Kenapa anak suka berbicara sendiri saat bemain ?Kenapa Anak Suka Berbicara Sendiri – Apakah anda memiliki adik atau anak yang berusia 2 tahun ? Atau lebih besar sedikit dari itu. Biasanya ini terjadi pada anak perempuan. Mereka sering bercakap cakap atau berkomunikasi sendiri. Apalagi saat tangannya memegang mainan. Misalnya boneka, miniatur power ranger, mobil mobilan, dinosaurus atau yang lainnya. Mereka sering berbicara sendiri saat memainkannya.

Kenapa Anak Suka Berbicara Sendiri

Jika bukan adik atau anak anda, mungkin anda juga bisa melihat anak – anak lain yang sedang bermain. Dimana saat terkadang mereka terlihat berbicara sendiri saat sedang bermain sendirian. Rasanya mereka begitu asik sekali menikmati. Seperti sedang bermain dengan orang lain. Padahal lawan mainnya cuma boneka yang ada di tangannya.

Anda khawatir?

Tenang. Anak anda normal kok. Mereka sebenarnya tidak sedang mainan sendirian. Hanya saja mereka bermain dengan orang lain. Ya mereka sedang bermain dengan teman yang biasa mengajaknya bermain. Meskipun anda tidak bisa melihat, secara nyata dan jelas.

Siapakah teman bermain Sang Anak Tersebut?

Lantas, siapa dia ? Apakah ia adalah hantu ? Katanya anak kecil bisa melihat hantu ? Benarkah rumor tersebut ? Kadang kalau anak – anak menangis tanpa alasan saat berusia 1 tahun, ia sedang di goda hantu. Pernah juga anak sedang di nina bobokan di sekitar rumah yang sudah lama kosong. Bukannya tidur, namun anak malah menangis semakin keras.

Tapi apakah benar anak bisa melihat hantu ? Sewaktu masih kecil, anak selalu menangis tiap melihat hantu. Namun saat sudah besar, ia malah berteman dan bermain dengan hantu ? Seperti itukah anak – anak dan adik adik kita ?

Untuk lebih jelasnya, yuk mari ikuti pemaparan khas tim psikoma berikut ini

Anak memiliki teman imaginer

Bukan. Tentu saja bukan hantu atau setan yang menemani anak bermain. Meskipun ia sedang bermain sendiri dengan bonekanya, tampak asyik dan menyenangkan. Namun percayalah, bahwa ‘orang’ yang di ajaknya bermain tersebut bukanlah sosok hantu. Bukan pula sosok yang berbahaya untuk dirinya.

Lantas siapakah ia ?

Dalam psikologi, hal itu di sebut dengan teman anak yang ‘tidak nampak’ atau disebut dengan teman imaginer. Teman imajiner yakni teman yang sebenarnya ada dalam pikiran anak itu sendiri. Sehingga anak menganggapnya nyata di dalam bayangannya. Jadi seolah – olah ia memiliki sahabat dekat dengan anak tersebut. Setiap permainan yang di mainkan oleh sang anak, maka ia pun (teman imajiner) selalu mengikuti. Sebab teman imaginer adalah teman bentukan anak itu sendiri.

Ia di ciptakan ada dalam bayangan anak untuk mengatasi rasa kesepian anak. Pembentukan teman imaginer ini akan membuat anak merasa bahwa ia memiiliki teman yang menemaninya. Ia tidak pernah marah ataupun berkeluh kesah nya. Bahkan teman imaginer ini juga tidak pernah berbuat sesuatu yang melukai anak. Memang tugas dari teman imaginer adalah sebagai sosok yang baik untuk anak.

Ketika anak telah bersama orang lain, maka bayangan imaginer itu pun akan hilang dengan sendirinya. Hal ini hanyalah sebuah persepsi pada diri anak yang membutuhkan teman bermain. Dan perlu di catat bahwa, perilaku anak tersebut tidak membahayakan. Sepanjang teman imajiner tersebut tidak terbawa sampai pada saat ia sedang bersosialisasi di tengah umum.

Penulis sendiri pernah memiliki pengalaman mengenai hal ini. Kejadian serupa memang benar – benar terjadi pada adik terakhir penulis, yang saat ini telah berusia 3 tahun. Dahulu saat ia masih berusia 2 tahun, pernah mengatakan bahwa ia memiliki teman bernama ‘mbak Destya’. Teman tersebut biasa menemaninya saat ia sedang bermain pasaran (bermain menggunakan pasir, tanaman, dan batu yang di rangkai seperti penjual dan pembeli atau berperan sebagai ibu dan keluaraga) atau boneka – bonekaan.

Kenapa Anak Suka Berbicara Sendiri. Setiap kali adik bermain sendiri, ia mengatakan bahwa ia sedang bermain dengan mbak destya. Ketika penulis menanyakan, siapa teman main mu ? Adik selalu menjawab mbak destya. Namun ketika di tanya di mana rumah mbak destya, adik hanya menjawab ‘ya sana, jauh’ padahal beberapa teman lainnya rumahnya hanya beberapa petak dari rumah penulis. Setelah usia adik 3 tahun, penulis kembali menanyai ‘dimana mbak destya?’. Namun jawaban yang keluar malah, ‘aku tidak kenal mbak destya. Temenku ga ada yang namanya mbak destya’. Seperti itulah teman imaginer.

Itulah beberapa hal yang dapat kita ketahui sebab kenapa anak suka berbicara sendiri saat bermain. Ia bukanlah hal yang berbahaya, melainkan hal tersebut hanyalah sebuah bentuk perkembangan pola pikir sang anak dalam berkreatifitas membayangkan kondisi sosial tertentu. By: Izzatur Rosyida