Berjalan dengan sebuah pilihan yang salahPilihan Yang Salah (Kontribusi Pembaca)

Berjalanlah sesuai dengan apa yang kamu inginkan, pilihlah sebuah jalan yang membuatmu memilih tanpa ada rasa bersalah dan juga sebuah penyesalan. “

(Tuhan memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan bukan dari apa yang kita inginkan)

Begitu banyak kisah inspiratif dari seseorang yang akhirnya berhasil meraih apa yang mereka inginkan. Berjuang dengan sekuat tenaga, bangkit dari sebuah kegagalan dan berhasil membuktikan bahwa mereka mampu meraih impian itu.

Berjalan dengan sebuah pilihan yang salah

Kisah ini sedikit flashback, awal mulanya ceritanya saat tahun 2013. Itu adalah tahun akhir aku lulus sekolah menengah atas lebih tepatnya 3 tahun lalu. Aku baru saja lulus SMK, karena memang aku masuk sekolah menengah kejuaran. Selama aku lulus, aku akhirnya mengikuti ujian SNMPTN namun hasilnya gagal, aku pun tak diterima, dan selama itu pula aku memang tidak diperbolehkan kuliah karena orang tuaku memiliki usaha perdagangan lebih tepatnya sih punya semacam toko.

Saat itulah aku menyerah pada impianku, karena selain aku tidak lolos masuk lewat jalur SNMPTN aku pun akhirnya tidak diizinkan kuliah. Keadaan tersebut membuatku menjalani hidup dengan membantu ibu di toko. Hingga tak terasa 1 tahun berlalu, selama itu pun aku tidak pernah berfikir untuk kuliah kembali. Hal itu pun membuatku menyerah dan juga pasrah akan takdir yang berjalan.

Tuhan kembali menguji, bapaku terkena sakit stroke ringan. Aku dan keluargaku selama itu mengurus segala keperluan bapa. Mulai dari makan, mandi, sampai jalan jalan dan juga pergi untuk terapi. Selama itu juga aku tidak pernah kembali berfikir untuk kuliah. Keadaan yang sudah terlihat lebih sulit lagi jika aku kuliah. Pikiranku saat itu adalah aku hanya tidak ingin merepotkan orang tuaku lagi dengan keadaan yang seperti itu.

Tahun 2015. Bulan januari, tuhan memberiku cobaan kembali dengan kenyataan yang begitu pahit. Bapa telah dipanggil kembali sang ilahi, dan ternyata tuhan jauh lebih menyayanginnya daripada aku dan keluargaku.

Di tahun yang sama, beberapa bulan yang datang, tuhan mengujiku kembali. Usaha dagang (toko) kami pun dibongkar dengan alasan, tempat ini akan dipakai, padahal sewa kontrak toko baru akan diperbaharui, hanya masih dalam proses. Keadaan yang sangat membuatku rasanya membenci, disaat ketika kami terjatuh dan hampir berhenti dari usaha (toko) ini, ada saja orang yang senang diatas penderitaan kami.

Aku sempat berfikiran, mungkin itulah akhir semua mimpiku. Tapi nyatanya tidak, dari setiap cobaan dan halauan yang tuhan berikan padaku, terselip hikmah didalamnya. Tiba tiba saja kakaku menawariku untuk kuliah dengan sangat mendadak dan tak terduga. Dia menawarkan tepat sehari setelah SBMPTN ditutup. Padahal aku ingin sekali masuk universitas negeri, tapi hal lain berkata. Tuhan mungkin telah memiliki rencana lain.

Pilihan Yang Salah

Aku mulai menimang – nimang dimana aku kan kuliah, dan apakah aku yakin akan kuliah setelah 2 tahun tanpa ada kegiatan kembali. Aku sholat, meminta petunjuk kepada-Nya. Sampai saat hari itu tiba aku mendaftar di 2 univ swasta. Yang pertama univ melalui ujian tertulis, dan yang univ satunya lagi melalui jalur prestasi. Dan saat ini, aku kuliah di sebuah universitas swasta semester 2.

Jarak rumah menuju kampus yang lumayan jauh membuat biaya ongkos perjalanan pun lebih mahal, ya dapat dikatakan 20.000 an lebih, dalam satu hari. Untuk mengurangi beban ibu, aku tak begitu sering jajan di kampus. Ya paling sekali kali jajan. Itu pun kalau ada sisa dari ongkos. Belum lagi jika ada fotocopy atau semacam print.

Dalam setiap kesulitan, tuhan memberikan sebuah bantuan yang indah. Aku bisa mendapatkan beasiswa untuk 1 tahun. Alhamdulillah akhirnya aku dapat meringakan beban orang tua.

Satu hal yang aku sesali, aku tidak pernah memilih sebuah jalan yang aku pilih, aku selalu gagal, aku selalu tidak pernah yakin tentang sebuah keyakinan diri, dan aku yang selalu mengikuti jalan orang lain.

Aku bersyukur, tuhan masih memberiku kesempatan yang begitu indah, Pilihan Yang Salah walau masih ada sebuah sesal dalam hati, ingin sekali aku memilih jurusan psikolog, tapi kenyataannya aku tidak bisa. Bukan tidak bisa, hanya aku tidak pernah membuktikan kepada orang tuaku bahwa aku bisa memilih jurusan itu, aku mengikuti kemauan orang tua memilih jurusan teknik dan tanpa pernah aku sadari, aku memilih sebuah jalan yang dipilihkan orang lain.

So, buat kalian semua yang masih ada waktu, impian, dan mimpi yang tinggi. Kejarlah sebelum semuanya terlambat dan juga menyesal. Sebelum kalian melangkah. Yakinkan bahwasanya kalian bisa, berjalanlah di atas. Berjalanlah dengan jalan kalian sendiri, jangan pernah mengikuti kemana orang lain pergi.

Ketika semua terasa pahit dan sulit, ingatlah bahwa perjuanganmu terasa lama karena sebuah proses dan membutuhkan waktu. Buktikan pada semua orang dan orang tua kalian bahwa apapun pilihan kalian, itu yang akan menjadi tanggung jawab kalian.

So, ayo kejar mimpi kalian. Jangan menyerah ditengah jalan. Karena kadangkala impian yang tercapai itu akan datang di saat kita hampir menyerah. Bermimpilah setinggi langit, dan buktikan bahwa di suatu hari nanti mimpi kalian akan mencapainnya. Pilihan Yang Salah

Seperti yang dikutip dari tulisan (salah satu blog) tentang Adam Khoo.

“ Tuhan tak kan pernah salah dalam menciptakan setiap makhluknya, apalagi terhadap manusia. Jika ada orang yang beranggapan dirinya tidak mungkin sukses, banyak kekurangan, itu dikarenakan dirinya belum mencari tahu akan potensi dan kelebihan dalam dirinya. “

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi Pribadi

Nama     : Sinta Septining

Email    : Sintaseptining23@gmail.com

Profesi  : Mahasiswa