Apa Itu Parasocial Interaction?Saat ini, media terutama televisi sudah menjadi salah satu hal umum yang biasa digunakan oleh berbagai kalangan masyarakat. Televisi banyak menayangkan acara – acara menarik, dan menghibur. Dalam pemahaman mengenai komunikasi, televisi dianggap sebagai alat komunikasi satu arah, dimana penonton hanya bisa melihat informasi yang diberikan, tanpa bisa memberikan timbal balik atau feedback apapun. Dengan dasar tersebut, maka muncullah suatu istilah bernama parasocial interaction. Apa itu parasocial interaction, dan seperti apa contoh dari parasocial interaction? Simak penjelasannya di bawah ini.

Apa Itu Parasocial Interaction?

Parasocial Interaction sebenarnya adalah sebuah pengembangan dari komunikasi satu arah, seperti yang ada pada televisi dan alat komunikasi satu arah lainnya. Namun berbeda dengan komunikasi satu arah biasa, Parasocial Interaction atau PSI ini memungkinkan penonton televisi dapat menjalin interaksi semu dengan media komunikasi satu arah seperti misalnya televisi.

Parasocial Interaction banyak muncul pada acara – acara televisi yang “mengajak” penontonnya untuk saling berkomunikasi, seperti misalnya talk show, acara berita, kuis, film, dan sebagainya. Biasanya, dalam sebuah acara televisi, terdapat percakapan atau kalimat, dimana tokoh di dalam acara tersebut seolah mengajak penonton berkomunikasi, dan penonton pun akan merasa seolah diajak mengobrol dengan tokoh di dalam film tersebut. Komunikasi atau interaksi inilah yang dikenal dengan nama Parasocial Interaction. Jadi, komunikasi atau yang terjalin adalah bersifat semu, dimana seolah – olah, para penonton berkomunikasi dan berinteraksi langsung dengan tokoh di dalam acara televisi tersebut.

 Pengaruh PSI Terhadap Pemilihan Acara Televisi

Setelah pada tahun 1956 dikonsepkan oleh Horton dan Whol, penelitian dan perkembangan mengenai PSI atau Parasocial Interaction ini semakin berkembang. Salah satunya dan juga studi mengenai bagaimana PSI mampu mempengaruhi pemirsa atau penonton televisi dalam memilih acara kesukaannya. Klimmt (2006) mengatakan bahwa PSI bisa membantu penonton dalam memilih konten media yang cocok dengan mereka, level konsumsi media, dan juga memunculkan efek tertentu secara nyata. Dapat disimpulkan, bahwa PSI atau parasocial interaction bisa memberikan dampak secara nyata bagi penontonnya di dalam kehidupan nyata.

Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Sood dan Rogers (2000) yang mengatakan bahwa pemilihan dari acara opera sabun, dapat mempengaruhi reaksi interpersonal penontonnya, dialog, dan juga dapat menyebabkan perubahan perilaku. Lebih dari itu, PSI juga mampu untuk mempengaruhi identitas dari penonton, dan juga dapat membentuk konstruksi sosial di dalam kehidupan nyata. Bahkan, penelitian yang dilakukan oleh Tian dan Hoffner (2007) menyebutkan bahwa parasocial interaction sanggup membuat penontonnya mengubah penampilannya, kepribadian, nilai dan norma, serta gaya hidup yang dilihat dalam karakter fiksional dalam sebuah drama.

Banyak hasil penelitian yang membuktikan bahwa parasocial interaction, terutama yang terbentuk dari interaksi antara para penonton dengan acara televisi bisa memberikan banyak pengaruh, mulai dari pengaruh kecil, hingga pengaruh yang besar, seperti salah satunya dapat mengubah perilaku dan kepribadian seseorang. itulah penjelasan mengenai apa itu parasocial interaction, dan bagaimana parasocial interaction bisa memberikan pengaruh serta dampak bagi kehidupan kita sehari – hari. Semoga informasi ini bermanfaat untuk anda.

Konsep Parasocial Interaction Dalam film. Dalam tayangan dan juga acara televisi, ada banyak sekali figur yang digunakan, dan menjadi ciri khas dari acara tersebut. Hal ini dilakukan untuk mendukung konsep mengenai PSI atau parasocial interaction yang terbentuk antara penonton dengan acara televisi yang tayang tersebut. Nah, diketahui ternyata ada beberapa klasifikasi dari figure-figur media yang digunakan di berbagai acara film dan dan juga televisi tersebut.

Berikut ini adalah klasifikasinya Konsep Parasocial Interaction Dalam film

Animated Vs Live Action

Figur yang digunakan dalam acara televisi dan film seringkali menggunakan animasi ataupun live action. Figur dengan klasifikasi live action lebih banyak dinilai sebagai figur yang lebih otentik dan juga asli dibandingkan dengan figur animasi yang cenderung bersifat khayalan dan juga imajinasi. Live action diperankan oleh karakter manusia(bukan kartun), sedangkan untuk animated tentu saja diperankan oleh tokoh yang sengaja dibuat sebagai bentuk animasi seperti kartun.

Fiction Vs Non-Fiction

Klasifikasi figur media yang digunakan di berbagai film ataupun acara televisi yang lainnya yaitu figur fiksi dan juga non-fiksi. Kebanyakan dari figure  fiksi tersebut dinilai kurang otentik dibandingkan dengan figure-figur non-fiksi. Hal ini disebabkan oleh karena figur fiksi tersebut banyak mengandalkan situasi-situasi yang berbasis fantasi, dan bukan didasari oleh kejadian atau realitas nyata.

Acara talkshow yang banyak tayang ditelevisi bisa dikategorikan sebaga acara-acara yang masuk ke dalam kategori figur non fiksi. Seperti misalnya acara Oprah Winfrey dan sebagainya.

Human Vs Non-human

Figur nonhuman yang digunakan dalam acara televisi dan film, bisa dalam bentuk binatang dan juga hewan, objek yang sifatnya inanimate, seperti misalnya bunga, robot, dan lain sebagainya. Sosok superhero dan tokoh kartun, seperti Spongebob, Keledai di Film Shrek, dan sebagainya dikategorikan sebagai figur yang masuk ke dalam klasifikasi non-human.

Sedangkan untuk figur dengan klasifikasi human, anda pasti tentunya sudah bisa memahaminya. Setiap figur atau karakter yang berbentuk manusia, dan juga memiliki perilaku ataupun sifat-sifat yang sama dengan sifat manusia adalah figur atau karakter yang masuk ke dalam kategori human.

Super Vs Normal

Hal terakhir yang menjadi klasifikasi dari figur yang biasa muncul atau digunakan dalam acara televisi dan juga film adalah aspek kemampuannya. Terdapat dua kemampuan yang sering ditampilkan dalam sebuah acara televisi dan juga film. Keduanya adalah kemampuan super dan kemampuan biasa.

Super trait atau kemampuan super banyak ditampilkan dalam film-film yang bertemakan superhero dan juga bergenre aksi dan juga fantasi. Manusia super, manusia yang kebal, manusia yang bisa berubah bentuk, adalah beberapa ciri dari klasifikasi kemampuan super yang muncul dalam acara televisi.

Sedangkan untuk normal trait atau kemampuan normal, biasanya banyak muncul dalam film ringan, seperti drama, ataupun film yang tidak bersifat fantasi atau fiksi. Peran sebagai manusia biasa, dengan kemampuan yang tidak super adalah ciri dari figur atau karakter yang masuk ke dalam klasifikasi normal traits.

Tentunya, klasifikasi yang dibuat tersebut bukanlah tanpa alasan, Klasifikasi yang diungkapkan dalam penelitian Mina Tsay-Vogel dan Mitcahel L.Schawrtz dalam jurnal yang berjudul Theorizing Parasocial Interactions Based on Authenticity: The Development of a Media Figure Classification Scheme ini sangatlah berkaitan erat dengan keotentikan suatu figur atau karakter di dalam sebuah film atau acara televise.

Hal itulah yang sekiranya dapat menjadi sebuah pertimbangan bagi para pembuat filem untuk mengembangkan film baru. Dengan mempertimbangkan klasifikasi tersebut, para sutradara dapat mengembangkan sebuah proyek film yang mampu menarik perhatian penonton, dan dapat membangkitkan PSI atau parasocial interaction antara penonton dengan acara televisi tersebut.

Itulah beberapa hal yang dapat kita ketahui tentang Konsep Parasocial Interaction Dalam film. Semoga dapat menambah cakrawala anda tentang dunia psikologi yang di padukan dengan filem.: Eduardus Pambudi