Memahami Dampak Akibat Anak Disekolahkan Terlalu DiniAkibat Anak Disekolahkan Terlalu Dini. Sebagai orang tua, banyak di antara kita yang menganggap bahwa, jika anak di sekolahkan secara formal sedini mungkin, maka hal tersebut merupakan sebuah peristiwa yang membanggakan bagi dirinya. Bahkan tak jarang hal tersebut dijadikan sebagai ajang adu gengsi di antara para ibu-ibu komplek ketika sedang bergosip.

“eh jeng anak mu sudah sekolah apa belum?” “belum neng” “duh si panjul loh anak saya sudah sekolah sd dari umur 5 tahun”. Seketika di rumah sang ibu bertekad menyekolahkan anaknya yang masih berusia 4 tahun, yang masih imut lucu dan gemar bermain, untuk di masukan ke sekolah dasar. Mengkhawatirkan sekali ya bunda, apabila gara-gara gengsi memaksa anak untuk bersekolah formal.

Tak sedikit pula yang menganggap bahwa anak-anak yang di sekolahkan secara formal sedini mungkin, mempermudah mereka dalam menyerap setiap ilmu yang telah di ajarkan di sekolah. Anggapan itu pun tak sepenuhnya salah, namun tak sepenuhnya juga dikatakan benar.

Anggapan tersebut mungkin dapat dikatakan benar karena memang usia perkembangan anak khususnya usia dini adalah masa keemasannya dalam bertumbuh kembang. Pada fase tersebut anak memiliki kemampuan berkembang yang sangat pesat di bandingkan dengan fase usia pertumbuhan lain. Anak akan sangat sensitive dalam menrima segala informasi lingkungan sekitar dan pengaruh dari luar. Baca juga artikel kami yang berjudul Yuk

Akibat Anak Disekolahkan Terlalu Dini

Perkembangan tersebut berkaitan dengan perkembangan dari sisi berpikir, emosi, dan kecerdasan serta perkembangan motorik, maupun sosialnya.

Namun di sisi lain kemampuan anak secara mental belumlah matang secara sempurna yang mana hal tersebut berpotensi mengakibatkan anak akhirnya cepat jenuh dalam mengikuti proses belajar mengajar.

Mereka (orang tua) yang tak peka terhadap kondisi anak juga rentan membuat anak mengalami kondisi tertekan. Kondisi tertekan tersebut dikarenakan mereka (anak) harus menjalani proses belajar mengajar berbasis pendidikan formal yang cenderung menjemukan. Anak yang seharusnya bahagia dengan dunia bermainnya, akhirnya harus dihadapkan dengan pelajaran-pelajaran yang tak semuanya sesuai dengan umur perkembangannya.

Problem lain pun hadir dari rekan-rekannnya yang secara umur lebih dewasa dari usianya. Masalah tersebut dapat berupa kemampuan berinteraksi dengan dunia seusia rekannya, yang notabenenya berusia lebih dewasa dari dirinya. Jika anak tak mampu untuk mengikuti dunia dan pola pikir anak yang lebih dewasa, ditakutkan sang anak berpotensi untuk mengalami pengucilan atau bulliying dalam peer groupnya.

Dalam psikologi pengaruh dari peer group seorang anak akan lebih kuat di bandingkan dengan pengaruh lingkungannya, terlebih lagi jika hubungan orang tua dan anak memiliki kerenggangan.

Oleh karena itulah, sekiranya orang tua untuk bisa meninjau kembali keinginan menyekolahkan anak secepat mungkin dalam pendidikan formal. Karena dalam usia dini pendidikan terbaik adalah didikan orang tua.

Apabila dicitrakan dengan sebuah ketenaran seorang artis, maka anak yang di sekolahkan terlalu cepat sebelum usianya cukup mirip seorang artis karbitan dari ajang pencarian bakat atau artis musiaman yang fenomenal akibat sosial media. Ia akan cepat untuk melejit namun cepat pula untuk turun terprosok dan akhirnya hilang.

Diperlukan kesabaran bagi orang tua untuk mendidiknya terlebih dahulu di lingkungan keluarga. Ajarkan ia terlebih dahulu tentang nilai-nilai moral, sopan santun, dan akhlak yang baik dari keluarga, terutama orang tua yang menjadi role model utama anak. Karena basis utama dari pendidikan terbaik adalah menanamkannya sebuah karakter yang bermartabat.

Terkadang kita terlupa untuk memperhatikan akhlak, nilai moral dan sopan santun. Sebagian besar orang tua hanya terfokus pada pencapaian prestasi-prestasi yang bersifat keduniawian. Anak dituntut secara paksa mengikuti pola-pola pendidikan era kolonial yang harus pakem dengan pencapaian yang baku.

Akhirnya kreatifitas dan potensi anak yang dimiliki pun teredam dengan bentuk standar yang sudah dibakukan dan haram untuk dilakukan pembaharuan oleh anak didik. Maka jangan heran jika banyak dari generasi bangsa saat ini menjadi generasi yang intelektual namun sepi dengan kreatifitas yang membangun.

Selain itu kesadaran orang tua mengenai apa yang paling tepat bagi anak terkadang luput untuk dilakukan. Karena kefokusan perhatian orang tua sebagian besar melihat dari pencapaian nilai di atas kertas. Tak sedikit yang menyunat waktu bermain anak dengan waktu les ini itu yang menjemukan bukan kepalang bagi anak.

Pagi-pagi berangkat sekolah, pulang sekolah les bahasa, malam les matematika, sepulang les mengerjakan tugas sekolah dan begitu seterusnya. Lagi pula yang terpenting dari anak khususnya anak yang masih berada pada usia dini hanyalah mereka bisa bahagia dengan bermain. Sekolah seharusnya menjadi urusan nanti ketika anak tersebut memang sudah siap.

Takut jika anak tertinggal? Apakah benar anak merasakan hal yang sama? Yuk mari renungkan kembali pertanyaan tersebut. Ketakutan tersebut alangkah lebih baiknya di investasikan untuk berusaha keras mencintai dengan kasih sayang sebenar-benarnya, tanpa ada embel-embel gengsi dan harapan pada pencapaiann selembar kertas.

Mungkin benar jika anak belajar sambil bermain di sekolah adalah baik, namun hal itu bukan berarti harus menyekolahkannya di usia sangat dini. Umur 5 tahun merupakan masa-masa anak belum begitu memahami bagaimana itu cara bersosialisasi dengan baik. Akan sangat riskan jika memaksakannya untuk bersekolah pendidikan secara formal. Bisa jadi ia tak mampu untuk mengikuti aturan-aturan yang diterapkan oleh pihak sekolah. Dan jika dipaksakan, hal itu dikhawatirkan membuat anak merasa tertekan dan tidak nyaman di lingkungan sekolahnya.

Hal-hal lain yang akan berdampak, jika anak disekolahkan terlalu dini adalah potensi blast (Bored, Lonely, Afraid/ Angry, Stress, Tired) dan tentunya hal tersebut tidak baik bagi perkembangannya kelak.

Membuat anak menjadi cemerlang tak mesti harus di masukan ke dalam pendidikan formal sedini mungkin. Ketahuilah bahwa anak bukanlah miniature, atau benda mati yang dengan sesuka hati dapat kita perlakukan tanpa persetujuan sang anak. Ingatlah bahwa ia merupakan buah hati yang sudah sepatutnya untuk di dengarkan pendapatnya pula.

Karena kasih sayang adalah kasih yang tak mengekang dan menekan. Karena kasih adalah saling pengertian dan pemberian rasa aman dan nyaman yang di landasi cinta tulus ikhlas. By: Muhamad Fadhol Tamimy

Memahami dampak anak disekolahkan terlalu dini akan lebih baik jika kita sebagai para orang tua mengetahui rentang fase perkembangan sanga anak. Untuk itulah pentingnya memahami psikologi perkembangan setiap anak. Buku ini adalah buku yang sangat tepat jika digunakan dalam proses-proses memahami pengasuhan dan menentukan apakah anak tersebut siap disekolahkan atau tidak. Semoga kita menjadi orang tua yang mandiri dan berkasih sayang terhadap anak.

Untuk pemesanan dapat langsung ke PSIKOMA SHOP