Berbohong Ala Selebgram Zaman Now

Berbohong Ala Selebgram Zaman Now

December 12, 2017 Off By Admin

Berbohong Ala Selebgram Zaman NowFulan merupakan seorang selebgram yang tengah naik daun. Followersnya kian hari kian meroket semenjak postingan yang ia buat di re-share ulang oleh salah satu akun fanspage media sosial dengan kapitalisasi jutaan followersnya. Imbas dari di re-share di akun tersebut viral lah postingan yang ia unggah ke seluruh lini pengguna media sosial di seantero negeri.

Jika ditelisik maka kita akan mafhum jika akhirnya ia mendulang sukses dengan kapitalisasi jutaan followersnya, karena memang ia kreatif dan aktif untuk memproduksi content di akun instagramnya. Selanjutnya kita pun bisa mengetahuinya, “ada gula, ada semut” ada kerumunan yang menyemut, disitulah peluang promosi brand bersambut.

Satu dua ia kerjakan dengan sungguh-sungguh nan kreatif berpadu dengan pasangan yang diberdayakan. Lambat laun dengan pertambahan folowers yang kian masiv, si fullan akhirnya mendapatkan limpahan pesanan order untuk melakukan paid promo dan endorse.

Beragam cara pun mulai digunakan dalam melakukan paid promo dan endorse tersebut. Mulai dari yang apa adanya, hingga ada apanya. Mulai dari yang jujur apa yang ia rasa, sampai dengan teknik berbohong sederhana. Malah terkadang tak sedikit teknik berbohongnya kelewatan. Misalnya saja dengan mengaku sering langganan di akun instagram tertentu, ada pula yang ngaku pasangannya sering membeli barang lewat akun instagram tertentu. Sedangkan pada kenyatannya justru berkebalikan dimana pada instastori selanjutnya terlihat ia sedang pamer berbelanja barang sejenis di salah satu mall, hingga opini bias tanpa sumber yang menyebutkan banyak testimoni yang merasa puas.

Aksi dengan menggunakan trik berbohong pun tak sedikit pula yang “tidak rapih” dilakukan. Misalnya saja sebuah brand penumbuh rambut, dimana dalam gambr before (model pemeran) berambut gundul alus, lantas di gambar after penggunaan menggunakan produk tersebut langsung bluss lebat lah rambut sang pemeran seperti lebatnya bulu ketiak yang tak pernah dicukur. Yang mengherankan model before kulitnya agak putih dengan hidung yang tidak begitu mancung, sedangkan model after memiliki kulit agak gelap dengan hidung yang mancung. Ahh sudahlah barangkali itu cuma efek lighting yang canggih. Yah tipis amat perbedaannya setipis tali kutang 🙂

Dalam model iklan konvensional penyusupan pesan ajakan mungkin lebih halus menarget pada para konsumen. Para konsultan pembuat iklan banyak ditemukan menggunakan teknik subliminalitas Freudian dimana menurut Erdelyi & Zizak dalam buku The psychology of Entertainment Media; Blurring the Lines Between Entertainment and Pesuasion (2004) karangan L.J.Shrum (ed). Teknik subliminal Freudian ini merupakan teknik yang paling elemental dari psikoanalisis dimana ia dilukiskan Freud sebagai pembeda antara muatan manifest (struktur semantik permukaan; teks) dan muatan laten (struktur semantik tak sadar; subteks). Artinya teknik ini menggunakan metode komunikasi tersamar yang dimuat dalam berbagai simbol-simbol yang secara nyata tidak ada sangkut paut dengan hal yang hendak di iklankan. Namun secara makna terdapat unsur ajakan untuk menggunakannya.

Metode konvensional tersebut nyatanya memang masih ampuh untuk digunakan, namun ada cost yang sangat tinggi yang harus di keluarkan untuk menyewa para konsultan hingga artis yang berbandrol belasan hingga ratusan juta rupiah. Akan tetapi seiring dengan perkembangan media sosial di era millenium dengan pengguna media sosial yang begitu besar, corong periklanan pun mulai melirik para influencer media sosial, terutama selebgram yang tak semahal artis layar kaca.

Jalan Panjang Selebgram

Cita-cita untuk mendapatkan followers sebagai wujud kapitalisasi aset dan peluang membuat mereka melakukan beragam hal untuk membentuk sebuah image, palsu yang terkadang tidak nyata. Memamerkan kemewahan dalam bentuk posting engel makanan di sebuah restoran mewah, jalan-jalan, selfie di dalam mobil, hingga pamer foto bergairah pun tak sungkan untuk dilakukan demi meraih 25 ribu followers untuk mendapatkan predikat sebagai selebgram.

Setelah menjadi selebgram pun mereka harus menjaga image yang telah mereka bangun. Sampai disini tentu saja jalan terbaik yang dilakukan adalah dengan berbohong. Entah berbohong secara nyata, hingga tak kasat mata lewat penguatan citra image fana di dunia instagram.

Menjadi selebgram merupakan sebuah impian yang mulai timbul dalam benak para anak generasi millennial dan gen z saat ini. Para selebgram berhasil memukau para pengguna media sosial menggantikan para artis yang muncul di layar kaca.

Namanya juga ngefans, tentu saja tingkah laku baik maupun buruk terancam mencemari pula perilaku generasi zaman now. Jika di biarkan dan di abaikan pola berbohong ini akan kian di anggap sebagai suatu hal yang biasa dan akhirnya membudaya.

Berpacu dengan kreatifitas dan mendorong kemandirian merupakan hal baik yang perlu dilakukan sebagai upaya kemandirian bangsa. Namun ada hal-hal terkait dengan kejujuran seyogyanya menjadi pengiring ditengah zaman yang kian hari kian mudahnya menyebar informasi hox hingga iklan yang cendrung berlebih-lebihan maupun dilebih-lebihkan.

Untuk itu langkah terbaik yang seharusnya dilakukan adalah pencegahan sejak dini. Beri anak pengertian saat ia sedang bermedia sosial khususnya saat anak tengah melihat selebgram idolanya. Untuk orang tua teliti aktivitas selebgram yang menjadi diikuti anak guna melihat kecendrungan yang ditampilkan oleh para selebgram di media sosial. Dengan begitu kita bisa dengan sigap untuk menghindarkan anak untuk  meniru hal-hal yang tidak baik.

Dan yang lebih penting juga adalah para ibu-ibu yang gemar memposisikan anaknya seolah-olah bak selebgram dimana aktivitasnya selalu disorot dan diunggah, akan lebih baik untuk menghindarinya. Agar sang anak di masa yang akan datang mampu menjaga batasan antara umum dan privasi hingga paham dimana ia harus bersikap secara jujur apa adanya dimana saja.

Muhamad Fadhol Tamimy

Penulis adalah co-funder psikoma.com, pemerhati perilaku media sosial sekaligus penulis buku Sharing-mu, Personal Branding-mu