Antara Harapan dan Ketakutan

Kontribusi Pembaca

Jika saja…

Kalau saja…

Umpamanya…

Seandainya…

Andaikata…

Apakah kata-kata di atas pernah kita ucapkan, atau setidaknya terbersit dalam pikiran kita namun tidak sampai terkatakan? Tahukan bahwa ungkapan-ungkapan tersebut dapat dikelompokkan sebagai sebuah pengharapan. Ketika seseorang, dua orang, sekelompok, ataupun, seluruh manusia tentu memiliki keinginan pula, untuk mencari bagaimana caranya memuaskan sebuah harapan. Terkadang rasa takut dan harap tersebut muncul mengiringi harapan yang tak dapat tergapai.

Apa sebenarnya harapan itu? mengapa kemudian selalu diiringi kata takut seperti “ketakutan akan sebuah harapan, harapan akan sebuah ketakutan”. Jika itu terasa positif untuk memotivasi diri misalnya, maka rasa itu harus terus dipelihara. Namun apabila rasa itu justru mengganggu, bagaimana kita dapat menghilangkan kata ketakutan dan harapan dalam kamus hidup manusia?

Kata takut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan bencana. Sedangkan kata harap, harapan, berharap, mengharapkan, pengharapan, berpengharapan; di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat disimpulkan berkeinginan supaya terjadi. Kedua kata ini memiliki sifat bertolak-belakang, terikat hukum kausa, sebab-akibat, malam-siang, dan lain sebagainya. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai kaidah pasangan, bila kita telaah lebih jauh lagi akan menjadi konsep harmoni dalam substansi seluruh makhluk.

Apa yang anda bayangkan ketika mendengar dua kondisi berikut: Pertama, saat menginginkan sesuatu maka dengan berpikir tentang hal itu dan kebahagiaan yang didapatkannya, maka seseorang memiliki harapan untuk mendapatkan sesuatu tersebut. Kedua, saat kita menginginkan sesuatu, yang mana biasanya tak sedikit orang yang menyertainya dengan berpikir tentang kejadian buruk yang akan menimpa bila tidak mendapatkannya. Jika dilihat dari hasil, ke-dua hal tersebut sama bukan? Dan memang pada dasarnya disaat menginginkan sesuatu, kita memiliki kecendrungan untuk berharap kebahagiaan dan takut akan kehilangan.

Misalnya, saat menginginkan masuk perguruan tinggi atau perusahaan yang diidamkan, maka harapan yang dibangun adalah peluang yang lebih besar dan kebanggaan keluarga sedang ketakutannya adalah citra bahwa dirinya tidak mampu.

Anthony Robbins (Mulia, 2009: 183) melakukan penelitian terhadap harapan (hope) dan ketakutan (Fearness) sebagai daya yang mendorong manusia melakukan sesuatu. Ternyata, faktor ketakutan lebih tinggi tingkat pencapaiannya (anchievement). Misalnya, pada suatu malam seseorang harus mencari uang untuk dapat membayar sekolah esok hari. Maka membayangkan kebahagiaan dan masa depan yang akan dicapai anaknya dengan sekolah itu adalah pendorong utama pencarian uang dalam semalam. Pada kasus yang sama, pendorong utama mencari uang adalah karena ketakutan jika anaknya tidak dapat bersekolah maka hilanglah masa depannya. Di antara dua tipe pendorong tersebut, manusia lebih efektif bila terdorong oleh tipe kedua yaitu karena ketakutan. Membayangkan ketakutan-ketakutan, hal-hal negatif yang akan didapatkan bila tidak mencapai sesuatu keinginan tersebut, maka semangat mencapainya akan lebih besar. Bila dikaitkan dengan budaya, apa yang dikatakan Robbins mungkin terlihat sangat Barat karena budaya Timur cenderung mengajarkan bahwa berpikir positif atau membayangkan hal-hal positif itu lebih baik daripada berpikir yang negatif atau kemungkinan buruk.

Jadi, sebenarnya antara harapan dan ketakutan seperti sepasang sayap yang sama-sama digunakan untuk meraih sesuatu. Keduanya dapat digunakan. Tidak perlu menggunakan kata Antara. Tetapi Harapan dan Ketakutan, serta tidak perlu anti memanfaatkan keduanya. Karena bisa jadi dengan memakai dua sayap utuh, terbang pun akan semakin tinggi dan tinggi. Bahwa takut dan harap dapat menjadi sebuah kekuatan sekaligus kelemahan. Keduanya menuntun kita pada satu tujuan, mereka berjalan beriringan dan boleh jadi saling mendahului namun tidak pernah berhenti dan tetap dalam paduan yang harmonis dalam hidup dan kehidupan manusia.

 

“Karena terkadang manusia tak perlu menunggu badai berlalu namun yang perlu adalah merangkaki waktu untuk belajar menari di bawah hujan dengan memeluk erat semua ketakutan akan harapan dan harapan akan ketakutan”(Marni Azka)

 

Sumber: Mulis, S. 2009. Menerjang Rasa Takut: Mengatasi Sumber Ketakutan Selamanya. Bandung: Pustaka Hidayah.

 

Antara Harapan dan Ketakutan

Penulis dengan nama pena Marni Azka lahir di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur tepat pada tanggal 22 November 1992. Menyukai dunia literasi sejak SD, namun mulai menggeluti dunia literasi tepat pada tahun 2015. Penulis dapat dihubungi melalui akun facebook marni_ajjah@yahoo.com atau email marniazka22@gmail.com. Saat ini penulis aktif sebagai mahasiswi Psikologi Universitas Mulawarman Samarinda. Prestasi menulis, Kontributor cerpen event Menjadi Wanita Paling Bahagia penerbit Asrifa (2015), Kontributor cerpen event  Karena Aku Berbeda penerbit Pena Indis (2015), Kontributor cerpen event Man Jadda wa Jadda Penerbit El-Nisa (2015), Kontributor event Mimpi Penerbit Aria Mandiri, Kontributor cerpen event Flash True Story Nasional Penerbit Ar-Rahman (2016), Kontributor Puisi event Rindu Penerbit Deza Publisher (2016), Kontributor cerpen event Rasa Dalam Secangkir Kopi Penerbit Mawar Publisher (2016), Kontributor Puisi event Diary Ramadhan Penerbit Nerin Publisher (2016), Kontributor Puisi event Bebas Penerbit True Rhyme Indonesi Legion (2016), Kontributor cerpen event Mimpi Penerbit Perahu Litera (2016), Juara 3 Puisi event Kado Pernikahan (2016) dan Penulis Novel Lauh Mahfudz Penerbit Vio Publisher.