fanspage ataupun grup-grup yang awalnya bertujuan untuk memberikan informasi bermanfaat serta hiburan dengan selipan humor, saat ini menjadi tak lucu lagi, dengan kian berbaurnya kontent menyudutkan pihak-pihak maupun agama tertentu.

Menjadi popular saat ini memang tak perlu repot bin rempong dengan sibuk bekerja sepenuh hati menciptakan karya, namun cukup dengan sederhana mencari angle foto terbaik, anda sudah nampak bersinar dan cakep maksimal, sehingga ribuan like akan membanjiri akun kalian.

Trend inilah yang membuat para anak muda kreatif mencitrakan diri mereka sebagai selebritis dadakan. Mereka dengan “sepenuh hati” “bekerja” mencari simpati melalui postingan status, dan foto yang dibaluti caption agar menarik siapa saja para netizen.

Namun tak jarang, saking kreatifnya para remaja justru rela buka-bukaan demi mendapatkan popularitas instan. Umbaran foto bergairah terkadang ngeri-ngeri sedap di pampang, yang telah diselipin link abal-abal perusak akun.

Jika Paket internet habis, mereka seakan kejang-kejang mencari sumber pendanaan guna memenuhi paket internet. Entah dengan bekerja secara normal halal, atau mencari dana membeli paketan dengan jalan tak normal memaksa orang tua untuk memenuhi kebutuhan mereka. Jika orang tua tak mampu memenuhi keinginan anaknya untuk membelikan paket kuota internet, dikarenakan kondisi keuangan lagi cenat-cenut maka jalan pintas pun menjadi obsi manjur pilihan. Membegal, mencuri, hingga menjegal “om-om” telolet om bin om-om jalan bareng yuk om.

Persaingan di bidang industri saat ini juga aktif menggunakan kampanye lewat jaringan sosial media yang dimiliki, untuk mengkampanyekan produknya. Hal ini wajar saja terjadi mengingat trend pengguna yang begitu besar, seakan media mainstream pun hampir sempoyongan tak berdaya berebut Kue jasa pencitraan dengan aplikasi besutan bernama sosial media. Bukan hanya murah, namun dengan menggunakan sosial media efek viral gratis pun kerap efektif dibandingkan dengan memasang iklan lewat media mainstream atau endorse para artis.

Atau jalan yang lebih ramah, dan lebih hemat untuk di nego, silahkan untuk mengendorse penulis di tamimyf@yahoo.com, saya akan dengan senang hati untuk negoisasi masalah haraga. Lumayan promo :p

Sosial media bukan hanya menjadi sebuah kebutuhan sekunder, atau tresier lagi, namun ia telah berevolusi menjadi gaya hidup tak terpisahkan bagi para masyarakat, khususnya di indonesia saat ini. Menurut data yang dihimpun dihimpun oleh Yahoo-TNS (2013) menunjukkan bahwa penggunaan  internet dari tahun ketahun mengalami peningkatan. Dari tahun 2011 sebesar 22%, lalu kemudian ditahun berikutnya mengalami kenaikan sebesar 43% (dalam Soliha, 2015). Ditopang oleh meningkatnya pertumbuhan penggunaan internet tersebut akhirnya berbanding lurus dengan penggunaan sosial media saat ini. Berdasarkan data yang di himpun oleh techinasia sebanyak 79 juta orang di Indonesia adalah pengguna media sosial aktif dari 88,1 juta pengguna internet (techinasia, 2015).

Tentu dengan trend peningkatan tersebut di prediksi tahun 2017 popularitas penggunaan sosial media untuk melakukan segala macam kampanye ataupun trik marketing semakin meningkat 50%. Dan tentu hal tersebut mengakibatkan semakin rame sosial media dengan hiruk pikuknya.

Anak remaja yang dahulunya adalah penduduk mayoritas di dunia sosial media, saat ini trendnya sedikit berubah, dimana para penggunanya tak hanya dari kalagan anak muda semata, namun usia dewasa pun memiliki akun sosial media. Jangan salah nenek-nenek pun kian eksis terlihat di sosial media.

Para pengguna aktif sosial media tersebut terbagi pada beberpa segmen platform seperti facebook, twitter, path, bbm, line, instagram, linkedln dan lain sebagainya.

Pengguna di setiap platform juga terbagi ke dalam beberapa segmen, mulai dari remaja, dewasa, pria, dan wanita. Mulai dari anak baru gede, usia sekolah, kalangan mahasiswa, hingga kalangan professional memiliki aplikasi jenis sosial media di setiap ponsel mereka.

Manfaat dan kerugian penggunaan media sosial, bak dua sisi yang saling berlawanan, tergantung siapa yang akan menggunakan. Oleh sebab itulah, pentingnya pendidikan bermedia sosial saat ini untuk digalakan menjadi kurikulum mata kuliah atau pelajaran tambahan.

Demi menjaga perilaku positif, memang sebuah trobosan penting untuk segera dilaksanakan. Media sosial mungkin terlihat remeh namun jika meremehkannya pun tidaklah bijak, mengingat sumber informasi saat ini, salah satu medianya adalah sosial media.

Anda para orang tua, pendidik, bakul soto, pak lek pentiol, atau bahkan om telolet pun tak menginginkan jika huru-hara media sosial kian menguasai jagat informasi dengan sebaran berita hoax, fitnah penuh kebencian, hingga saling memojokkan bukan? Untuk itulah, mulai saat ini, dari diri sendiri, dan melalui informasi ini yuk mari sebarkan kebaikan dimanapun, terutama media sosial. Penulis adalah Co-Founder Psikoma.com