Anak Anda Sering Tantrum? Ini Dia Tips Menangani Anak TantrumTips Menangani anak tantrum – Anak balita pada umumnya rentan mengalami tantrum apabila menghadapi situasi yang tidak diinginkan atau tidak menyenangkan. Apakah yang dimaksud dengan Tantrum dan bagaimana cara mengatasinya? Berikut beberapa ulasan dan tips mengatasi tantrum.

Apakah Temper Tantrum itu?

Temper tantrum atau yang biasa dikenal dengan sebutan Tantrum adalah suatu letupan emosi yang tampak dalam bentuk perilaku agresif dan tidak terkendali. Pada umumnya dialami oleh anak usia balita, terutama terjadi antara usia 2 hingga 4 tahun. Tantrum terjadi apabila anak  tidak mendapatkan keinginannya, maka akan timbul perlawanan anak secara agresif seperti meraung-raung, memukul, menendang, memaki, menggigit, menjerit, bahkan dibeberapa kejadian anak bisa menyakiti diri sendiri.

Letupan emosi tersebut dapat juga disebabkan beberapa hal seperti gangguan bermain, tidak konsistennya dalam aturan disiplin, orangtua yang terlalu banyak mengkritik anak, terlalu protektif atau bahkan lalai, anak mengalami gangguan komunikasi atau berbicara, sering sakit-sakitan, atau karena anak sedang kelaparan dan kelelahan.

Bagaimana cara yang efektif untuk mengatasi anak tantrum?

Berdasarkan teori, tantrum terjadi selama 2 menit dan dapat mereda dengan sendirinya seiring kemampuan verbal dan kontrol fisik anak yang membaik. Akan tetapi, mengatasi tantrum tak bisa sembarangan. Orangtua harus dapat membantu anak untuk mengelola emosi dan mengontrol diri.  Jika orangtua menganggap tantrum hanyalah suatu fase biasa yang dapat dilalui anak seorang diri dan bahkan menuruti setiap tuntutan anak, maka dampaknya anak akan tumbuh menjadi sosok yang egois dan  bossy. Berikut ini adalah 5 tips menangani anak tantrum:

  1. Kenali Alasan Kemarahan Anak

Anak cenderung mudah mengamuk atau marah karena orangtua salah mempersepsikan maksud anak. Pelajarilah penyebab anak menjadi emosional walaupun mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama selama beberapa minggu, tidak cukup sehari atau dua hari saja. Catatlah apa penyebab anak menjadi marah, kapan terjadi, seberapa sering, anak sedang sakit atau kelelahan, dan lain sebagainya. Lebih mudah menghindari penyebab tantrum dibanding menghadapi tantrumnya.

  1. Alihkan Perhatian Anak

Orangtua dapat mengalihkan perhatian anak ke suatu hal yang menarik perhatiannya baik itu permainan atau ajak anak untuk melakukan kegiatan seru seperti bereksperimen dengan bahan masakan di rumah. Hal yang lebih penting untuk orangtua adalah mengetahui hal-hal yang disukai anaknya dan ini merupakan pengetahuan dasar yang wajib dimiliki para orangtua.

  1. Jangan Memukul Anak

Bila anak bertindak destruktif, jangan sesekali orangtua dengan mudah memukul atau langsung membentak anak karena hal tersebut dapat membuat anak semakin emosi. Tenangkan anak dengan pelukan dan jelaskan dengan lemah lembut kepadanya alasan orangtua mengapa tidak dapat menuruti keinginannya.

  1. Jangan Menyerah dengan Anak

Ketika anak mulai menunjukkan sikap tidak kooperatif dalam suatu kondisi, seperti mulai merengek, berteriak atau bahkan memukul, orangtua jangan sampai terpengaruh dan langsung menuruti kemauan anak karena hal tersebut dapat semakin menstimulasi anak untuk mengulangi tindakannya. Abaikan tangis atau rengekannya dengan tetap melakukan pekerjaan anda atau mencari kegiatan lain karna apabila anak menyadari orangtua tidak terpengaruh dengan sikap tersebut, maka anak akan segera menghentikan tindakannya.

  1. Berikan Apresiasi

Berikan penghargaan atau apresiasi jika anak telah selesai tantrum. Katakan kepada anak bahwa dia terlihat sangat baik dan menyenangkan jika berperilaku sopan dan mendengarkan penjelasan orangtua dengan sikap baik. Ajarkan kepada anak untuk menyampaikan maksud dengan baik kepada orangtua seperti menggunakan kata “tolong” apabila anak meminta bantuan atau sesuatu.

Itulah beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai tips menangani anak tantrum. Langkah di atas akan semakin sempurna dilakukan saat orang tua menangani dengan keikhlasan, kasih sayang, konsistensi dan sabar. Oleh sebab itu semoga kita semua menjadi orang tua yang dapat menjadi contoh terbaik bagi sang anak. Karena anak adalah titipan yang harus kita jaga dan didik demi kebermanfaatan kedepan. By: Nur Tsuraya