Apakah Selfie merupakan Gangguan Jiwa?Fenomena selfie sudah begitu mendunia. Apakah Anda termasuk orang yang menyukai selfie? Apakah selfie merupakan gangguan jiwa?

Selfie diartikan sebagai foto diri yang ditunjukkan ke media sosial. Media sosial begitu penuh dengan gambar diri yang ditunjukkan. Kemudian, muncul pertanyaan, “Apakah selfie adalah gangguan kejiwaan?”

Rasanya terlalu cepat jika selfie disimpulkan sebagai gangguan jiwa. Selfie sering disebut sebagai narsis. Narsis atau narsisme merupakan keadaan mencintai diri sendiri. Jika berlebihan, maka disebut dengan gangguan narsisme. Menurut Psikoanalisis dari Sigmund Freud, manusia sehat harus mampu menghargai dirinya sendiri. Itu menunjukkan bahwa manusia juga butuh narsisme. Asal, tidak berlebihan dan merugikan banyak orang.

Lalu, selfie seperti apakah yang bisa disebut sebagai gangguan kejiwaan? Selfie yang bisa disebut sebagai gangguan jiwa adalah selfie yang dapat mengganggu kehidupan diri sendiri, seperti mengganggu aktivitas kerja, makan, belajar, dan lain sebagainya. Bahkan, pelaku bisa stres jika tidak melakukan selfie. Bila selfie sudah dianggap sebagai gangguan, untuk menyelesaikannya perlu dari akar dengan mengetahui alasan selfie.

Orang yang tidak menginginkan selfie pun bukan berarti tidak mengalami gangguan kejiwaan. Jika tidak ada rasa cinta pada dirinya sendiri, tentu ada yang bermasalah juga dengan kejiwaannya. Narsisme adalah hal yang wajar, bawaan sejak lahir. Di sisi lain, narsis mempunyai manfaat supaya tidak menggantungkan diri berlebihan pada orang lain.

Lalu, mengapa seseorang melakukan selfie? Banyak alasan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ada seseorang selfie karena ingin menunjukkan eksistensinya. Dalam rangka branding untuk bisnis yang sedang dijalaninya pun, seorang pebisnis juga perlu selfie. Ada juga seseorang yang ingin mendapat pengakuan “perempuan cantik” misalnya atau sekadar ingin membuat sensasi, membuat cemburu barangkali. Banyak sekali alasan seseorang melakukan selfie. Jika sudah berlebihan, pelaku selfie bisa saja menyebarkan foto-foto bagian yang seharusnya tertutup.

Selfie merupakan bentuk penggambaran diri. Oleh karena itu, kita perlu mengontrol gambar-gambar apa saja yang patut diedarkan. Hal itu perlu diperhatikan karena selfie merupakan bagian dari reputasi kita. Jika tidak ingin mendapat komentar negatif, maka di sinilah tugas kita mengontrol pengedaran gambar selfie supaya tidak menimbulkan komentar negatif.

Pernah ada berita yang menyebutkan remaja usia 19 tahun bunuh diri karena foto selfie-nya dianggap tidak sempurna. Dapat dimungkinkan remaja tersebut mengalami gangguan kejiwaan.

Setelah membaca artikel ini, pastikan Anda bukanlah pelaku selfie yang mengalami gangguan kejiwaan. Jika Anda mulai merasa ada tanda-tanda dan masih bisa diperbaiki, maka perbaiki dari sekarang mulai dari menetapkan tujuan atas selfie Anda. Anda sendirilah yang bisa mengontrol kejiwaan Anda.

By: Ade Rakhma