Bencana Inovasi Media Sosial dan Realita Kesehatan Mental

Bencana Inovasi Media Sosial dan Realita Kesehatan Mental

March 20, 2017 Off By admin

Bencana Inovasi Media Sosial dan Realita Kesehatan MentalOpini

Oleh: Muhamad Fadhol Tamimy

Inovasi memang hal yang sangat urgent dalam persaingan sebuah bisnis. Barangsiapa yang mati dalam inovasi, maka bersiap-siaplah untuk menenggelamkan bisnis dan usaha yang Anda miliki. Tak terkecuali perlombaan menarik perhatian para pengguna media sosial saat ini. Dengan munculnya media sosial baru saat ini membuat para pemain lama gencar untuk mengeluarkan inovasi terbarukan bagi platform media sosial yang di besutnya.

Kita dahulu mengenal koprol, myspace, Friendster, dan chating msn yang begitu popular di era 1999-2004. Namun begitu muncul newbie yang saat itu masih belum begitu diperhitungkan bernama facebook, nama-naman tersebut seolah tak terdengar lagi kabarnya. Mungkin jikalaupun ada yang masih menggunakan, siap-siap saja anda bakalan di cap sebagai orang “jadul” begitulah candaan dikalangan milenial saat ini.

Kemunculan-kemunculan media sosial baru pasca facebook merajai daftar traffic pengguna pun coba dilakukan oleh twitter, yang dahulu bahkan digadang-gadang mampu mengungguli traksi para pengguna facebook. Namun apa hendak dikata, akhirnya twitter pun dikabarkan bangkrut, menyusul pengurangan karyawan besar-besaran yang dilakukannya, seperti dalam lansiran Bloomberg (25/10/2016).

Barangkali twitter tak setenar facebook yang memiliki berbagai macam fasilitas lengkap, mulai dari update status, posting foto, chat secara realtime kepada pengguna lain, hingga fasilitas doa  dan “jaminan masuk surga” di dalamnya. “Ketik Amin” agar masuk surga. Tak hanya masuk surga loh, penulis lihat di sana pun menyediakan fasilitas ancam-mengancam perihal “ketik mengetik” amin atau like and share, contohnya “Jangan putus di kamu, karena jika putus di kamu maka kamu akan mendapatkan bencana”.

Terkadang penulis jadi nyengir-nyengir bingung, ini bocah yang mosting sehat? Kok tiba-tiba dengan bermodal facebook dan quota yang dibelikan emak dapat memvonis seseorang masuk-tidaknya seseorang ke dalam surga. Ini masa depan seseorang nakk. Tobatlah dan insyaf, kurangi mengkhayal dan mendesak uang quota sama emak-bapak.

Inovasi yang diciptakan oleh para pengguna media sosial selain berbasis kemanfaatan terkadang juga di dasarkan pada habbit, atau behavior masyarakat saat ini. Hal tersebut dapat kita lihat dari fitur yang membantu penggunanya dalam meng-eksplore diri, yang getol gemar untuk menunjukkan gaya hidup pribadi di depan publik. Salah satunya adalah unggahan foto, dan tag lokasi yang telah di kunjungi.

Maka anda belum gaul jika belum melakukan caption lokasi, sembari menuliskan “otw” “at” di status saat melakukan traveling. Yah itu tidak mengapa, selama siapapun yang melihat tidak berprasangka atau memantik api kecemburuan sosial. Mau selfie sebelum makan di restoran mewah, selfie di dalam kendaraan premium, atau selfie sembari menggandeng “om-om” baru hingga om telolet om.

Inovasi selanjutnya pun hadir seiring dengan trend milenial yang lebih gemar menonton video (marketeers 7/12/2015). Fakta ini pun membuat platform instagram bergerak cerdas dengan membuat aplikasi yang di beri nama instagram story. Atau bahasa kekiniannya adalah Snapgram. Berdasarkan data yang dirilis oleh TechCrunch dalam marketeers hanya dalam kurun waktu dua bulan setelah peluncurannya instagram story  telah sukses menarik sebanyak 100 juta pengguna aktif di seluruh dunia. Hal tersebut pun akhirnya membuat facebook meluncurkan fitur serupa, berupa siaran live.

Munculnya siaran live facebook ini sejatinya memudahkan para pengguna untuk semakin real time dalam mengabadikan momen. Hal serua sama seperti siaran bigolive atau aplikasi serupa yang telah ada.

Namun apa hendak di kata akibat dari kreatifitas yang diluar batas, akhirnya fasilitas hasil inovasi setiap platform media sosial menjadikan para penggunanya rela melakukan apa saja demi mendapatkan ketenaran. Sebelumnya kita bisa melihat bagaimana kanal siaran bigo live marak menampilkann siaran-siaran penuh “gairah” demi mendapatkan banyaknya penonton yang muaranya adalah mendapatkan diamond.

Bencana Inovasi Media Sosial

Sebuah bencana ini pun berlanjut, setelah trend kontent foto, video porno hingga repost berita hoax, dan ujaran kebencian membanjiri media sosial, baru-baru ini muncul lagi fenomena yang tak kalah menggemparkan di jagat media sosial.

Aksi menggemparkan tersebut dilakukan oleh salah seorang pria yang melakukan siaran live BUNUH DIRI di facebook. Video itu pun akhirnya menjadi viral dan mendapatkan komentar beragam dari para netizen. Namun semuanya sepakat, mengatakan bahwa hal ini adalah tindakan yang membahayakan dan membuat bulu kuduk ngeri.

Sempat saya mengira, video curahan hati yang ditampilkan pria sebelum bunuh diri tersebut hanyalah sebuah ungkapan semata, namun saya terbelalak ketika aksi “sirkus” ala debus tersebut di teruskan secara nekat dengan mengaitkan leher pada seutas tali. Sungguh sangat “amazing” dalam artian negtif. Barangkali selevel kuda lumping atau master limbad pun memerlukan keterampilan khusus untuk melakukannya.

Yang menjadi berbahaya adalah, jika kegiatan mencurahkan keluh kesah yang di barengi dengan bunuh diri tersebut menjadi trend dikalangan “papah-mamah” emes bocah sd menjelang abg yang lagi di mabuk cinta. Karena belum begitu baiknya pola  berfikir secara rasional, akhirnya pada saat salah satu diantaranya putus cinta, demi mendapatkan perhatian dari orang disekitarnya, akhirnya berpotensi membuatmereka nekat melakukan hal yang serupa. Inilah yang saya maksud sebagai “bencana inovasi” media sosial.

Saat hal yang dianggap tabu di perlihatkan dan menjadi bahan perbincangan secara berulang, ia akan menjadi sebuah kelumrahan. Perlu untuk berbagai pihak mengamankan, agar jangan sampai terjadi lagi video atau kontent berbahaya apapun yang menjadi viral. Baik itu porno, homo, hoax, intimidasi, dan lain sebagainya.

Realita Kesehatan Mental

Jika dikaitkan dengan kesehatan mental, maka hal ini pun berbanding lurus dengan fenomena yang terjadi saat ini. Dimana aspek kesehatan mental masih menjadi problem bagi masyarakat indonesia. Perbandingan yang tidak seimbang diperparah dengan masih belum begitu aware nya layanan psikolog atau psikiater di berbagai daerah indonesia. Konotasi negative pun masih menjadi momok, dimana mereka yang mendatangi psikolog atau psikiater seringkali dianggap negative, seperti “sakit jiwa”, “orang gila” dan pandangan lainnya. Akhirnya banyak yang enggan untuk menggunakannya.

Tidak seimbangnya tenaga ahli psikolog dan psikiater ini terlihat dari rilis yang dikeluarkan oleh data riset kesehatan dasar pada tahun 2013 menyatakan bahwa perbandingan 1 orang psikolog dan psikiater harus melayani sekitar 30 ribu orang, dimana 1-2 orang dari 1000 orang di indonesia mengalami gangguan kesehatan mental. Meskipun data terakhir tersebut belum lagi diperbaharui oleh labdata.litbang.depkes namun hal tersebut cukup menjadi prioritas perhatian kita semua.

Peningkatan kualitas disertai kuantitas menjadi perlu untuk digalakan. Agar tenag-tenaga ahli di bidang kesehatan mental kian merata dan tersebar. Bukan bermaksud untuk memprofokasi antar profesi, namun cobalah pemerintah juga memperhatikan profesi psikolog sama seperti profesi dokter di manapun berada. Baik itu dari segi tunjangan dan fasilitas yang memadai, hingga beasiswa pendidikan teruntuk para mahasiswa yang hendak melanjutkan ke jenjang keprofesian seorang psikolog.

Begitu juga dengan sistem yang sekiranya perlu ditinjau dan diperbaiki bersama. Salah satu hal yang menjadi perhatian penulis adalah, sistem BPJS yang hanya mengcover ODS (Orang dengan Skizofrenia) dan itu pun harus meminta surat rujukan dahulu di puskesmas. Padahal jenis dari gangguan jiwa tidaklah satu dan sesederhana itu saja. Banyak sekali gangguan kesehatan mental atau bahkan gangguan kepribadian yang juga membutuhkan layanan kesehatan di dalamnya. namun BPJS tidak mengcovernya. Silahkan untuk diklarifikasi jika penulis salah informasi.

Pada satu kesempatan, penulis pernah mengajukan pertanyaan terkait “apakah berobat psikologi juga ditanggung bpjs?” kepada salah satu pejabat BPJS daerah provinsi Kalimantan timur. Bapak Ahmari semoga belau selalu diberikan kesehatan. Dan beliau pun memaparkan, bahwa hal yang spesifik pelayanan psikologi memang belum tercover. Dan menganggap hal ini sebagai sebuah trobosan yang akan di diskusikan lagi kepada teman-teman BPJS.

Saya turut bersyukur karenanya, dengan catatan kala hal ini dapat direalisasikan. Dan teman-teman psikoma pun sebenarnya terbuka jika pihak yang berwenang ingin mengadakan kerjasama terkait hal ini.

Dan akhir kata dari pembahasan ini, penulis berharap bahwa inovasi dan kesehatan mental turut serta menjadi aware bersama. Kita harus sadar bahwa, di era digital saat ini selain membawa sebuah manfaat, dibaliknya juga menyimpan dampak buruk yang amat dasyat jika diabaikan begitu saja. Karena ini menyangkut perilaku, moral, dan tentunya kesehatan mental bersama.

Melalui psikoma, semoga siapa saja dapat memberikan manfaat, gagasan, untuk bahu membahu mengkonter informasi negative yang cendrung destruktif. Dan melalui psikoma, semoga kita dapat mencerahkan, mencerdaskan, dan menyehatkan khususnya kesehatan mental kita semua. Penulis adalah Co-Founder Psikoma.com