Alasan ‘Kenapa kamu suka ikut-ikutan’ temanAlasan Ikut-ikutan teman – Ketika di beri pilihan untuk pergi ke tempat yang asik, kamu menjawab ‘terserah sama kamu’. Atau saat kamu di tanya mau makan apa, beberapa orang cenderung menjawab ‘aku ngikut aja’ seperti itu. Beberapa contoh serupa adalah ketika berada di lingkungan orang – orang yang gaul, anda suka untuk berpenampilan menyesuaikan mereka.

Alasan Ikutan Teman

Tak jarang mereka pun akhirnya justur “terpaksa” ikut dengan teman anda, meskipun sebenarnya mereka tidak menginginkannya. Pernah mengalaminya kan?

Bahkan ketika anda hanya memiliki buget sedikit, namun lingkungan dan teman – teman anda memiliki smartphone. Pasti anda akan cenderung juga ingin membeli smartphone yang serupa. Meskipun harus bekerja mati – matian untuk mendapatkan ‘barang yang sama’. Ini akan menjadi hal yang lumrah dan biasa di lakukan. Kerap terjadi pada perempuan. Apakah anda juga seperti itu ?

Konformitas : Demi menjaga harmoni kelompok

Banyak orang yang rela mengupayakan banyak hal untuk mendapatkan pengakuan sama daripada teman. Agar terlihat sama dan serupa, rela melakukan banyak hal. Mereka yakin bahwa dengan menggunakan ‘barang yang sama’ atau ‘melakukan suatu hal yang serupa’ akan mendapatkan kesetaraan sosial di antara mereka semuanya. Ini menjadi lumrah di lakukan dalam suatu kelompok.

Dalam psikologi, menyebut hal ini sebagai istilah konformitas. Maksudnya adalah anda berusaha membuat diri anda agar terlihat sama di hadapan orang lain yang ada dalam kelompok. Tujuannya agar memiliki status sosial yang sama dan bisa di anggap di dalam kelompok. Dengan memiliki, menggunakan, sampai berkeyakinan sama akan meningkatkan harga diri dalam kelompok.

Itulah mengapa orang cenderung mempertahankan diri agar terlihat konform atau serupa dalam kelompok. Upaya mereka bekerja seperti itu adalah untuk mempertahankan harmoni dengan anggota. Semakin anda patuh untuk mengikuti aturan dan penampilan sesuai dengan kelompok, semakin tinggi pula jiwa anda mempertahankan harmoni tersebut.

Fenomena groupthink dalam sosial

Di kenal dengan istilah groupthink atau pola pikiran kelompok. Ketika dalam satu kelompok menganggap A adalah hal benar, selamanya ia menganggap pikiran B, C, dan D salah. Misalnya dalam kelompok orang – orang hetero seksual menganggap bahwa homo seksual adalah bentuk dari penyimpangan. Maka dari awal sampai selamanya nanti pikiran orang hetero seksual menganggap bahwa homo seksual adalah sesuatu yang tidak lazim.

Sama halnya dengan orang – orang homo seksual. Mereka menganggap bahwa homo seksual adalah sesuatu yang biasa, sebab lingkungannya banyak yang homo seksual. Maka dari sekarang sampai nanti pun juga menganggap bahwa homo seksual adalah sesuatu yang lumrah dan bisa di maklumi.

Pikiran groupthink ini memiliki kaitan erat dengan efek konformitas. Seseorang yang berada di dalam kelompok, ia akan berusaha mengikuti aturan yang ada dalam kelompok. Jika dalam kelompok mereka adalah orang – orang yang memiliki tas branded, maka anggota yang lain akan berusaha menyamainya.

Lantas, setelah memiliki ‘barang yang sama’ setiap orang akan merasa bahwa dirinya sudah menjaga harmoni dalam kelompok. Harga diri setiap orang akan naik. Lalu muncul pikiran kelompok atau groupthink yang sama idealis pada setiap orang. Dalam kasus kelompok tas branded tadi, anggota kelompok menganggap bahwa orang – orang yang tidak menggunakan tas branded bukanlah kelompk yang sama. Bisa jadi mereka menganggap orang lain lebih rendah statusnya.

Efek dari fenomena ‘ikut-ikutan’

Dampak terbesar dari seseorang yang terlibat dalam fenomena ‘ikut-ikutan’ yang lain ini sangat banyak dan besar. Bahkan bisa merubah pola pikir, nilai kehidupan sampai dengan keyakinan anda. Beberapa keputusan yang mungkin ‘menyimpang’ menjadi hal lumrah. Memang seperti apakah dampak dari fenomena ini ?

Mereka yang tergabung dalam kelompok yang membawa arus negatif, akan tergerus nilai – nilai positifnya dalam diri. Setiap hari, bahkan setiap jam mereka berfikir bagaimana menyamai anggota yang lain. Agar bisa di anggap dan di hargai pada komunitasnya. Masalahnya, tidak semua nilai yang di anut dalam kelompok ini di anggap positif oleh kelompok lain. Jika hanya pengaruh buruk yang ada, maka anda akan terjerat dalam arus negatif. Oleh sebab itu, berhati – hatilah dalam bergaul. By: Izzatur Rosyida


admin

Pencinta Psikologi, percandu kata, hidup Psikologi Indonesia